JAYAPURA, majalahkribo.com – Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Bank Pembangunan Daerah Papua Tahun Buku 2025 menegaskan perlunya penguatan fundamental Bank Papua di tengah tantangan ekonomi yang kian kompleks.
Komisaris Utama Bank Papua, Yorgemes Derek Hegemur, menyebut kinerja bank sejauh ini masih menunjukkan tren positif.
Ia mengatakan, tingkat kesehatan Bank Papua berada pada kategori sehat dengan opini keuangan Wajar Tanpa Modifikasian.
“Laba bank tumbuh konsisten dalam lima tahun terakhir dan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah juga terus meningkat,” kata Hegemur dalam RUPS di Jayapura, Jumat (27/3/2026).
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan ke depan tidak ringan. Menurutnya, RUPS menjadi ruang strategis untuk menentukan arah kebijakan bank, termasuk pengesahan laporan keuangan, rencana bisnis, dan pengisian jabatan pengurus.
Bank Papua, kata dia, akan memasuki usia ke-60 tahun pada April 2026. Momentum itu dinilai penting untuk memperkuat komitmen seluruh pemegang saham dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan.
Di sisi lain, Wakil Gubernur Papua Barat, Mohamad Lakotani, menekankan pentingnya penguatan permodalan dan konsolidasi keuangan daerah melalui Bank Papua.
Menurut Lakotani, Bank Papua memiliki posisi strategis sebagai penggerak ekonomi daerah. Karena itu, diperlukan dukungan nyata dari seluruh pemegang saham.
“Penguatan modal, konsolidasi transaksi keuangan daerah, dan transformasi menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya tata kelola yang profesional dan sesuai ketentuan regulator agar kepercayaan publik terhadap Bank Papua tetap terjaga.
Lakotani menambahkan, RUPS seharusnya tidak hanya menjadi agenda rutin, tetapi momentum untuk memperkuat soliditas antar pemegang saham.
Sementara itu, Gubernur Papua, Matius D Fakhiri, menegaskan bahwa Bank Papua harus bertransformasi agar mampu bersaing di tingkat regional.
“Hari ini kita tidak sekadar membahas laporan keuangan, tetapi menentukan arah masa depan Bank Papua,” kata Fakhiri.
Ia menyebutkan, meski kondisi bank saat ini berada pada kategori sehat, capaian tersebut belum cukup untuk mendorong peningkatan kelas.
Fakhiri menyoroti masih rendahnya porsi kredit produktif serta perlunya percepatan transformasi digital, termasuk perbaikan sistem layanan.
Ia mengusulkan lima langkah strategis, yakni penguatan modal, transformasi digital, peningkatan likuiditas, penguatan kredit produktif terutama untuk UMKM, serta investasi pada sumber daya manusia Orang Asli Papua.
Selain itu, ia menegaskan bahwa transaksi keuangan pemerintah daerah harus dipusatkan melalui Bank Papua.
“Jangan uang daerah berputar di luar Papua,” ujarnya.
Fakhiri juga menempatkan Bank Papua sebagai instrumen penting dalam pembangunan ekonomi daerah yang berpihak pada masyarakat.
RUPS Bank Papua tahun ini memperlihatkan adanya kesamaan pandangan antara komisaris, pemegang saham, dan pemerintah daerah, terutama dalam mendorong penguatan kelembagaan dan transformasi bank.
Namun, tantangan implementasi kebijakan, peningkatan kredit produktif, serta konsistensi dukungan pemegang saham menjadi faktor penentu apakah target menjadikan Bank Papua sebagai “regional champion” dapat tercapai.