Share

Maybrat, majalahkribo.com – Perayaan Misa Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus berlangsung sederhana namun penuh hikmat di Gereja Stasi Santo Paulus Kumurkek, Paroki Santo Yoseph Yawasi, pada Kamis, 14 Mei 2026. Misa dipimpin oleh Pastor RD Fransiskus Katino, dan disiarkan secara langsung melalui live streaming Komsos Keuskupan Manokwari-Sorong.

Dalam homilinya, Pastor Fransiskus menyebut bahwa peristiwa kenaikan Yesus ke surga bukanlah tanda perpisahan ataupun kesedihan, melainkan peristiwa iman yang membawa sukacita bagi umat beriman.
“Yesus naik ke surga bukan untuk meninggalkan para murid-Nya, bukan untuk meninggalkan kita, tetapi untuk kembali kepada Bapa dan sekaligus menyediakan tempat bagi setiap orang yang setia mengikuti-Nya,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, setelah menyelesaikan tugas penebusan di dunia, Kristus dimuliakan dan kembali bersatu dengan Allah Bapa di surga. Kenaikan Tuhan menjadi tanda kemenangan Kristus atas dosa dan maut, sekaligus jaminan bahwa tujuan akhir hidup manusia adalah bersatu dengan Allah.

Menurut Pastor Fransiskus, Yesus sebagai Kepala Gereja telah lebih dahulu masuk ke dalam Kerajaan Surga dan membuka jalan keselamatan bagi umat manusia. Karena itu, umat diajak tetap setia berjalan bersama Kristus yang adalah jalan, kebenaran, dan hidup.

Mengutip Injil hari raya Kenaikan Tuhan, ia kembali mengingatkan tugas perutusan yang diberikan Yesus kepada para pengikut-Nya: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Ia mengatakan tugas tersebut bukan perkara mudah, sebab umat dipanggil menjadi saksi

Kristus di tengah dunia.
Kesaksian hidup itu penting agar semakin banyak orang mengalami keselamatan dan kembali bersatu dengan Allah.
“Ketika orang jauh dari Allah, jauh dari Kristus, sesungguhnya ia juga jauh dari Kerajaan Surga. Karena itu kita harus terus bersatu dengan sumber kehidupan, yaitu Kristus, dan menghadirkan-Nya dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Pastor Fransiskus juga mengajak umat memaknai kenaikan Tuhan sebagai peristiwa sukacita iman. Ia mengutip Mazmur yang berbunyi, “Allah telah naik diiringi sorak-sorai, Tuhan mengangkasa diiringi bunyi sangkakala.”

Menurutnya, suasana kenaikan Tuhan bukanlah suasana dukacita, melainkan kegembiraan karena Kristus dimuliakan dan mempersiapkan tempat bagi umat-Nya di surga. “Peristiwa kenaikan bukan peristiwa yang ditangisi. Ini adalah peristiwa sukacita karena Kristus telah naik bersatu dengan Allah Bapa di surga dan mempersiapkan tempat bagi kita semua,” tuturnya.

Dalam homili tersebut, Pastor Fransiskus turut menyinggung beratnya tugas pewartaan Gereja sejak masa awal kekristenan. Ia mengingatkan bagaimana para pengikut Kristus pada abad-abad pertama mengalami penganiayaan, penderitaan, hingga dibunuh demi mempertahankan iman.

Ia juga menyinggung sejarah perjalanan Gereja Katolik di Tanah Maybrat yang penuh perjuangan. Para misionaris pertama yang datang ke wilayah tersebut menghadapi tantangan geografis dan berbagai kesulitan dalam mewartakan Injil.

Namun menurutnya, tantangan pewartaan masa kini memiliki bentuk berbeda. Jika dahulu medan alam menjadi hambatan utama, kini Gereja menghadapi tantangan hati manusia yang tertutup terhadap sabda Tuhan. “Ada orang yang mendengar sabda Tuhan tetapi telinganya tertutup. Ada yang menerima baptisan tetapi hatinya tetap bebal. Ada yang menjadi anggota Gereja tetapi tidak mau hidup dalam semangat persekutuan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kehidupan modern yang terlalu berpusat pada uang, jabatan, dan kepentingan duniawi juga menjadi tantangan besar dalam tugas pewartaan iman saat ini.
Meski demikian, Pastor Fransiskus mengajak umat untuk tetap setia menjalankan tugas perutusan Kristus dengan penuh iman, harapan, dan sukacita.

Pewarta: Charles Fatie

About Author

Comments are closed.