Share

Fakfak, majalahkribo.com — Keterlibatan umat Islam dalam persiapan perayaan 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua kembali menjadi gambaran kuatnya harmoni antarumat beragama di Kabupaten Fakfak. Dalam kegiatan kerja bakti massal yang dipusatkan di Pulau Bonyum, sejumlah warga Muslim terlihat ikut berpartisipasi bersama umat Katolik, Kristen Protestan, aparat pemerintah, TNI, dan masyarakat adat.

Kegiatan tersebut berlangsung pada Selasa (16/5/2026) sebagai bagian dari persiapan menjelang puncak perayaan misi Katolik yang akan dipusatkan di Fakfak pada 19–24 Mei 2026. Di lokasi kerja bakti, warga tampak bergotong royong melakukan pembersihan area, penimbunan, serta penataan kawasan yang akan menjadi pusat kegiatan rohani.

Kehadiran warga Muslim dalam kegiatan tersebut dipandang sebagai wujud nyata pengamalan nilai adat “Satu Tungku Tiga Batu”, sebuah filosofi hidup masyarakat Fakfak yang melambangkan keseimbangan dan persaudaraan antara tiga agama besar di Fakfak antara umat Islam, Katolik, dan Protestan.

Dalam tradisi ini, umat Muslim di Fakfak tidak hanya hadir sebagai bagian dari masyarakat, tetapi juga turut terlibat dalam berbagai aspek kehidupan sosial lintas agama, mulai dari kegiatan adat, kerja bakti pembangunan, hingga dukungan pada perayaan keagamaan lainnya.

“Umat Muslim di Fakfak secara sukarela ikut bergotong royong membantu umat Katolik dalam persiapan perayaan misi,” demikian suasana yang terlihat di lapangan, di mana sejumlah warga, termasuk perempuan berjilbab, ikut serta dalam kegiatan pembersihan dan penataan kawasan Pulau Bonyum.

Partisipasi lintas agama ini telah lama menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Fakfak. Setiap perayaan masuknya Misi Katolik di Tanah Papua yang berpusat di Fakfak tidak hanya menjadi agenda umat Katolik, tetapi juga menjadi kegiatan bersama seluruh elemen masyarakat.

Pemerintah daerah, tokoh agama Islam, organisasi kemasyarakatan, hingga masyarakat umum secara rutin terlibat dalam kepanitiaan maupun kerja bakti massal sebagai bentuk kebersamaan dan penghormatan terhadap warisan perdamaian leluhur.

Salah satu warga, Hajijah dalam wawancara bersama awak media, menyebutkan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari nilai toleransi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

“Hal ini harus terus kita jaga untuk menjadi warisan bagi generasi berikutnya, karena menunjukkan bahwa hidup toleransi beragama itu sangat indah,” ujarnya.

Nilai toleransi tersebut juga memiliki akar sejarah yang kuat. Catatan sejarah menyebutkan bahwa umat Islam di Kampung Kampung Sekru memiliki peran penting dalam membuka jalan bagi masuknya Gereja Katolik di Tanah Papua.

Ketika misionaris Jesuit, Cornelis Le Cocq d’Armandville, tiba di Kampung Sekru pada 22 Mei 1894, wilayah pesisir tersebut merupakan komunitas Muslim yang hidup berdampingan secara damai.

Kedatangannya disambut baik oleh masyarakat setempat, termasuk tiga marga besar yakni Biarpruga, Samain, dan Serkanasa.

Umat Islam kampung Sekru saat itu bahkan menerima Pastor Cornelis sebagai tamu kehormatan dan menyediakan tempat tinggal baginya. Peristiwa tersebut kemudian menjadi tonggak awal hubungan lintas agama yang harmonis di Fakfak dan dikenal sebagai simbol kuat kerukunan di Tanah Papua hingga saat ini.

Hingga kini, keterlibatan umat Islam dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan lintas iman di Fakfak terus berlangsung secara turun-temurun. Kebersamaan itu tidak hanya terlihat dalam momentum keagamaan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Di tengah persiapan perayaan besar Misi Katolik di Pulau Bonyum, semangat gotong royong lintas agama kembali memperkuat citra Fakfak sebagai daerah yang menjunjung tinggi persaudaraan, toleransi, dan harmoni sosial di Tanah Papua.

About Author

Comments are closed.