Fakfak, majalahkribo.com – Ketua Komite III DPD RI yang berasal dari daerah pemilihan provinsi Papua Barat, Filep Wamafma mengapresiasi kuatnya nilai budaya dan tradisi masyarakat Fakfak, Papua Barat, yang dinilai masih terjaga di tengah perkembangan zaman. Tradisi seperti Wewowo, Tombor Mag, hingga semangat gotong royong dalam pelaksanaan Misi Katolik Maghi disebut sebagai warisan budaya yang tidak hanya memiliki nilai adat, tetapi juga mengandung pesan persaudaraan, toleransi, dan solidaritas sosial yang tinggi.
Pernyataan itu disampaikan Filep Wamafma saat menghadiri kegiatan Misi Katolik Maghi di Fakfak pada Jumat, 8 Mei 2026, dalam rangka peringatan 132 Tahun Agama Katolik masuk di Tanah Papua. Menurutnya, masyarakat Fakfak berhasil mempertahankan budaya lokal yang hidup berdampingan dengan kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat modern.

Filep Wamafma, saat diwawancarai awak media di Fakfak – Foto: Ronaldo Josef Letsoin.
Ia menilai tradisi masyarakat Fakfak merupakan contoh nyata bagaimana budaya lokal dapat menjadi perekat hubungan antarumat beragama sekaligus memperkuat identitas masyarakat Papua. Karena itu, budaya-budaya tersebut dinilai penting untuk terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda.
“Budaya seperti Wewowo, Tombor Mag, dan semangat gotong royong masyarakat Fakfak adalah kekayaan daerah yang harus dijaga bersama. Ini bukan hanya budaya lokal, tetapi juga nilai kehidupan yang penting diwariskan kepada generasi muda,” ujarnya.
Filep bahkan mendorong pemerintah daerah dan instansi pendidikan agar budaya lokal Fakfak dapat dimasukkan ke dalam kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah. Menurutnya, langkah itu penting agar anak-anak di Fakfak mengenal identitas budaya mereka sejak dini serta memahami nilai kebersamaan, toleransi, dan gotong royong yang diwariskan leluhur.
Ia menilai semangat kebersamaan masyarakat Fakfak sangat luar biasa karena tidak hanya diterapkan dalam kegiatan adat, tetapi juga dalam aktivitas sosial dan keagamaan lintas umat beragama. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi kekuatan sosial yang jarang ditemukan di daerah lain.
“Kegiatan ini sangat luar biasa karena partisipasi masyarakat dilakukan secara bersama-sama. Semua pihak terlibat untuk mengumpulkan dana dan membantu pelaksanaan kegiatan keagamaan, bukan hanya dari satu agama atau satu suku saja, tetapi seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Fakfak,” katanya.
Filep menjelaskan, budaya gotong royong di berbagai daerah Papua memang telah lama dikenal dalam tradisi “taruh harta” atau bantuan adat untuk mendukung kegiatan keluarga dan masyarakat. Namun, di Fakfak, semangat tersebut berkembang lebih luas karena juga digunakan untuk mendukung kegiatan keagamaan lintas umat beragama.
Menurutnya, budaya semacam itu perlu terus didorong agar tidak hanya dipakai dalam kegiatan adat seperti mas kawin atau upacara tradisional, tetapi juga dapat diterapkan untuk mendukung pendidikan, kegiatan sosial, hingga pembangunan masyarakat secara mandiri.
“Budaya seperti ini wajib dicontoh, karena masyarakat bisa saling membantu dan bergotong royong tanpa harus selalu bergantung pada proposal atau bantuan pemerintah,” ujarnya lagi.
Wewowo merupakan tradisi masyarakat Fakfak berupa pertemuan atau musyawarah adat untuk membahas suatu persoalan hingga mencapai mufakat bersama. Dalam kehidupan masyarakat setempat, Wewowo dimaknai sebagai budaya “duduk bicara bersama” untuk mencari solusi secara kolektif.
Tradisi ini tidak sekadar forum diskusi biasa, tetapi menjadi bagian penting dalam sistem sosial masyarakat adat Fakfak. Melalui Wewowo, masyarakat menyelesaikan persoalan kampung, mempererat hubungan kekeluargaan, hingga menjaga keseimbangan hubungan sosial antarwarga.
Dalam perkembangannya, konsep Wewowo juga mulai diadopsi dalam berbagai program pembangunan sebagai pendekatan partisipatif berbasis adat dan budaya lokal.
Selain Wewowo, masyarakat Fakfak juga mengenal tradisi Tombor Mag, yang berasal dari budaya suku Mbaham Matta. Tradisi ini berarti “taruh harta” atau proses mengumpulkan harta, bantuan, maupun dana secara bersama-sama untuk membantu suatu kebutuhan adat atau sosial.
Awalnya, Tombor Mag digunakan dalam prosesi adat pernikahan sebagai bentuk pengumpulan mahar atau bantuan keluarga besar. Namun seiring waktu, tradisi ini berkembang menjadi simbol solidaritas sosial masyarakat Fakfak.
Budaya tersebut kemudian melahirkan tradisi Misi Katolik Maghi, yaitu kegiatan penggalangan dana dan bantuan masyarakat secara gotong royong untuk mendukung perayaan masuknya Gereja Katolik di Tanah Papua maupun kegiatan gereja lainnya.
Yang menarik, tradisi ini tidak hanya melibatkan umat Katolik, tetapi juga masyarakat Muslim, Protestan, tokoh adat, dan berbagai unsur masyarakat lainnya. Semua terlibat bersama memberikan bantuan dana, tenaga, maupun dukungan moral sebagai bentuk persaudaraan lintas agama.
Tradisi itu menjadi bagian dari filosofi masyarakat Fakfak yang dikenal dengan “Satu Tungku Tiga Batu”, simbol persatuan masyarakat lintas agama Islam, Katolik, dan Protestan yang hidup berdampingan dan saling menopang dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi masyarakat Fakfak, tradisi seperti Wewowo dan Tombor Mag bukan sekadar budaya turun-temurun, tetapi juga menjadi identitas sosial yang menjaga harmoni kehidupan masyarakat. Karena itu, berbagai pihak berharap nilai-nilai tersebut tetap dipertahankan dan diwariskan kepada generasi muda Papua di tengah arus modernisasi dan perubahan sosial yang terus berkembang.