Tambrauw, majalahkribo.com – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya, menyiapkan sejumlah strategi untuk memastikan kegiatan belajar mengajar (KBM) tetap berjalan di sekolah-sekolah yang berada di wilayah zona merah.
Langkah ini diambil menyusul insiden penyerangan terhadap empat tenaga kesehatan oleh orang tak dikenal (OTK) di Kampung Jokbu, Distrik Bamusbama, Kabupaten Tambrauw, pada Senin (16/3/2026), yang mengakibatkan dua orang meninggal dunia.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdikbud Tambrauw, Karel Nauw, mengatakan pihaknya telah menggelar rapat koordinasi bersama kepala bidang, pengawas, kepala sekolah, serta guru dari distrik terdampak konflik.
“Rapat ini bertujuan untuk menyamakan persepsi dan merumuskan strategi pelaksanaan proses belajar mengajar di daerah konflik,” ujarnya di Sorong, Senin.
Ia menjelaskan, terdapat sekitar 16 sekolah dari jenjang PAUD/TK, SD, hingga SMA/SMK yang berada di wilayah zona merah, antara lain di Distrik Subun, Fef, Bamusbama, Bamuswaiman, Baun, Yembun, Selewok, dan sekitarnya.
Menurut Karel, keselamatan dan kenyamanan tenaga pendidik menjadi prioritas utama sebelum kegiatan belajar tatap muka kembali dilaksanakan.
“Tuntutan utama para guru adalah adanya jaminan keamanan. Kami berharap semua pihak, termasuk tokoh masyarakat, pemerintah kampung, dan aparat keamanan, turut memberikan perlindungan bagi guru yang bertugas di wilayah tersebut,” katanya.
Sebagai langkah sementara, Disdikbud Tambrauw menerapkan sistem pembelajaran luar jaringan (luring). Dalam skema ini, guru memberikan tugas kepada siswa secara berkala, satu hingga beberapa kali dalam sepekan, agar proses pendidikan tetap berjalan meski tanpa tatap muka langsung.
Selain itu, pemerintah daerah juga membuka opsi bagi orang tua yang menilai kondisi belum aman untuk menyekolahkan anak di daerah asal.
“Orang tua dapat menitipkan anaknya bersekolah di wilayah yang lebih aman, seperti Sorong atau Manokwari, sambil menunggu situasi membaik,” jelasnya.
Karel menambahkan, pihaknya masih akan menggelar pertemuan lanjutan bersama pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan aparat keamanan guna membahas perlindungan sekolah di zona merah.
Saat ini, seluruh sekolah di wilayah terdampak masih diliburkan, bertepatan dengan masa libur Idul Fitri. Disdikbud Tambrauw juga belum mengizinkan guru kembali bertugas ke wilayah konflik setidaknya hingga Maret dan April 2026, sambil menunggu kepastian keamanan.
“Selama belum ada jaminan keamanan, kami belum dapat mengizinkan guru kembali ke lokasi. Namun proses pendidikan tetap dilakukan melalui sistem luring,” tegasnya.
Ia berharap seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Tambrauw turut menjaga keamanan agar aktivitas pendidikan dapat segera pulih.
“Pendidikan membutuhkan dukungan semua pihak. Kami berharap guru dapat bekerja dengan tenang sehingga upaya mencerdaskan anak-anak Tambrauw tetap berjalan,” tutupnya. (Antara)