CERPEN – Hampir semua orang di kampung mengantar Lukas depan jalan utama untuk menunggu mobil yang akan ke kota. Lukas, pemuda teladan di kampung, pintar di sekolah dan rajin ke gereja. Semua orang tua di kampung ingin anak mereka harus seperti Lukas. Lukas tidak hanya pintar, tapi ia rajin membantu kedua orang tuanya dirumah yang sudah usia senja.

“Lukas jangan ingat kami dua selama Ko sekolah di kota, kami dua sudah tua dan akan ditelan waktu. Ko sekolah harus berhasil dan sukses supaya Ko kembali lihat orang-orang di kampung sini. Di kota Ko harus kenal banyak orang supaya ade-ade di kampung bisa ikut Ko sekolah lagi dan melihat banyak orang,” kata kedua orang tuanya sambil memeluk Lukas dengan air mata. Kesedihan kedua orang tua dan semua orang yang mengantar Lukas seperti mereka berpisa untuk selamanya.

“Terimakasih Mama dan Bapa, dan kamu semua sampai ketemu lagi nanti. Sa sayang kamu semua,” balas Lukas dengan air mata setelah lepas pelukan dari kedua orang tuanya.

Mobil hitam membawa Lukas dan empat orang dalam mobil melaju ke kota. Malam terakhir di kampung, semua orang berkumpul melepas metafisika mereka diatas Lukas. Mereka masak Babi, sayur paku dan ubi sebagai acara perpisahan dengan Lukas. Mereka makan sambil bernyanyi dalam bahasa ibu untuk Lukas. Berharap alam kampung menjaga Lukas di kota. Malam yang panjang, mereka bersantai berbagi canda tawa sambil minum kopi hingga tembus subuh.

“Lukas, selamat datang di kota yang tidak seperti biasanya,” kata seorang pria di pinggir jalan raya depan hotel sambil senyum lebar.

Di suatu masa yang tidak terlalu lama, Lukas di sebuah kota yang penuh dengan kedamaian dan kebahagiaan. Kota itu dikenal dengan nama Kota Damai. Penduduknya hidup rukun, saling tolong-menolong, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan dari budaya dan sedikit agama.

Anak-anak bermain riang di taman, para orang tua bercengkerama di bangku-bangku yang tersebar, dan remaja-remaja menghabiskan waktu sore mereka dengan tertawa bersama di para-para pinang sambil minum kopi dan cerita mob hingga jam malam. Kadang tembus pagi.

“Kawan sa tidak ingin sekolah lagi,” kata Ansel depan kantor bupati menuju arah pasar diatas motor bersama Lukas.

“Kenapa Kawan?” tanya Lukas.

“Kondisi hari ini sekolah macam tidak penting, percuma selagi ada sistem yang menjajah hidup kita baru kita terus sekolah, tidak penting bagi sa kawan,” balas Ansel setelah berhenti di lampu merah.

“Kita sekolah supaya nanti kita bisa bicara kawan,” balas Lukas memikirkan sekolah lebih baik daripada tidak sekolah.

“Tidak kawan, nanti ko bergabung saja di kami punya tim supaya nanti paham, minggu depan sa bawa ko nanti,” ajak Ansel.

“Tidak kawan, sa kaka bilang kalau sa dirumah saja, kerja bantu jaga ternak dan bersih-bersih rumah dan ke sekolah. Sa lebih percaya sa punya keluarga jadi maaf Kawan,” Lukas tolak ajakan Ansel .

“Tidak sekolah bukan berarti kita berhenti belajar kawan. Pendidikan Indonesia itu menjajah, jadi kita belajar diluar saja,” balas Ansel dengan suara meninggi dari rendah.

Di kota, sesuatu yang aneh telah terjadi. Malam-malam yang tenang mendadak dipenuhi bisikan-bisikan samar, cahaya-cahaya aneh terlihat berkilauan di langit, dan penduduk mulai merasakan kehadiran sesuatu yang jahat, seakan malam ada monster lapar dalam kota, dikesunyian. Kegiatan sehari-hari yang sebelumnya berjalan mulus, mulai diwarnai dengan ketegangan dan kecurigaan dimana-mana. Malam telah rusak dan banyak konflik bermunculan di sudut-sudut kota.

Lukas lahir dan besar di Kampung, jauh dari kota, lebih banyak Ia tinggal di kampung, jarang di kota. Jarak kampung dan kota tiga ratus kilo merer dari pusat pemerintahan kota. Lukas baru satu minggu di kota dari kampung untuk melanjutkan sekolah menengah pertama (SMP) Lukas tinggal dengan adik perempuan dari bapak kandung (tanta) yang lama menjadi guru sekolah dasar (SD) di kota. Lukas sudah mendaftar Sekolah Menengah Atas (SMA) Hanya menunggu informasih diterima dan tidak.

Beberapa hari kemudian informasih diterima datang. Lukas segera masuk sekolah. Hari minggu sore Lukas belanja seragam sekolah dengan uang yang dia bawah dari orang tuanya yang hidup bergantung pada ternak babi, ayam dan berkebun di alam bebas. Hasil uang dari kebun dan ternak. Lukas bangga dan tidak sabar memakai seragam sekolah. Lukas mencoba seragam depan cermin dikamar sebelum besok pagi berangkat sekolah. Ia ingin hari senin besok cepat datang. Lukas akan masuk sekolah pagi buta dengan seragam putih abu-abu, dasi, kaos kaki putih, sepatu hitam dan tas merek apollo berisi buku dan alat tulis yang masih polos.

“Kawan ko dimana?” tanya Ansel melalui sambungan telfon pada Lukas. Ansel teman lama waktu di sekolah dasar (SD) di kampung. Mereka berpisah saat Ansel lebih memilih lanjut SMP di kota dan Lukas tetap lanjut SMP di Distrik. Sepuluh kilo meter dari Kampung ke pusat Distrik.

“Sa di rumah kawan?” balas Lukas. Mereka pernah bertemu hanya sekali setelah berpisah 3 tahun yang lalu di kampung.

“Ada motor Kawan, ayo kita jalan-jalan kah?” ajak Ansel.

“Oke Kawan, jemput Sa sudah, tapi Sa harus pulang cepat karena besok pagi Sa harus masuk sekolah,” balas Lukas tidak sabar untuk besok masuk sekolah perdana dengan seragam baru, memulai belajar untuk mengejar harapan orang tua. Lukas ingin membahagiakan kedua orang tua dan melihat orang-orang di kampung dikemudian hari nanti.

Jam sepuluh malam. Bumi telah basah dengan hujan. Lobang-lobang jalan berbentuk kolam kecil dibeberapa titik. Hujan telah berhenti turun diatas kota yang telah berubah dimata orang-orang kota. Tidak banyak kendaraan yang bergerak banyak arah seperti lima tahun yang lalu. Gelap dan sunyi nampak dimata. Tidak seperti dua tahun yang lalu, orang-orang masih duduk di para-para pinang berbagi cerita. Ansel belum berpikir untuk masuk sekolah setelah tamat SMP. Ia ingin berhenti dari sekolah karena sudah tidak percaya pada pendidikan formal. Dia ingin hidup sebagai manusia yang percaya pada diri sendiri dengan apa yang Dia suka.

Jam sepuluh lewat dua puluh menit. Depan toko minuman alkohol, tepat di sampin hotel berlante dua berwarna dasar hijau. Beberapa orang duduk depan ruko dan kios, mereka duduk melingkar seakan sedang bermain kartu diacara duka. Menghisap rokok sambil banyak bahasa tidak jelas. Beberapa orang sudah mabuk berat. Ada beberapa botol kawa-kawa, vodka yang kosong berserakan dipingiran mereka duduk. Mereka terlihat muda, usia pelajar. Dua orang berpakaian loreng tentara berwarna kumuh sudah mabuk. Bersepatu lumpur, berwarna tanah liat, pakean dilapisi jaket tebal, baju dan celana sudah kotor berhari-hari. Dari kesunyian mereka dampak seperti kelompok zombie sedang duduk bigung-bigung.

“Ansel!” pangil seorang diantara mereka sambil Ia berdiri melangkah dengan miring.”Ada rokok ka?” Minta pria remaja dengan wajah permohonan, bola mata merah, bibir membengkak basah seperti kena gigitan lebah. Ia bertopi rasta membungkus rambut yang sudah telingkar seperti Bob Marley.

“Malam jadi kamu juga balik kerumah sudah. Sa dengan kawan Dia lanjut dulu,” pamit Ansel kepada pria kurus yang sudah mabuk berat.

“Sabar..sabar, baru yang itu bagaimana?” tanya pria yang sudah mabuk berat dengan sedikit sadar, wajahnya menyimpan rahasia.

“Itu nanti baru kita bicara,” balas Ansel tarik gass motor meninggalkan mereka.

Hujan kembali muncul dengan rintik-rintik pelan. Lukas dan Ansel berada dijalan pulang ketika jarum jam semakin mendekati jam dua belas malam. Belum jauh. Bunyi kendaraan bertabrakan dijarak seratus meter kedepan. Suara orang-orang berteriak. Satu mobil hitam berlari kencang dengan bunyi ban yang menakutkan. Jalan sudah dipenuhi orang-orang yang keluar dari rumah.

Ada orang yang melihat lalu pergi dengan takut, ada yang hanya berhenti untuk photo. Seorang pribumi hitam yang agak gemuk tanpa helem tergeletak diatas aspal, tidak bergerak, kepala hancur seperti buah semangka yang picah diatas semen. Daging segar berserakan kemana-mana, darah panas mengalir arah dataran rendah.

“Tadi mobil hitam sengaja tabrak baru lari,” jelas seorang bapak yang menjaga jualan pinang di pondok kayu.

“Tadi motor jalan pelan saja , tapi mobil itu sengaja tabrak cepat dari belakan, sa lihat jelas sekali,” lanjut bapak penjual pinang.

Hanya beberapa menit saja Polisi dengan suara sirine datang dengan mobil jenasa dan mobil sabhara. Beberapa anggota Polisi lengkap dengan atribut perang turun dari mobil dan mengusir orang-orang yang berada disekitar mayat yang sudah patah-patah dan hancur. Mayat sudah dibawa pergi, tapi potongan daging dan darah berserahkan dijalan aspal hitam.

“Kawan antar Sa pulang sudah, besok Sa masuk sekolah jadi,” minta Lukas kepada Ansel diatas motor setelah diusir Polisi tadi.

“Ok kawan, kita putar sedikit baru sa antar,” balas singkat Ansel.

“Ok sudah kawan baik,” balas Lukas.

Diatas motor Lukas bertanya-tanya dalam kepala. Apa yang dipikirkan dengan mereka yang duduk seperti dirumah depan toko di sampin jalan utama hingga jam malam, bukankah semua orang Papua punya tanah dan rumah yang bisa tidur santai dengan sehat? Lukas tidak habis pikir dengan mobil hitam yang sengaja tabrak motor lalu pergi dengan balap. Lukas merasah aneh melihat orang-orang yang mabuk seperti zombie. Ia sangat sedih melihat mayat yang sudah tidak bernyawa diatas aspal; kepala, kaki, dan tangan hancur terbagi-bagi karena ban mobil yang berputar kencang.

Kenapa orang tanpa dosa harus mati seperti seekor tikus yang hancur tergiring kendaraan diatas aspal. Lukas merasah aneh melihat kedatangan Polisi dengan senjata lengkap? Kenapa tidak ada dokter untuk pertolongan pertama? Entahlah siapa yang melapor Polisi dengan cepat ditengah malam yang sunyi? Aneh, Polisi datang seakan ada ancaman teroris di Kota? Polisi mengusir orang-orang dari sekeliling mayat? seakan mayat itu pelaku kejahatan yang sudah bertahun-tahun diburu Polisi karena berbahaya.

Bau amis sampah campur minuman lokal bobo masuk lobang hidung setelah lewati salah satu pasar. Depan kios dan ruko disamping jalan utama kota, diantara kerumunan orang-orang non pribumi, dua orang pribumi pesisir dan gunung sedang berkelai.

Mereka menjadi tontonan yang asyik seperti tinju diatas ring. Dua wajah pria itu mandi darah, saling hajar dengan emosi tinggi_mata dan hitung membengkak mengeluarkan darah, air mata dan air liur dari mulut.

“Kenapa polisi tidak datang amankan mereka itu,” tanya Lukas kepada Ansel diatas motor yang terus berjalan.

“Siapa suruh miras, biar sudah mereka dua baku pukul sampe mati,” balas kesal Ansel.

“Tidak begitu kawan, konflik itu tanggung jawab Polisi menjaga negara. Sekalipun membunuh dengan motif juga tugas negara” balas Lukas.

“Kawan dari kampung tapi tau juga eh,” respon Ansel heran.

“Sa di kampung baca buku setiap hari Kawan, dan Sa jadi suka belajar sampai sekarang,” balas Lukas.

Setelah belok kiri, mereka melaju di jalan sunyi, tidak ada lampu jalan selain sinar lampu-lampu kecil dari rumah-rumah yang berjarak diantara pepohonan. Mencekam. Tidak ada orang yang beraktifitas dengan kendaraan. Tidak ada yang berjalan kaki atau berkumpul depan mata jalan sambil makan pinang dan minum kopi. Jauh malam. Jam satu lewat dua puluh menit. Bulu badan berdiri mengigat orang mati dengan banyak darah karena ditabrak mobil hitam, juga ingat orang mabuk yang seperti zombie depan ruko dan kios.

Tiba-tiba muncul mobil hitam dari mata jalan lain dan mengikuti mereka. Berjalan sejauh seratus meter_mobil itu semakin balap dengan gass tinggi. Lukas berteriak keras dengan takut, tapi Ansel menghiraukan. Mobil hitam itu menabrak Lukas dan Ansel dari belakan dengan cepat dan keras. Tulang belakan Lukas patah kena bemper baja. Kepala Lukas kena tembok pagar batu, sum-sum putih campur darah berhamburan pada tembok batu semen.

Lukas kesulitan tarik napas selama lima menit. Lukas menghembuskan napas terakhir. Darah merah pada tembok pagar semen sudah seperti cat merah. Sum-sum putih berbentuk bintang putih ditengah merah darah. Motor sudah hancur tidak berbentuk. Lukas sempat melihat mobil hitam tadi berhenti dekat mereka setelah putar kembali. Dua orang berpakean hitam turun dari mobil dan berbicara sesuatu pada Ansel yang sudah berdiri dengan berat, terpincang-pincang.

“Bagaimana, ko aman?” suara kecil samar-samar masuk telingga Lukas.

“Aman boss,” balas Ansel dengan suara berat.

“Dor! Dor! Dor!” bunyi keras menembus daging dan tulang.

Pagi buta orang-orang hitam sudah berkumpul depan tembok pagar milik bapak Koyeidaba. Semua orang berdiri tegak dengan berbaris rapi. Mereka kompak menghormati dengan tangan depan dada. Hampir semua orang mengeluarkan air mata sambil berdoa,”Tuhan, sampai kapan kami begini”

“Lukas bangun! Ini sudah jam sembilan pagi, Ko harus siap-siap dan pergi ke Kota. Mobil hitam sudah menunggu penumpan di jalan besar diatas, ayo!!” suara-suara kecil yang datang dari jauh mengkagetkan jiwa Lukas yang berbaring nyenyak. Lukas bangun dari tidur dan orang-orang telah gegas mengantarnya ke kota. Lukas telah sampai di Kota.

(Abepura, 2024 ND)

Share this Link

Comments are closed.