Share

Fakfak, majalahkribo.com  — Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Fakfak pada Selasa, 31 Maret 2026 sore kembali menyingkap persoalan klasik yang tak kunjung terselesaikan. buruknya pengelolaan drainase dan sampah di kawasan perkotaan.

Di Jalan Izak Telussa, salah satu ruas utama di jantung kota, air hujan yang seharusnya mengalir melalui saluran drainase justru meluap ke badan jalan. Penyebabnya bukan hal baru, saluran air tersumbat tumpukan sampah yang terbawa arus dari berbagai titik.

Pantauan di lapangan menunjukkan, sampah yang menumpuk terdiri dari kantong plastik, karung berisi limbah rumah tangga, hingga material organik yang mulai membusuk. Campuran tersebut menyumbat aliran air, menyebabkan genangan cepat terbentuk dan menutup sebagian badan jalan.

Kondisi ini tidak hanya mengganggu kelancaran lalu lintas, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan. Pengendara dipaksa melambat dan ekstra waspada, terutama karena genangan berpotensi menutupi lubang jalan. Di sisi lain, aroma tak sedap dari sampah memperburuk kenyamanan dan memunculkan kekhawatiran akan dampak kesehatan.

Warga setempat menyebut kejadian ini bukan yang pertama. Setiap kali hujan deras turun, skenario serupa terus berulang.

“Kalau hujan deras, pasti begini. Air naik ke jalan karena selokan penuh sampah,” ujar seorang warga di sekitar lokasi.

Fenomena berulang ini memicu sorotan terhadap pemerintah daerah, khususnya Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPR2KP), terutama Bidang Bina Marga yang bertanggung jawab terhadap infrastruktur jalan dan sistem pendukungnya.

Drainase, yang merupakan bagian integral dari sistem jalan, dinilai belum dikelola secara optimal. Ketika saluran air tidak berfungsi, dampaknya langsung terasa, mulai dari genangan, kerusakan jalan, hingga terganggunya mobilitas warga.

Sejumlah warga menilai penanganan yang dilakukan selama ini masih bersifat reaktif. Pembersihan saluran umumnya dilakukan setelah terjadi penyumbatan, bukan melalui langkah preventif yang terencana dan berkelanjutan.

Padahal, kawasan pusat kota seperti Jalan Izak Telussa semestinya menjadi prioritas utama dalam pemeliharaan infrastruktur, mengingat fungsinya sebagai urat nadi aktivitas masyarakat.

Namun, persoalan ini tidak semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah. Rendahnya kesadaran sebagian masyarakat juga menjadi faktor utama. Kebiasaan membuang sampah ke parit dan selokan memperparah kondisi, terutama saat hujan deras yang menyeret sampah hingga menyumbat drainase.

Artinya, masalah ini merupakan kombinasi antara lemahnya pengelolaan infrastruktur dan rendahnya disiplin lingkungan masyarakat.

Di media sosial, berbagai unggahan yang memperlihatkan genangan air bercampur sampah di Jalan Izak Telussa ramai diperbincangkan. Warganet menyoroti ironi kondisi tersebut yang terjadi di pusat kota, wilayah yang seharusnya mencerminkan tata kelola terbaik daerah.

Warga pun mendesak pemerintah untuk mengambil langkah konkret, tidak hanya sebatas penanganan sesaat. Pembersihan rutin drainase, normalisasi saluran air, serta evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan drainase dinilai mendesak dilakukan.

Selain itu, integrasi antara pengelolaan sampah dan infrastruktur jalan menjadi kunci. Tanpa koordinasi yang kuat antarinstansi, upaya perbaikan berisiko hanya menjadi solusi tambal sulam.

Di sisi lain, edukasi publik juga perlu diperkuat dan diikuti dengan penegakan aturan yang tegas terhadap pembuangan sampah sembarangan.

Peristiwa ini menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Genangan di Jalan Izak Telussa bukan sekadar dampak hujan, melainkan cerminan dari persoalan tata kelola kota yang belum tuntas.

Tanpa perubahan mendasar, baik dari sisi kebijakan, pengawasan, maupun kesadaran kolektif, maka setiap hujan deras hanya akan kembali menghadirkan cerita yang sama, jalan tergenang, sampah menumpuk, dan kota yang terus berulang kali tersandera oleh masalah yang sebenarnya dapat dicegah.

About Author

Comments are closed.