Fakfak, majalahkribo.com – Umat Katolik di Tanah Papua memperingati 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua pada tahun 2026 melalui perayaan besar yang dipusatkan di Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi gereja Katolik di 5 keuskupan se-tanah Papua untuk memperkuat iman, pelayanan pastoral, serta solidaritas umat di seluruh wilayah Papua.
Sebagai bagian dari dukungan terhadap perayaan tersebut, masyarakat Fakfak melaksanakan tradisi Misi Katolik Maghi (Wewowo Misi Katolik Maghi), sebuah praktik budaya lokal yang menegaskan kembali identitas kearifan lokal sekaligus memperkuat semangat gotong royong umat lintas wilayah lima keuskupan di Tanah Papua.
Perayaan tahun ini juga memiliki makna khusus karena bertepatan dengan satu tahun tahbisan episkopal Uskup Timika, Bernardus Bofitwos Baru, OSA. Momen tersebut menjadi ruang refleksi bersama bagi Gereja Katolik di Tanah Papua dalam memperkuat pelayanan dan kebersamaan umat.
Maghi merupakan tradisi khas masyarakat Fakfak yang berakar pada nilai solidaritas sosial dan gotong royong. Dalam praktiknya, Maghi menjadi sarana pengumpulan sumbangan sukarela dari umat dan masyarakat, yang kemudian digunakan untuk mendukung kegiatan gereja, perayaan liturgi, serta pelayanan sosial.
Tradisi ini tumbuh dalam filosofi masyarakat Fakfak yang dikenal dengan sebutan “Satu Tungku Tiga Batu”, yaitu simbol harmoni kehidupan antarumat beragama Islam, Katolik, dan Protestan yang hidup berdampingan dalam satu ruang sosial yang saling menopang.
Melalui Maghi, masyarakat tidak hanya mengekspresikan iman, tetapi juga memperkuat jejaring sosial yang telah lama menjadi fondasi kehidupan di Fakfak.
Untuk mendukung perayaan Misi Katolik Maghi 132 Tahun, berbagai tokoh nasional dan daerah hadir dan ikuti memberikan dukungan mereka. Nampak terlihat Ketua Komite III DPD RI, Filep Wamafma, serta tokoh adat, pemuka agama, dan unsur masyarakat lintas etnis dan komunitas.
Dewan adat Mbaham Matta Fakfak menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni keagamaan, tetapi juga ruang kultural untuk memperkuat persaudaraan dan nilai solidaritas sosial.
Dalam sambutan adat disampaikan bahwa momentum Maghi merupakan panggilan bersama untuk memperkuat nilai kebaikan dan semangat berbagi di Tanah Papua.
Dalam kesempatan tersebut, Filep Wamafma menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan Misi Katolik Maghi yang dinilainya sebagai contoh nyata integrasi antara iman, budaya, dan pembangunan sosial.
Ia menegaskan pentingnya mengarahkan pembangunan sumber daya manusia di Papua melalui pendidikan yang berbasis nilai-nilai budaya lokal.
Ia juga mendorong agar nilai-nilai dalam tradisi Maghi dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan muatan lokal, sehingga generasi muda Papua tetap memiliki akar budaya yang kuat sekaligus mampu bersaing dalam perkembangan zaman.
Perayaan 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua menjadi simbol konsolidasi iman umat Katolik di wilayah Papua. Momentum ini juga menjadi refleksi perjalanan panjang misi Gereja Katolik sejak awal masuknya di Tanah Papua hingga berkembang menjadi jaringan pelayanan lintas keuskupan berbasis budaya lokal.
Fakfak kembali ditegaskan sebagai salah satu pusat penting kearifan lokal di Tanah Papua, di mana nilai toleransi, persaudaraan, dan gotong royong tetap hidup berdampingan dengan perkembangan kehidupan modern.
Partisipasi lintas agama terlihat kuat dalam rangkaian Misi Katolik Maghi, di mana umat Islam, Katolik, dan Protestan bersama-sama terlibat dalam kegiatan tersebut.
Keterlibatan ini mencerminkan filosofi hidup masyarakat Fakfak, “Satu Tungku Tiga Batu”, yang menegaskan bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk saling mendukung dalam kehidupan sosial dan budaya.
Dukungan lintas iman diwujudkan dalam bentuk gotong royong, bantuan logistik, serta kontribusi sukarela demi suksesnya perayaan 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua.
Dengan semangat kebersamaan tersebut, Misi Katolik Maghi tidak hanya menjadi perayaan iman umat Katolik, tetapi juga ruang bersama yang memperkuat harmoni sosial lintas agama di Tanah Papua serta mempertegas Fakfak sebagai simbol hidup toleransi yang diwariskan lintas generasi.