Fakfak, majalahkribo.com – Sejumlah warga Kampung Us dan Adora, Distrik Teluk Patipi, Kabupaten Fakfak, yang sebelumnya diduga terpengaruh ajaran sesat dan sempat meninggalkan kampung, kini mulai kembali ke permukiman mereka. Situasi ini terungkap setelah pihak kepolisian dan tokoh masyarakat setempat turun tangan mengantisipasi potensi gangguan keamanan.
Informasi yang dihimpun majalahkribo.com dari seorang informan yang enggan disebutkan namanya menyebutkan bahwa sebagian besar warga telah kembali ke kampung setelah sebelumnya mengikuti ajaran yang dibawa empat orang berinisial NH, FK, YI, dan VT.
“Sebagian besar masyarakat sudah kembali ke kampung,” ujarnya pada Rabu malam (23/3/2022).
Namun, informan tersebut menambahkan bahwa keempat orang yang diduga menjadi otak ajaran tersebut telah melarikan diri.
“Empat orang yang merupakan pimpinan mereka kabur,” katanya.
Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, Polres Fakfak telah mengamankan beberapa warga yang terlibat langsung dalam kelompok tersebut. Mereka diamankan dari Kampung Us dan Adora, kemudian dibawa ke Polres Fakfak untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Paulus Sirwatubun, SH, pengacara sekaligus Koordinator Divisi Hukum dan Advokasi ELSHAM Papuamengapresiasi langkah cepat aparat.
“Terkait informasi yang viral tentang dugaan aliran sesat dan penyebaran hoaks, Polres Fakfak telah mengamankan beberapa masyarakat dari Kampung Us dan Adora sebagai langkah antisipasi,” ujarnya saat ditemui wartawan, Jumat siang (8/4/2022).
Proses pemulangan warga yang sebelumnya diamankan berlangsung pada pukul 10.00 WIT di Ruang Intelkam Polres Fakfak. Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan MRPB, LMA, Dewan Adat Mbaham Matta, serta Pemerintah Kabupaten Fakfak melalui Sekretaris Kesbangpol.
Aparat keamanan dilaporkan telah meningkatkan patroli di wilayah Us–Adora guna memastikan stabilitas keamanan. Polisi juga terus mengimbau warga yang masih berada di luar kampung agar kembali ke rumah masing-masing.
Paulus Sirwatubun menilai langkah Polres Fakfak sudah tepat dan sejalan dengan semboyan Polri “Melindungi dan Mengayomi Masyarakat”.
Ia juga mengapresiasi Kapolres Fakfak yang baru, yang dinilai cepat, tepat, dan terukur dalam menangani berbagai persoalan di wilayah Fakfak.
“Proses hukum yang sedang berjalan akan terus kami pantau demi kepastian hukum bagi para pelaku,” tegasnya.
Ketua KNPI Distrik Teluk Patipi, Moh Ali Sagara, turut mengecam penyebaran ajaran sesat tersebut. Ia menegaskan bahwa Fakfak merupakan wilayah yang menjunjung tinggi peradaban, pengetahuan, dan nilai-nilai agama sejak masa lampau.
“Khusus Distrik Teluk Patipi adalah simbol peradaban manusia di Kabupaten Fakfak. Kejadian ini harus diselesaikan hingga ke akar-akarnya karena dapat merusak tatanan keluarga yang dibangun atas falsafah Satu Tungku Tiga Batu,” tegasnya.
Ali Sagara juga mengapresiasi TNI–Polri, pemerintah distrik, pemerintah kampung, dan masyarakat Fakfak secara keseluruhan yang bahu-membahu membantu mengatasi situasi tersebut.
Menurutnya, masyarakat Fakfak adalah “rumpun keluarga yang tidak dapat dipisahkan oleh keadaan apa pun.”
Ia mengajak seluruh warga Jazirah Onim untuk terus menjaga tali persaudaraan dan keamanan di tanah adat mereka.
Dengan dipulangkannya warga yang sempat terpengaruh ajaran sesat, aparat keamanan berharap aktivitas masyarakat dapat kembali normal. Para tokoh adat dan pemuda pun meminta kejadian ini dijadikan pelajaran penting agar masyarakat tidak mudah termakan hoaks maupun ajaran yang bertentangan dengan agama dan kepercayaan yang dianut turun-temurun di Fakfak.
Wartawan: Ronaldo Josef Letsoin