Oleh: Ronaldo Letsoin & Pieter Letsoin
Kampung Torea merupakan satu dari 142 kampung yang berada di Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat, dan masuk dalam wilayah administrasi Distrik Pariwari. Berdasarkan data RPJM Kampung Torea Tahun 2016–2021, jumlah penduduk Kampung Torea mencapai sekitar 800 jiwa dengan 235 kepala keluarga. Mayoritas masyarakatnya memeluk agama Katolik, yakni sebanyak 755 jiwa, sementara umat Islam berjumlah 32 jiwa dan Kristen Protestan sebanyak 13 jiwa.
Secara geografis, Kampung Torea berada di bagian barat Kabupaten Fakfak dengan jarak sekitar 7,5 kilometer dari pusat Kota Fakfak yang dapat ditempuh melalui jalur darat maupun laut. Kampung ini memiliki luas wilayah sekitar 950 hektare dengan struktur kemiringan lahan 25–40 persen. Sebagian wilayahnya berupa perbukitan seluas 109 hektare dan berada pada ketinggian sekitar 500 meter di atas permukaan laut.
Kampung Torea berbatasan langsung dengan beberapa wilayah, yakni sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Dulanpokpok, sebelah selatan berbatasan dengan Laut Pulau Panjang, sebelah timur berbatasan dengan Kampung Sekban, dan sebelah barat berbatasan dengan Kampung Sekru.
Di balik letak geografisnya, Kampung Torea menyimpan nilai sejarah yang sangat penting bagi perkembangan agama Katolik di Tanah Papua. Kampung ini diyakini sebagai salah satu titik awal berkembangnya Gereja Katolik di bumi Cenderawasih. Hal tersebut didasarkan pada catatan sejarah kedatangan misionaris Katolik pertama di wilayah Fakfak pada akhir abad ke-19.
Menurut catatan Prefektur Apostolik Batavia, pada 22 Mei 1894, misionaris Serikat Jesus (SJ), Pater Cornelis Le Cocq d’Armandville tiba di Pantai Kapaur, Kampung Sekru, Fakfak. Kedatangannya disambut baik oleh warga setempat, di antaranya Dunaris Samai dan Umar Halantan Serkanasa yang saat itu telah memeluk agama Islam akibat pengaruh pedagang dari Tidore, Ternate, dan Arab yang datang berdagang rempah-rempah di wilayah tersebut.
Meski masyarakat Sekru kala itu mayoritas telah memeluk Islam, mereka tetap menerima Pater Le Cocq dengan baik. Bahkan, beliau diberikan tempat tinggal sementara di rumah Dunaris Samai. Dari sanalah Pater Le Cocq memperoleh informasi bahwa di sebelah timur Kampung Sekru terdapat masyarakat yang belum memiliki agama, yakni masyarakat yang berasal dari wilayah Torea saat ini.
Berbekal informasi tersebut, Pater Le Cocq kemudian menjalankan misinya. Dalam kurun waktu sekitar 10 hari di wilayah Kapaur dan sekitarnya, ia berhasil membaptis 73 orang. Dari jumlah tersebut, empat orang yang tercatat dibaptis adalah Kodia Homba-Homba yang kemudian diberi nama Markus Homba-Homba, Moses Sembilan Homba-Homba, Agustinus Turimondop, dan Ngah Nga Made atau Herman.
Peristiwa ini menjadi tonggak penting sejarah Gereja Katolik di Papua. Masyarakat dari Kampung Torea diyakini sebagai orang-orang pertama di wilayah barat Pulau Papua yang menerima baptisan Katolik. Karena itu, Torea layak disebut sebagai salah satu kampung bersejarah dalam perkembangan iman Katolik di Tanah Papua.
Setelah menjalankan misinya di Fakfak, pada Juni 1894 Pater Le Cocq melanjutkan perjalanan menuju Seram, Kasewui, hingga Langgur di Kei. Namun umat Katolik yang baru dibaptis tetap mempertahankan ajaran yang telah mereka terima meski saat itu belum ada imam yang menetap untuk melayani mereka. Sebagian umat bahkan sempat kembali meninggalkan ajaran Katolik karena minimnya pelayanan rohani.
Perjalanan misi Pater Le Cocq berakhir tragis pada Mei 1896 di wilayah Mimika. Saat hendak kembali ke kapal Al Bahanasa setelah menjalankan pelayanan di pesisir Mimika, sekoci yang ditumpanginya diterjang ombak besar dan terbalik di laut. Pater Le Cocq dilaporkan hilang dan jasadnya tidak pernah ditemukan. Kematian sang misionaris menjadi akhir dari tahap awal misi Katolik di Papua, tetapi benih iman yang ditanamnya terus tumbuh dan berkembang.
Perkembangan umat Katolik di Torea terus berlanjut dari generasi ke generasi. Berdasarkan catatan sejarah Stasi Santo Petrus Torea yang ditulis oleh Jimmy Piter Irenius Simon Letsoin, masyarakat Katolik Torea mulai berpindah tempat tinggal sejak tahun 1938 dari Temare Huhur (Mondokendik) menuju Dulan Paha dekat Air Hibru hingga tahun 1946. Pada tahun 1947 mereka menetap di War Prihe yang kini menjadi Kampung Torea.
Pada tahun 1974, di bawah pimpinan Laurensius Homba-Homba dan bimbingan Pater Philipus Morse, dipilih dua orang tua agama yakni Pius Homba-Homba dari Torea dan Victor Ginuni dari Dulanpokpok. Dari sinilah perkembangan umat Katolik semakin kuat melalui ibadah keluarga dan pembangunan tempat ibadah sederhana di depan SD YPPK Torea.
Semangat umat terus berkembang hingga pada tahun 1976 dibentuk panitia pembangunan gereja di bawah koordinasi Petrus Hindom. Panitia tersebut terdiri dari Lourensius Homba-Homba sebagai ketua, Andrianus Homba-Homba sebagai sekretaris, dan Wilhelmus Anggiluli sebagai bendahara. Peletakan batu pertama pembangunan gereja dilakukan pada April 1978 di bawah bimbingan Pater Nesyen.
Kemudian pada tahun 1984 dibentuk panitia kedua di bawah pimpinan Pater Pit Tep dengan Patrisius Homba-Homba sebagai ketua, Anton Kilmas sebagai sekretaris, dan Thomas Lefteuw sebagai bendahara. Berkat kerja keras umat, pada 6 April 1986, Mgr. Petrus van Diepen meresmikan dan memberkati Gereja Katolik Santo Petrus Torea.
Hingga kini, Stasi Santo Petrus Torea terus menjadi pusat pertumbuhan iman umat Katolik di wilayah tersebut. Di kawasan ini juga berdiri Biara Susteran Tarekat Maria Mediatrix dan SD YPPK Torea yang menjadi bagian penting dalam pelayanan pendidikan dan kehidupan rohani masyarakat.
Sejarah panjang Kampung Torea menunjukkan bahwa kampung kecil ini memiliki peranan besar dalam perjalanan awal Gereja Katolik di Tanah Papua. Dari wilayah inilah benih-benih iman mulai tumbuh, bertahan, dan berkembang hingga menjadi bagian penting dari sejarah kekatolikan di bumi Cenderawasih.