Share

Oleh: Soleman Itlay (penulis, aktivis, dan peneliti Katolik asal Papua )

Dalam catatan sejarah misi Katolik di Tanah Papua, nama Sekru selalu disebut dalam perintisan awal. Rasanya tidak masuk akal apabila nama itu dilupakan dalam lembaran sejarah Gereja Katolik di tanah ini.

Sekru memang merujuk pada sebuah tempat, tempat Allah memilih hadir untuk pertama kalinya dalam sejarah Gereja Katolik di Tanah Papua. Namun setiap kali membaca dan mendengar nama Sekru, saya selalu bertanya dalam hati, “Sebenarnya Sekru itu ada di mana?”

Rasa penasaran itu tidak pernah padam. Semakin ingin mengetahui, semakin besar pula rasa ingin tahu saya. Karena itu, saya mulai membaca lebih banyak buku, jurnal, dan berbagai sumber lainnya untuk menemukan titik koordinat tempat tersebut. Saya juga berusaha mendengar cerita dari orang-orang yang mengetahui sejarahnya lebih dalam.

Sampai akhirnya saya mengetahui bahwa Sekru adalah sebuah kampung di Distrik Pariwari, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Pada tahun 2023, saya memutuskan untuk pergi sendiri melihat tempat itu. Dari Wamena saya turun ke Jayapura, lalu melanjutkan perjalanan dengan pesawat menuju Sorong. Dari Sorong saya kembali terbang ke Fakfak dan tiba di Bandar Udara Torea, Pariwari, Fakfak, Papua Barat.

Begitu turun dari pesawat Wings Air di Torea, pertanyaan pertama yang muncul dalam pikiran saya adalah, “Sekru itu berada di bagian mana?”

Namun saya sengaja tidak bertanya kepada siapa pun. Pertanyaan itu saya simpan sendiri sampai Pastor Alex Fabianus, Pr datang menjemput saya dan membawa saya ke Pastoran Paroki Santo Yosep Fakfak.

Setelah beristirahat dan makan siang bersama di pastoran, saya melanjutkan perjalanan menuju Kampung Hambriangkendik. Di sana saya tinggal bersama Bapak Diakon Didimus Temongmere. Keesokan harinya, beliau mengantar saya pergi ke Sekru.

Sepanjang perjalanan, saya membayangkan tempat itu pasti besar, penuh bangunan tua peninggalan misi. Mungkin ada gereja batu tua atau tanda-tanda besar sejarah Katolik pertama di Papua. Namun ketika tiba di sana, saya justru terdiam.

Ternyata Sekru hanyalah sebuah kampung sederhana di tepi pantai, dengan mayoritas penduduk Muslim. Rumah-rumah masyarakat lokal yang dibangun dari bahan alam dikelilingi pohon pala dan pepohonan tua yang hijau dan indah.

Menurut cerita masyarakat setempat, dahulu tempat itu menjadi gudang pala. Kebun pala milik masyarakat adat tumbuh di tanah berbatu, tanah yang keras dan penuh karang, tetapi akarnya mampu menembus celah-celah batu. Pohon-pohon pala itu tetap tumbuh subur dan menghasilkan buah yang banyak.

Pala bukan sekadar komoditas unggulan masyarakat lokal dalam sistem perdagangan tradisional. Pala juga bukan hanya julukan bagi kota tua ini. Lebih dari itu, pala adalah filosofi hidup.

Filosofi itu membentuk karakter dan mentalitas masyarakat lokal. Seperti akar pala yang tumbuh kuat di sela-sela batu, demikian pula masyarakatnya bertahan dan hidup kokoh selama berabad-abad.

Di tepi pantai itu pula pernah berdiri kediaman Kapitan dari klan Patiran. Ada juga pemilik hak adat dari klan Samai yang hidup rukun bersama klan Diapruga dan Serkenasa. Mereka adalah penjaga tanah itu sejak dahulu, jauh sebelum Allah memilih tempat tersebut dalam misteri karya keselamatan-Nya.

Dari cerita masyarakat setempat, saya mengetahui bahwa Sekru sebenarnya bukan nama asli kampung itu. Nama aslinya adalah Mondo Gendik. Nama Sekru muncul seiring kedatangan misionaris Katolik pertama pada 22 Mei 1894.

Sang pastor datang menggunakan kapal layar. Ketika itu masyarakat melihat sebuah perahu mendekat dari laut menuju pantai. Mereka mengira kapal itu adalah kapal pedagang rempah yang datang mencari pala. Ternyata bukan.

Kapal itu membawa seorang asing. Ia berdiri di atas perahu: masih muda, berkulit putih, bertubuh tinggi, besar, dan kekar.

Bahasanya berbeda, rupanya berbeda, keyakinannya pun berbeda. Namun masyarakat tidak mengusirnya. Mereka juga tidak menaruh curiga. Mereka memperhatikannya dengan saksama dan menerima kehadirannya dengan cara yang sangat manusiawi.

Sebelum turun dari perahu, ia mengucapkan kata-kata dalam bahasa Latin yang tidak dimengerti masyarakat setempat. Konon ia berkata, “Secru… Secolarum.” Menurut pemahaman masyarakat, kata itu berarti “syukur” atau “bersyukur.”

Barangkali sang pastor bersyukur karena telah tiba dengan selamat di tempat tujuan. Rasa syukur itu ia sampaikan sebelum menyapa, berjabat tangan, dan memulai karya misi Allah di tanah tersebut.

Masyarakat mendengar kata-kata itu dengan baik. Mereka melihat bahwa orang asing itu datang dengan niat baik. Sebagai bentuk penerimaan dan penghormatan atas kehendak baik tersebut, masyarakat kemudian menamai kampung itu Sekru.

Setelah saling menyapa, orang asing itu berbincang dengan masyarakat Muslim setempat. Mereka bertanya tentang tujuan kedatangannya. Sang pastor menjawab bahwa ia datang membawa kabar baik.

Ia kemudian memperagakan tanda salib di hadapan masyarakat Muslim dan menjelaskan bahwa ia membawa agama Katolik dari Tahta Suci Vatikan di Roma, Italia.

Hal yang luar biasa adalah masyarakat Muslim di sana tidak merasa terganggu. Mereka justru berusaha memahami maksud kehadirannya. Kemudian mereka mengatakan bahwa mereka sendiri telah memeluk agama Islam.

Karena itu, mereka menyarankan agar sang pastor naik ke daerah pegunungan, ke Torea, sebuah kampung masyarakat lokal yang saat itu belum memeluk agama tertentu dan masih hidup dalam kepercayaan suku.

Meskipun demikian, selama beberapa hari sang pastor tetap tinggal bersama masyarakat Muslim di Sekru. Mereka memberinya tempat tinggal, makanan, dan minuman.

Selama sepuluh hari, ia membaptis 73 orang. Baptisan itu menjadi tanda awal kehadiran Allah di Tanah Papua. Sejak saat itu, Sekru dan Torea menjadi tempat bersejarah bagi Gereja Katolik di Papua.

Setelah melihat Sekru dari dekat, saya berpikir dalam hati, “Ternyata di sinilah Sekru itu.”

Allah memilih dua tempat ini: satu di tengah masyarakat Muslim dan satu lagi di tengah masyarakat pemeluk agama suku, untuk memulai karya keselamatan-Nya di Tanah Papua.

Saya kemudian berjalan ke tepi pantai dan berdiri cukup lama di sana, di tempat yang kini menjadi lokasi perayaan 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua. Tempat itu tidak jauh dari lokasi pertama kali sang misionaris Belanda berdarah Prancis itu mendarat, hanya sekitar 50 hingga 100 meter.

Saya terus memandang laut yang tenang dan pohon-pohon pala yang bergoyang pelan tertiup angin. Dalam hati saya berkata, “Ternyata sejarah besar kadang lahir dari kampung kecil yang sering dilupakan orang.”

Dari Sekru, saya belajar satu hal penting: misi pertama di Tanah Papua tidak lahir dari kebencian, melainkan dari keterbukaan, persaudaraan, dan hati manusia yang mau menerima sesama.

Bagaimanapun juga, Sekru menjadi rahim bagi perintisan misi Katolik di Tanah Papua. Dalam konteks Papua, benih misi itu mula-mula tumbuh dari rahim masyarakat Muslim lokal.

Sekru bukan sekadar pintu masuk misi Katolik di Tanah Papua, tetapi juga menjadi mata air bagi perkembangan misi itu sendiri. Dari tempat inilah benih Injil Pala, Sagu, dan Hepuru kemudian tersebar ke seluruh Tanah Leluhur Papua.

Baca Juga:

Pater Le Cocq d’Armandville, SJ Sang Jago Tuhan Bekerja di Ladang Tuhan

About Author

Comments are closed.