Maybrat, majalahkribo.com – Karel Murafer menegaskan penanganan stunting, gizi buruk, serta kesehatan ibu dan anak di Kabupaten Maybrat membutuhkan kerja kolektif lintas sektor dan tidak dapat dibebankan hanya kepada tenaga kesehatan semata.
Pesan itu disampaikan Karel Murafer saat membuka kegiatan koordinasi implementasi jejaring program gizi, Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), dan kesehatan reproduksi yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Kabupaten Maybrat di Gedung Samusiret, Kamis (21/05/2026).
“Kesehatan tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada kerja kolektif dan kolaborasi lintas sektor supaya pelayanan kesehatan di Kabupaten Maybrat bisa berjalan lebih baik,” kata Karel Murafer dalam sambutannya.
Menurutnya, tantangan kesehatan di Kabupaten Maybrat masih cukup besar, terutama persoalan stunting, gizi buruk, serta tingginya angka kematian ibu dan anak yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah.
“Kita harus jujur mengakui masih ada tantangan besar yang harus diselesaikan bersama. Masalah stunting, gizi buruk, dan angka kematian ibu serta anak harus ditangani secara serius dan tuntas,” ujarnya.
Karel menekankan pentingnya intervensi kesehatan sejak usia remaja, masa kehamilan, hingga periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) untuk menciptakan generasi Maybrat yang sehat dan berkualitas.
Ia juga meminta seluruh pihak memperkuat jejaring pelayanan kesehatan mulai dari pemerintah daerah, rumah sakit, puskesmas, posyandu, kader kesehatan kampung, hingga tokoh adat dan tokoh agama.
“Kita membutuhkan sistem jejaring yang kuat dan terkoneksi dengan baik. Jangan sampai ada ibu hamil berisiko tinggi yang luput dari pantauan atau balita gizi buruk terlambat ditangani hanya karena koordinasi yang tidak berjalan,” tegasnya.
Selain itu, Bupati Maybrat meminta puskesmas dan posyandu menjadi motor penggerak pelayanan kesehatan di masing-masing wilayah dengan mengedepankan edukasi yang humanis kepada masyarakat.
“Lakukan pendekatan yang menyentuh hati masyarakat Maybrat dan libatkan tokoh adat maupun tokoh agama untuk mengikis mitos-mitos yang merugikan kesehatan ibu dan anak,” katanya.
Kegiatan koordinasi tersebut diikuti sebanyak 20 penanggung jawab program gizi, KIA, dan kesehatan reproduksi dari 20 puskesmas se-Kabupaten Maybrat. Turut hadir para kepala puskesmas, perwakilan anggota DPRK Maybrat, dan tamu undangan lainnya.
Pewarta: Charles Fatie
Dinkes Maybrat Gelar Koordinasi Implementasi Jejaring Program Gizi, KIA dan Kesehatan Reproduksi
Maybrat, majalahkribo.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Maybrat menggelar kegiatan koordinasi implementasi jejaring program gizi, Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), serta kesehatan reproduksi di Gedung Samusiret, Kabupaten Maybrat, Kamis (21/05/2026).
Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Karel Murafer dan diikuti sebanyak 20 penanggung jawab program gizi, KIA, dan kesehatan reproduksi dari 20 puskesmas yang tersebar di Kabupaten Maybrat.
Turut hadir dalam kegiatan itu para kepala puskesmas, perwakilan anggota DPRK Maybrat, serta sejumlah tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Bupati Maybrat, Karel Murafer, menyampaikan apresiasi kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Maybrat yang telah menginisiasi kegiatan tersebut sebagai upaya memperkuat pelayanan kesehatan masyarakat.
“Kegiatan ini adalah bukti nyata komitmen bersama untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Maybrat, khususnya kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan balita,” ujar Karel Murafer.
Ia menegaskan, pembangunan kesehatan menjadi salah satu pilar utama dalam menciptakan generasi Maybrat yang sehat, cerdas, dan mampu bersaing di masa depan.
Menurutnya, Kabupaten Maybrat masih menghadapi berbagai tantangan di sektor kesehatan, seperti stunting, gizi buruk, serta tingginya angka kematian ibu dan anak.
“Kita harus jujur mengakui masih ada tantangan besar yang menjadi pekerjaan rumah bersama. Masalah stunting, gizi buruk, dan angka kematian ibu serta anak harus diselesaikan secara serius dan tuntas,” katanya.
Karel menilai urusan kesehatan ibu dan anak serta pemenuhan gizi seimbang bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan semata, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh pihak.
“Kesehatan tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada kerja kolektif dan kolaborasi lintas sektor supaya pelayanan kesehatan di Kabupaten Maybrat bisa berjalan lebih baik,” ucapnya.
Ia juga menekankan pentingnya intervensi kesehatan sejak usia remaja, masa kehamilan, hingga 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Dalam kesempatan itu, Karel Murafer meminta seluruh pihak memperkuat implementasi jejaring pelayanan kesehatan, mulai dari pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, kader kesehatan kampung, hingga tokoh agama dan tokoh adat.
“Kita membutuhkan sistem jejaring yang kuat dan terkoneksi dengan baik. Jangan sampai ada ibu hamil berisiko tinggi yang luput dari pantauan atau balita gizi buruk terlambat ditangani hanya karena koordinasi yang tidak berjalan,” tegasnya.
Selain itu, ia meminta puskesmas dan posyandu menjadi motor penggerak utama pelayanan kesehatan di wilayah kerja masing-masing dengan mengedepankan edukasi yang humanis dan kreatif kepada masyarakat.
Karel juga mendorong pemanfaatan pendekatan berbasis kearifan lokal melalui keterlibatan tokoh adat dan tokoh agama dalam mengedukasi masyarakat terkait kesehatan ibu dan anak.
“Lakukan pendekatan yang menyentuh hati masyarakat Maybrat dan libatkan tokoh adat maupun tokoh agama untuk mengikis mitos-mitos yang merugikan kesehatan ibu dan anak,” katanya.
Bupati Maybrat juga meminta Dinas Kesehatan bersama seluruh kepala puskesmas meningkatkan pelayanan kesehatan yang prima kepada masyarakat serta memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam pembangunan sumber daya manusia di Kabupaten Maybrat.
Pewarta: Charles Fatie