Fakfak, majalahkribo.com — Upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan terus dilakukan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Fakfak dengan menggelar pelatihan Basic Trauma and Cardiac Life Support (BTCLS) bagi tenaga perawat. Kegiatan yang berlangsung selama 10 hari, sejak 4 hingga 13 Mei 2026 ini menjadi bagian dari strategi penguatan kapasitas sumber daya manusia kesehatan, khususnya dalam menangani situasi kegawatdaruratan yang membutuhkan kecepatan dan ketepatan tindakan medis.
Direktur RSUD Fakfak, Farid Fauzan Mahubessy, menegaskan bahwa rumah sakit memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan pelayanan gawat darurat. Dalam konteks tersebut, perawat menjadi garda terdepan yang berhadapan langsung dengan pasien dalam kondisi kritis.
“Pelatihan BTCLS ini bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi merupakan investasi penting dalam meningkatkan kompetensi perawat agar mampu memberikan pertolongan pertama secara cepat, tepat, dan sesuai standar. Tujuannya jelas, yakni menekan angka kematian dan kecacatan pasien,” ujarnya Selasa, (05/05/25)
Pelatihan ini sekaligus menjadi bagian dari pemenuhan regulasi nasional di sektor kesehatan, termasuk Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, Standar Pelayanan Minimal (SPM), serta standar akreditasi rumah sakit yang menekankan pentingnya kompetensi tenaga medis dalam pelayanan kegawatdaruratan.
Ketua panitia pelatihan, Halijah Bauw, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menyamakan standar pengetahuan dan keterampilan perawat dalam menangani kasus trauma dan kardiovaskular. Menurutnya, keseragaman kompetensi menjadi kunci dalam menciptakan sistem pelayanan yang responsif dan terukur.
“Perawat harus memiliki kemampuan yang sama sesuai standar operasional prosedur. Ini penting agar setiap tindakan medis yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan secara profesional dan memberikan hasil optimal bagi pasien,” katanya.
Sebanyak 42 peserta mengikuti pelatihan ini, terdiri dari 40 perawat RSUD Fakfak dari berbagai unit layanan seperti Instalasi Gawat Darurat (IGD), Intensive Care Unit (ICU), rawat inap, dan rawat jalan. Dua peserta lainnya berasal dari Puskesmas Kramongmongga. Para peserta dipilih berdasarkan kriteria tertentu, termasuk masa kerja, rekam jejak kinerja, serta belum pernah mengikuti pelatihan serupa sebelumnya.
Dalam pelatihan ini, peserta mendapatkan pembekalan keterampilan teknis yang komprehensif, mulai dari initial assessment, resusitasi jantung paru (RJP) berkualitas tinggi, manajemen jalan napas, interpretasi dasar elektrokardiogram (EKG), defibrilasi, hingga stabilisasi pasien trauma. Seluruh materi disusun mengacu pada standar internasional yang direkomendasikan oleh American Heart Association.
Pelatihan ini juga menggandeng Pro Emergency, lembaga pelatihan kesehatan yang telah berdiri sejak 2007 dan terakreditasi “A” oleh PPSDM Kementerian Kesehatan RI. Lembaga ini dikenal sebagai salah satu perwakilan resmi pusat pelatihan internasional di bidang kegawatdaruratan medis.
Halijah menambahkan, pelatihan BTCLS yang digelar tahun ini merupakan pelaksanaan kedua oleh RSUD Fakfak. Hal ini menunjukkan komitmen berkelanjutan rumah sakit dalam meningkatkan kualitas pelayanan, sekaligus menjawab tantangan tingginya kebutuhan penanganan kasus darurat di daerah.
Lebih dari sekadar peningkatan kompetensi individu, pelatihan ini juga diarahkan untuk membangun standarisasi pelayanan di lingkungan rumah sakit. Beberapa aspek yang menjadi perhatian antara lain keseragaman prosedur dalam penanganan kondisi code blue, peningkatan response time, serta upaya meminimalkan risiko kesalahan prosedur medis.
Dalam konteks pelayanan kesehatan di wilayah Papua Barat, langkah ini dinilai penting mengingat keterbatasan akses dan distribusi tenaga medis yang belum merata. Penguatan kapasitas tenaga kesehatan di rumah sakit daerah menjadi salah satu solusi strategis untuk memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan yang layak dan berkualitas.
Dengan pelatihan ini, RSUD Fakfak optimistis mampu meningkatkan kualitas layanan kegawatdaruratan secara signifikan. Harapannya, setiap pasien yang datang dalam kondisi kritis dapat segera ditangani secara profesional, sehingga peluang keselamatan semakin besar.
Di tengah berbagai tantangan pelayanan kesehatan di daerah, langkah RSUD Fakfak ini menjadi contoh bagaimana peningkatan kualitas tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga pada kesiapan dan kompetensi sumber daya manusia yang menjalankannya.