Share

Maybrat, majalahkribo.com – Akses jalan utama di Kampung Fategomi, Distrik Aitinyo Utara, Kabupaten Maybrat, kembali dibuka pada Selasa (21/04/2026) setelah melalui proses negosiasi antara warga, pemerintah daerah, dan aparat keamanan.

Sebelumnya, warga setempat melakukan aksi pemalangan sejak pukul 07.00 WIT sebagai bentuk protes terhadap hasil pengumuman seleksi terbuka (selter) pejabat eselon II di lingkungan Pemerintah Kabupaten Maybrat.

Aksi tersebut sempat menghambat aktivitas masyarakat, termasuk aparatur sipil negara (ASN) yang hendak menuju ibu kota kabupaten di Kumurkek.

Dalam aksi tersebut, massa sempat mendesak agar Bupati Maybrat hadir langsung untuk memberikan penjelasan.

Menanggapi situasi tersebut, Asisten III Setda Maybrat, Sergius Turot, bersama aparat kepolisian datang langsung ke lokasi untuk berdialog dengan warga. Pertemuan antara perwakilan masyarakat dan pemerintah berlangsung di tempat kejadian, kemudian dilanjutkan dengan komunikasi di kediaman salah satu tokoh masyarakat.

Proses negosiasi berlangsung cukup alot, namun tetap kondusif. Setelah melalui pembicaraan antara pihak penuntut dan perwakilan pemerintah daerah, akhirnya tercapai kesepahaman bersama sehingga warga sepakat membuka palang.

Pembukaan akses jalan disaksikan langsung oleh perwakilan pemerintah daerah, aparat keamanan, serta masyarakat setempat.

Wakil Ketua 1 Perkumpulan Keluarga Besar Fategomi Se-Tanah Papua (PKBF) Yakobus Asmuruf, yang mewakili pihak penuntut, menjelaskan proses yang dilakukan hingga tercapai kesepakatan untuk membuka palang.

“Kami mencermati situasi yang terjadi dan menindaklanjuti arahan dari Bupati dengan melakukan komunikasi bersama ibu ketua di kediamannya. Dari pertemuan itu, kami sepakat untuk bersama-sama membuka palang di lokasi kejadian pada hari ini,” ucapnya.

Ia menekankan,  keputusan tersebut diambil demi kepentingan masyarakat luas, mengingat jalan yang dipalang merupakan jalur strategis penghubung antarwilayah.

“Jalan ini merupakan akses utama yang menghubungkan Kabupaten Tambrauw, Manokwari, Pegunungan Arfak, hingga Sorong Selatan dan Kota Sorong. Karena itu kami membuka palang agar aktivitas masyarakat bisa kembali berjalan,” katanya.

Yakobus juga mengajak seluruh pihak untuk menahan diri dan menunggu hasil komunikasi lanjutan dengan pemerintah daerah.

“Kami berharap semua pihak dapat menerima keputusan ini dan menunggu hasil pertemuan berikutnya dengan Bupati. Apa pun hasilnya nanti akan kami sampaikan kepada masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Asisten III Setda Maybrat, Sergius Turot, menyampaikan apresiasi atas sikap masyarakat yang tetap menjaga keamanan selama aksi berlangsung hingga proses pembukaan palang.

“Kami mengapresiasi masyarakat yang tetap menjaga situasi tetap aman dan kondusif selama aksi berlangsung. Ini menunjukkan komitmen bersama untuk menjaga ketertiban,” ujarnya.

Ia memastikan seluruh aspirasi yang disampaikan akan diteruskan kepada pimpinan daerah untuk ditindaklanjuti.

“Semua masukan sudah kami terima dan akan kami sampaikan kepada Bupati. Kami juga membuka ruang agar perwakilan masyarakat dapat bertemu langsung untuk menyampaikan aspirasi secara lebih rinci,” kata Sergius.

Pemerintah daerah, lanjutnya, berkomitmen menjaga komunikasi agar persoalan yang muncul dapat diselesaikan secara baik dan tidak berlarut-larut.

Dengan dibukanya kembali akses jalan, aktivitas masyarakat di jalur utama tersebut mulai kembali normal. Namun perhatian kini tertuju pada langkah konkret pemerintah daerah dalam merespons tuntutan warga, sebagai upaya menjaga stabilitas dan kepercayaan publik.

Pewarta: Charles Fatie

About Author

Comments are closed.