Penulis: R’naldo

  • Bahlil Lahadalia Batalkan Smelter di Fakfak, Pengamat Ekonom UGM: Itu Ada Keputusan Yang Blunder

    Bahlil Lahadalia Batalkan Smelter di Fakfak, Pengamat Ekonom UGM: Itu Ada Keputusan Yang Blunder

    Jakarta – Keputusan Menteri Investasi Bahlil Lahadalia soal proyek smelter tembaga di Fakfak, Papua Barat, yang dialihkan ke Gresik, Jawa Timur ditengarai tidak memiliki alasan yang kuat.

    Hal tersebut disampaikan oleh pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi. Ia menilai langkah masyarakat adat yang berencana melayangkan gugatan terhadap Menteri Bahlil melalui kuasa hukum Haris Azhar itu karena pada dasarnya tak ada alasan kuat memindahkan smelter.

     

    “Itu ada keputusan yang blunder,” ucap Fahmy saat dihubungi, Kamis, 24 Maret 2022.

    Fahmy menyatakan pemerintah Indonesia seharusnya bisa mengusahakan agar proyek smelter tetap dapat berjalan di lokasi yang telah direncanakan. Bila masalahnya adalah infrastruktur, ia yakin pemerintah dapat mengatasi dengan membangunnya secara cepat.

    Adapun pemindahan proyek ini ditengarai akan merugikan masyarakat Fakfak lantaran kehilangan potensi serapan ekonomi. Masyarakat, kata dia, semestinya bisa mendapatkan nilai tambah dari peningkatan pajak hingga pembukaan lapangan pekerjaan.

    Proyek smelter atau peleburan tembaga yang dimasalahkan masyarakat adat ini merupakan proyek PT Freeport Indonesia, PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID), dan China ENFI Engineering Indonesia. Ketiga perusahaan meneken nota kesepahaman pada 2021.

    Menurut rencana awal, kapasitas peleburan tembaga akan mencapai 400 ribu ton per tahun jika smelter beroperasi. Adapun berdasarkan rencana investasinya, total kebutuhan modal untuk proyek ini US$ 2,3 miliar yang terbagi atas dua tahap.

    Namun di tengah jalan, smelter itu dipindahkan ke Gresik, Jawa Timur. Pemindahan berlangsung saat ENFI sudah mengeluarkan preliminary study atau studi pendahuluan.

    Fahmy mengatakan pemindahan itu juga bisa membuat citra Indonesia sebagai negara tujuan investasi tercoreng. Investor di sektor pertambangan akan melihat kebijakan Indonesia mengenai smelter dapat berubah-ubah.

    “Padahal sudah banyak investor yang akan masuk membangun smelter. Mereka bisa kecewa karena iklim investasi yang tidak. Secara makro, sangat merugikan,” kata Fahmy.

    Direktur Eksekutif Lokataru Haris Azhar mengatakan masyarakat Adat Mbaham Matta Fakfak mempermasalahkan langkah Kementerian Investasi memindahkan smelter tembaga dari Papua Barat ke Gresik. Masyarakat melalui Haris sebagai kuasa hukumnya akan melayangkan gugatan terhadap Menteri Investasi Bahlil Lahadalia.

    “Masyarakat bilang datang enggak pamit, pergi enggak pamit. Jadi ini bukan hanya rakyat yang digusur. Investor banyak dikerjain sama pemerintah,” ujar Haris saat ditemui di kantornya, Jakarta Timur, Rabu, 23 Maret 2022.

    Proyek smelter atau peleburan tembaga melibatkan PT Freeport Indonesia, PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID), dan China ENFI Engineering Indonesia. Ketiga perusahaan meneken nota kesepahaman pada 2021.

    Menurut rencana awal, kapasitas peleburan tembaga akan mencapai 400 ribu ton per tahun jika smelter beroperasi. Adapun berdasarkan rencana investasinya, total kebutuhan modal untuk proyek ini US$ 2,3 miliar yang terbagi atas dua tahap.

    Sumber: Tempo

    https://bisnis.tempo.co/read/1574295/masyarakat-adat-protes-smelter-fakfak-pakar-ada-keputusan-yang-blunder

  • Telah di Buka Posko Bantuan Untuk Masyarakat Kampung US

    Telah di Buka Posko Bantuan Untuk Masyarakat Kampung US

    Fakfak, mahalahkribo.com Pemuda Katolik Komcab Fakfak telah membuka posko bantuan untuk masyarakat di kampung US-Adora, Distrik Teluk Patipi, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

    Diinformasikan kepada masyarakat Fakfak yang ingin menyalurkan bantuan tersebut, dapat menghubungi nomor kontak 081322011830 atau bisa saja langsung mengantar bantuan tersebut di Pastoran Paroki Santo Yosep Fakfak.

    Sebagai informasi tambahan, masyarakat kampung US yang diduga termakan hipnotis aliran sesat oleh 4 oknum dengan Inisal NH, FK, YI, dan VT, dikabarkan sebagain besar masyarakat telah kembali ke kampung.

    53 Warga dari Kampung Berpindah Ke Hutan

  • Haris Azhar Wakili Dewan Adat Mbaham Matta Fakfak Siapkan Gugatan Untuk  Bahlil Lahadalia

    Haris Azhar Wakili Dewan Adat Mbaham Matta Fakfak Siapkan Gugatan Untuk Bahlil Lahadalia

    Jakarta – Direktur Eksekutif Lokataru Haris Azhar mewakili Dewan Adat Mbaham Matta Fakfak berencana melayangkan gugatan terhadap Menteri Investasi Bahlil Lahadalia. Gugatan itu berkaitan dengan proyek smelter tembaga di Papua Barat yang dialihkan ke Gresik, Jawa Timur.

    “Somasi sudah dilayangkan. Kami beri waktu tujuh hari, karena tidak ditanggapi, kami akan ajukan gugatan kepada Bahlil,” ujar Haris saat ditemui di kantornya, Jakarta Timur, Rabu, 23 Maret 2022.

    Proyek smelter atau peleburan tembaga melibatkan PT Freeport Indonesia, PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID), dan China ENFI Engineering Indonesia. Ketiga perusahaan meneken nota kesepahaman pada 2021.

    ENFI yang merupakan perusahaan pelat merah asal Negeri Tirai Bambu telah membuat kajian preliminary study atau studi pendahuluan untuk proyek tersebut. Menurut rencana awal, kapasitas peleburan tembaga akan mencapai 400 ribu ton per tahun jika smelter beroperasi.

    Adapun total investasi untuk proyek diperkirakan mencapai US$ 1,17 miliar bila mengacu pada sejumlah asumsi. Haris menuturkan pengalihan proyek ini menyebabkan potensi pekerjaan bagi penduduk setempat raib.

    “Selain itu, proyek belum jadi tapi sudah dipindahkan ke Gresik. Argumentasinya apa? Kenapa tidak dipindah sebelum hasil FS terbit?” kata Haris.

    Di sisi lain, ia melihat pengalihan proyek peleburan ke Kawasan Ekonomi Khusus di Gresik mencederai kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah pusat. Pengalihan tersebut menunjukkan adanya inkonsistensi dan potensi fraud atas pernyataan-pernyataan Menteri Investasi yang berkaitan dengan rencana pembangunan proyek peleburan tembaga di Fakfak dan implementasinya.

    Di sisi lain, ia melihat pengalihan proyek peleburan ke Kawasan Ekonomi Khusus di Gresik mencederai kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah pusat. Pengalihan tersebut menunjukkan adanya inkonsistensi dan potensi fraud atas pernyataan-pernyataan Menteri Investasi yang berkaitan dengan rencana pembangunan proyek peleburan tembaga di Fakfak dan implementasinya.

    Adapun pengalihan proyek ini disinyalir juga bakal menguntungkan perusahaan-perusahaan tertentu. Haris mengatakan kliennya sudah menunggu iktikad baik Bahlil untuk menanggapi surat teguran, namun layang tersebut belum berbalas.

    Dihubungi dua kali ihwal somasi dan gugatan dari Dewan Adat Mbaham Matta Fakfak, Bahlil belum merespons.

    Sumber: Tempo

    https://bisnis.tempo.co/read/1574066/haris-azhar-siapkan-gugatan-untuk-bahlil-soal-smelter-fakfak-datang-pergi-enggak-pamit

  • Sebagian Besar Warga Kembali Ke Kampung, Pimpinan Ajaran Sesat Sudah Kabur

    Sebagian Besar Warga Kembali Ke Kampung, Pimpinan Ajaran Sesat Sudah Kabur

    Fakfak, majalahkribo.com – Sejumlah warga Kampung Us dan Adora, Distrik Teluk Patipi, Kabupaten Fakfak, yang sebelumnya diduga terpengaruh ajaran sesat dan sempat meninggalkan kampung, kini mulai kembali ke permukiman mereka. Situasi ini terungkap setelah pihak kepolisian dan tokoh masyarakat setempat turun tangan mengantisipasi potensi gangguan keamanan.

    Informasi yang dihimpun majalahkribo.com dari seorang informan yang enggan disebutkan namanya menyebutkan bahwa sebagian besar warga telah kembali ke kampung setelah sebelumnya mengikuti ajaran yang dibawa empat orang berinisial NH, FK, YI, dan VT.

    “Sebagian besar masyarakat sudah kembali ke kampung,” ujarnya pada Rabu malam (23/3/2022).
    Namun, informan tersebut menambahkan bahwa keempat orang yang diduga menjadi otak ajaran tersebut telah melarikan diri.

    “Empat orang yang merupakan pimpinan mereka kabur,” katanya.

    Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, Polres Fakfak telah mengamankan beberapa warga yang terlibat langsung dalam kelompok tersebut. Mereka diamankan dari Kampung Us dan Adora, kemudian dibawa ke Polres Fakfak untuk pemeriksaan lebih lanjut.

    Paulus Sirwatubun, SH, pengacara sekaligus Koordinator Divisi Hukum dan Advokasi ELSHAM Papuamengapresiasi langkah cepat aparat.

    “Terkait informasi yang viral tentang dugaan aliran sesat dan penyebaran hoaks, Polres Fakfak telah mengamankan beberapa masyarakat dari Kampung Us dan Adora sebagai langkah antisipasi,” ujarnya saat ditemui wartawan, Jumat siang (8/4/2022).

    Proses pemulangan warga yang sebelumnya diamankan berlangsung pada pukul 10.00 WIT di Ruang Intelkam Polres Fakfak. Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan MRPB, LMA, Dewan Adat Mbaham Matta, serta Pemerintah Kabupaten Fakfak melalui Sekretaris Kesbangpol.

    Aparat keamanan dilaporkan telah meningkatkan patroli di wilayah Us–Adora guna memastikan stabilitas keamanan. Polisi juga terus mengimbau warga yang masih berada di luar kampung agar kembali ke rumah masing-masing.

    Paulus Sirwatubun menilai langkah Polres Fakfak sudah tepat dan sejalan dengan semboyan Polri “Melindungi dan Mengayomi Masyarakat”.

    Ia juga mengapresiasi Kapolres Fakfak yang baru, yang dinilai cepat, tepat, dan terukur dalam menangani berbagai persoalan di wilayah Fakfak.

    “Proses hukum yang sedang berjalan akan terus kami pantau demi kepastian hukum bagi para pelaku,” tegasnya.

    Ketua KNPI Distrik Teluk Patipi, Moh Ali Sagara, turut mengecam penyebaran ajaran sesat tersebut. Ia menegaskan bahwa Fakfak merupakan wilayah yang menjunjung tinggi peradaban, pengetahuan, dan nilai-nilai agama sejak masa lampau.

    “Khusus Distrik Teluk Patipi adalah simbol peradaban manusia di Kabupaten Fakfak. Kejadian ini harus diselesaikan hingga ke akar-akarnya karena dapat merusak tatanan keluarga yang dibangun atas falsafah Satu Tungku Tiga Batu,” tegasnya.

    Ali Sagara juga mengapresiasi TNI–Polri, pemerintah distrik, pemerintah kampung, dan masyarakat Fakfak secara keseluruhan yang bahu-membahu membantu mengatasi situasi tersebut.

    Menurutnya, masyarakat Fakfak adalah “rumpun keluarga yang tidak dapat dipisahkan oleh keadaan apa pun.”

    Ia mengajak seluruh warga Jazirah Onim untuk terus menjaga tali persaudaraan dan keamanan di tanah adat mereka.

    Dengan dipulangkannya warga yang sempat terpengaruh ajaran sesat, aparat keamanan berharap aktivitas masyarakat dapat kembali normal. Para tokoh adat dan pemuda pun meminta kejadian ini dijadikan pelajaran penting agar masyarakat tidak mudah termakan hoaks maupun ajaran yang bertentangan dengan agama dan kepercayaan yang dianut turun-temurun di Fakfak.

    Wartawan: Ronaldo Josef Letsoin

  • Didoktrin Gunakan Isu Papua Merdeka, Warga di Mulai Meningalkan Kampung

    Didoktrin Gunakan Isu Papua Merdeka, Warga di Mulai Meningalkan Kampung

    Fakfak, majalahkribo.com – Sejumlah warga Kampung US–Adora di Distrik Teluk Patipi, Kabupaten Fakfak, dilaporkan meninggalkan permukiman mereka dan memilih tinggal di hutan setelah diduga terpengaruh ajaran sesat yang memanfaatkan isu Papua Merdeka untuk menarik pengikut. Ajaran tersebut diduga dilakukan oleh empat orang dari luar Papua.

    Peristiwa ini pertama kali terungkap pada Selasa siang, 22 Maret 2022, ketika seorang warga dari kampung tetangga melaporkannya kepada majalahkribo.com. Informan tersebut menyebut warga diajak meninggalkan kampung dengan iming-iming pengharapan politik yang dikaitkan dengan kemerdekaan Papua.

    “Mereka menyampaikan bahwa Papua sebentar lagi merdeka. Itu yang membuat banyak warga ikut mereka ke hutan,” ujar informan yang meminta identitasnya dirahasiakan.

    Menurut informan, kelompok ini mengajak warga melakukan ritual penyembahan terhadap “guru” mereka di tengah hutan, bukan berdoa sesuai ajaran agama. Aktivitas pemujaan dilakukan pada malam hari dan disebut menyerupai ritus doa Gereja Katolik.

    “Segala macam doa yang dipakai adalah ritus-ritus ajaran Katolik, tapi tujuannya menyimpang,” ungkap Ketua Pemuda Katolik Komcab Fakfak, Bartol Nauri, Selasa malam (22/3/2022).

    Bartol menyebut sebagian besar warga yang ikut adalah umat Katolik dari Paroki Santo Paulus Wagom.

    “Umat yang melarikan diri itu ibu-ibu, anak-anak, dan juga orang tua,” jelasnya.

    Kelompok ini disebut kembali ke kampung beberapa kali untuk memaksa warga lain ikut bergabung. Warga yang menolak bahkan diancam dengan senjata tajam.

    “Kalau tidak ikut, mereka ancam akan dibunuh,” kata informan.

    Bartol menegaskan bahwa isu Papua Merdeka menjadi alat utama para pelaku dalam melakukan doktrin.

    “Mereka gunakan isu Papua Merdeka untuk memperkuat doktrin mereka. Mereka memberikan pengharapan kepada umat bahwa sebentar lagi Papua akan merdeka,” jelas Bartol.

    Menurutnya, ajaran tersebut bukan hanya menargetkan umat Katolik, melainkan juga warga dari GKI dan GBI.

    Pemuda Katolik mengaku tengah menelusuri latar belakang para pelaku dan berkoordinasi dengan berbagai OKP untuk memastikan dampaknya tidak meluas.

    Pada Selasa, 29 Maret 2022, Tim Gabungan Polres Fakfak dipimpin Kasat Reskrim Iptu Handam Samudra mengamankan dua pimpinan kelompok berinisial DA dan RI beserta 11 pengikutnya di kawasan Adora–US.

    “Mereka dijemput pukul 09.25 WIT dan tiba di Polres Fakfak sekitar pukul 12.00 WIT,” kata Iptu Handam.

    Hingga kini polisi telah memeriksa 21 orang terkait kasus tersebut.

    Sementara itu, empat orang yang diduga menjadi dalang utama NH, FK, YI, dan VT dilaporkan melarikan diri ke hutan dan belum ditemukan.

    Aparat keamanan dilaporkan rutin melakukan patroli ke wilayah US–Adora. Polisi juga mengimbau warga yang masih berada di hutan agar segera kembali ke kampung.

    Ketua MUI Fakfak dan pimpinan GPI Papua telah mendatangi Polres Fakfak untuk memberikan pendampingan rohani kepada warga yang terpengaruh ajaran tersebut.

    “Yang paling penting adalah menyelamatkan masyarakat yang terlanjur terpengaruh doktrin ini,” ujar Ketua MUI Fakfak, Drs. Muhammadon Dg Husein.

    Sementara Pdt. Ris Rotasouw menyebut pihaknya telah bertemu kepolisian untuk memberikan pelayanan pastoral bagi jemaat GPI yang ikut kelompok tersebut.

    Informasi terbaru menyebut sebagian besar warga yang sebelumnya berada di hutan telah kembali ke pemukiman.

    “Sebagian besar masyarakat sudah kembali ke kampung,” kata informan, Rabu malam (23/3/2022).

    Aparat dan tokoh agama berharap warga yang tersisa dapat segera kembali, dan persoalan ini tidak lagi dimanfaatkan pihak tertentu untuk menyebarkan doktrin berbahaya.

    Wartawan: Ronaldo Josef Letsoin

  • Pemuda Katolik Fakfak : “Ada Oknum Dari Luar Papua Mendoktrin Warga dan Membawa Mereka Lari Kehutan”

    Pemuda Katolik Fakfak : “Ada Oknum Dari Luar Papua Mendoktrin Warga dan Membawa Mereka Lari Kehutan”

    Fakfak, majalahkribo.com – Ada oknum – oknum yang berasal dari luar Papua, lalu membawa doktrin dan dokma kepada masyrakat di kampung US, Distrik Teluk Patipi, kabupaten Fakfak, Papua Barat, hingga termakan doktrin tersebut dan akhirnya ikut ajaran sesat itu beribadah serta melaksanakan ritual di hutan.

    Peristiwa yang sedang terjadi itu, membuat Pemuda Katolik Komcab Fakfak ikut merespon hal tersebut. Bartol Nauri mengatakan, ajaran sesat tersebut diduga mengikuti ritus – ritus doa yang di ajarkan oleh gereja Katolik.

    “Persoalan yang di kampung US, ini dikarenakan si oknum tersebut masuk di daerah yang mayoritasnya beragama katolik, disitu ada Stasi yang berada di wilayah paroki Santo Paulus Wagom.

    Saat ini pemuda Katolik sedang mengambil langka -langka untuk mencari tau tentang oknum – oknum tersebut, artinya ada target mencari tau latarbelakang apa ini & seperti apa. Karena segala macam doa yang di gunakan oleh oknum – oknum ini merupakan doa dan ritus-ritus ajaran katolik.

    Kita sedang mencari tau sepertinya aliran yang sesat”, kata ketua Pemuda Katolik.

    Ketua PK Komcab Fakfak yang sapaan akrabnya di panggil Atol melanjutkan, doktrik yang diberikan kelompok ajaran sesat itu, bukan hanya menarik umat Katolik untuk bergabung, tetapi ada juga umat GPI dan GKI yang telah ikut ke hutan.

    “Untuk menanggapi permasalahan di kampung US, pemuda Katolik sendiri sedang berkoordinasi dengan OKP lain. Hal ini dikarenakan bukan hanya Umat Katolik yang terjerumus dalam ajaran tersebut, namun ada dari Umat GKI dan GBI yang ikut”, lanjutnya.

    Peristiwa yang saat ini membuah warga ketakutan ini telah di laporkan ke pihak keamanan “ telah dilaporkan oleh kepala distrik ke pemerintah daerah. Dan pada hari Senin juga mengikut ke kampung US untuk melakukan penjemputan, Dalam artian yang dijemput oleh aparat ini hanya untuk melakukan pembinaan saja”,katanya.

  • 53 Warga dari Kampung Berpindah Ke Hutan

    53 Warga dari Kampung Berpindah Ke Hutan

    Kampung US Foto By: Fakfak Tourism

    Fakfak, majalahkribo.com 3 Orang yang berasal dari luar Kabupaten Fakfak dan 1 orangnya lagi berasal dari kabupaten Fakfak berhasil menghipnotis warga Fakfak yang berada di kampung US.

    Selain menghipnotis warga, keempat orang itu diduga merupakan otak dibalik ajaran sesat yang saat lagi berkembang di seputaran hutan kampung US.

    Media ini memperoleh data kurang lebih 53 orang yang telah mengikut ajaran ini. Situasi kampung US sendiri telah kosong tanpa ada satu pun orang yang berada di kampung.

    Riky I. diduga merupakan salah nama dari ke tiga pimpinan kelompok ini. Diduga Riky dan kawan – kawannya mengunakan ritus doa yang di ajarkan oleh gereja Katolik, namun mereka beribadah di hutan dan belajar ilmu sihir serta tidak seperti yang di ajarkan gereja Katolik sesungguhnya.

    Tak hanya doa Katolik yang di gunakan oleh kelompok yang mengajarkan ajaran sesat, umat Katolik di stasi setempat ikut di hipnotis oleh mereka. Selain umat Katolik, ada umat juga dari GKI dan GBI.

    Selain itu, mereka mengunakan alat tajam dan mengancam warga yang belum ikut ajaran mereka agar ikut bersama mereka.

    R.L

  • Diduga Aliran Sesat, Warga di Kampung US Kabupaten Fakfak Pindah Ke Hutan

    Diduga Aliran Sesat, Warga di Kampung US Kabupaten Fakfak Pindah Ke Hutan

    Ilustrasi Foto

    Fakfak, majalahkribo.com  — Sejumlah warga Kampung US di Distrik Teluk Patipi, Kabupaten Fakfak, sempat meninggalkan permukiman mereka dan tinggal di kawasan hutan setelah diduga terpengaruh ajaran sesat yang dibawa empat orang dari luar Papua. Peristiwa tersebut pertama kali terungkap pada Selasa siang, 22 Maret 2022, saat seorang warga dari kampung tetangga melaporkannya kepada majalahkribo.com.

    “Ada orang dari luar Papua datang ke kampung dan menghipnotis warga untuk tinggal di hutan,” ujar informan yang meminta identitasnya dirahasiakan.

    Menurut informan, warga yang terpengaruh diajak beribadah di dalam hutan, bukan untuk menyembah Tuhan, melainkan mengagungkan “guru” mereka yang dianggap sebagai sosok ilahi. Aktivitas pemujaan disebut dilakukan pada malam hari.

    “Mereka menyembah guru mereka kalau malam. Aktivitas mereka semua di tengah hutan,” lanjutnya.

    Informan juga menyebut, kelompok tersebut beberapa kali kembali ke kampung untuk mengajak warga lain bergabung. Warga yang menolak disebut sempat diintimidasi hingga diancam dibunuh.

    “Mereka kadang kembali ke kampung dan memaksa masyarakat ikut ajaran mereka. Kalau tidak ikut, mereka ancam akan dibunuh. Mereka datang bawa parang dan alat tajam lainnya,” ungkapnya.

    Perkembangan terbaru terjadi pada Selasa, 29 Maret 2022, ketika Tim Gabungan Polres Fakfak dipimpin Kasat Reskrim Iptu Handam Samudra berhasil mengamankan pimpinan kelompok berinisial DA dan RI bersama 11 pengikutnya di kawasan Adora–US.

    “Mereka dijemput dan diamankan pada pukul 09.25 WIT, kemudian tiba di Polres Fakfak sekitar pukul 12.00 WIT,” ujar Iptu Handam kepada sejumlah media.

    Kasat Reskrim menyebut pihaknya telah memeriksa setidaknya 21 orang, termasuk kedua pemimpin kelompok tersebut.

    Ketua MUI Kabupaten Fakfak, Drs. Muhammadon Dg Husein, meminta aparat bergerak cepat untuk menuntaskan persoalan agar tidak meresahkan masyarakat.

    “Yang lebih penting adalah menyelamatkan masyarakat yang terlanjur terpengaruh. Perlu pendekatan yang melibatkan tokoh agama dan masyarakat,” ujarnya.

    Sementara itu, Gereja Protestan Indonesia di Papua (GPI Papua) melalui Pdt. Ris Rotasouw juga mendatangi Polres Fakfak untuk memberikan pendampingan bagi jemaat yang ikut dalam kelompok tersebut.

    “Klasis GPI Papua Fakfak telah bertemu pihak Polres untuk pelayanan pastoral kepada warga kami yang ikut kelompok DA,” kata Pdt. Ris.

    Informasi terbaru yang diterima pada Rabu malam, 23 Maret 2022, menyebut sebagian besar warga yang awalnya mengikuti ajaran tersebut telah kembali ke kampung.

    “Sebagian besar masyarakat sudah pindah kembali ke kampung,” ujar informan lain.

    Namun, empat orang yang diduga menjadi aktor utama berinisial NH, FK, YI, dan VT dilaporkan melarikan diri ke dalam hutan dan belum ditemukan.

    “Empat orang pimpinan mereka kabur,” ujar informan itu.

    Pihak kepolisian dilaporkan telah melakukan patroli di wilayah Kampung US–Adora untuk memastikan keamanan warga, sekaligus mengimbau masyarakat yang tersisa di hutan agar kembali ke permukiman.

    Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari Polres Fakfak terkait langkah lanjutan pencarian empat orang yang menjadi dalang dugaan ajaran sesat tersebut.

    Jurnalis: Ronaldo Josef Letsoin

  • Gereja Katolik di Papua Harus Mendorong Sejarah Agama Katolik di Papua Masuk Dalam Kurikulum Lokal Tingkat SMA

    Gereja Katolik di Papua Harus Mendorong Sejarah Agama Katolik di Papua Masuk Dalam Kurikulum Lokal Tingkat SMA

    Majalahkribo.com – Lima keuskupan yang ada di tanah Papua diminta agar mendorong sejarah agama Katolik agar dapat digunakan dalam kurikulum lokal mata pelajaran agama Katolik tingkat SMA.

    Hal tersebut dikatakan Ronaldo Letsoin Salah satu kontributor media online dalam keterangan tertulisnya pada media sosial Facebook. Ia mengungkapkan, untuk saat ini saja umat Katolik di tanah Papua tidak mengetahui tentang sejarah agama Katolik di tanah ini.

    “Sejarah agama Katolik di Papua Banyak orang yang sudah tidak tau lagi. Yang saya takutkan Orang Muda Katolik di 5 keuskupan ini, satu sampai 2 tahun mendatang tidak mengetahui jelas tentang sejarah agama”, katanya Senin, 21 Maret 2022 sore dari Fakfak, Papua Barat.

    Dilanjutkan pemuda 22 tahun ini yang saat ini berprofesi sebagai jurnalis media online ini, Pengurus Yayasan Pendidikan & Persekolahan Katolik (YPPK) harus berbicara dan berpikir tentang hal ini.

    “Jangan diam saja, karena saat ini yang saya ketahui untuk setingkat SMA di Papua yang belajar sejarah agama Katolik masuk di bumi cendrawasih ini hanya SMA N 1 PLus KPG Nabire”, lanjutnya

    “Masa YPPK kala dengan sekolah Negri? KPG Nabire itu materi sejarahnya cukup lengkap walapun hanya singkat. Pengurus YPPK harus mencontohi KPG bila perluh ambil materi dari KPG Nabire”. Lanjut dia.

  • Orang Kampung Torea Merupakan Umat Katolik Pertama di Tanah Papua

    Orang Kampung Torea Merupakan Umat Katolik Pertama di Tanah Papua

    Oleh: Ronaldo Letsoin & Pieter Letsoin 

    Kampung Torea merupakan satu dari 142 kampung yang berada di Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat, dan masuk dalam wilayah administrasi Distrik Pariwari. Berdasarkan data RPJM Kampung Torea Tahun 2016–2021, jumlah penduduk Kampung Torea mencapai sekitar 800 jiwa dengan 235 kepala keluarga. Mayoritas masyarakatnya memeluk agama Katolik, yakni sebanyak 755 jiwa, sementara umat Islam berjumlah 32 jiwa dan Kristen Protestan sebanyak 13 jiwa.

    Secara geografis, Kampung Torea berada di bagian barat Kabupaten Fakfak dengan jarak sekitar 7,5 kilometer dari pusat Kota Fakfak yang dapat ditempuh melalui jalur darat maupun laut. Kampung ini memiliki luas wilayah sekitar 950 hektare dengan struktur kemiringan lahan 25–40 persen. Sebagian wilayahnya berupa perbukitan seluas 109 hektare dan berada pada ketinggian sekitar 500 meter di atas permukaan laut.

    Kampung Torea berbatasan langsung dengan beberapa wilayah, yakni sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Dulanpokpok, sebelah selatan berbatasan dengan Laut Pulau Panjang, sebelah timur berbatasan dengan Kampung Sekban, dan sebelah barat berbatasan dengan Kampung Sekru.

    Di balik letak geografisnya, Kampung Torea menyimpan nilai sejarah yang sangat penting bagi perkembangan agama Katolik di Tanah Papua. Kampung ini diyakini sebagai salah satu titik awal berkembangnya Gereja Katolik di bumi Cenderawasih. Hal tersebut didasarkan pada catatan sejarah kedatangan misionaris Katolik pertama di wilayah Fakfak pada akhir abad ke-19.

    Menurut catatan Prefektur Apostolik Batavia, pada 22 Mei 1894, misionaris Serikat Jesus (SJ), Pater Cornelis Le Cocq d’Armandville tiba di Pantai Kapaur, Kampung Sekru, Fakfak. Kedatangannya disambut baik oleh warga setempat, di antaranya Dunaris Samai dan Umar Halantan Serkanasa yang saat itu telah memeluk agama Islam akibat pengaruh pedagang dari Tidore, Ternate, dan Arab yang datang berdagang rempah-rempah di wilayah tersebut.

    Meski masyarakat Sekru kala itu mayoritas telah memeluk Islam, mereka tetap menerima Pater Le Cocq dengan baik. Bahkan, beliau diberikan tempat tinggal sementara di rumah Dunaris Samai. Dari sanalah Pater Le Cocq memperoleh informasi bahwa di sebelah timur Kampung Sekru terdapat masyarakat yang belum memiliki agama, yakni masyarakat yang berasal dari wilayah Torea saat ini.

    Berbekal informasi tersebut, Pater Le Cocq kemudian menjalankan misinya. Dalam kurun waktu sekitar 10 hari di wilayah Kapaur dan sekitarnya, ia berhasil membaptis 73 orang. Dari jumlah tersebut, empat orang yang tercatat dibaptis adalah Kodia Homba-Homba yang kemudian diberi nama Markus Homba-Homba, Moses Sembilan Homba-Homba, Agustinus Turimondop, dan Ngah Nga Made atau Herman.

    Peristiwa ini menjadi tonggak penting sejarah Gereja Katolik di Papua. Masyarakat dari Kampung Torea diyakini sebagai orang-orang pertama di wilayah barat Pulau Papua yang menerima baptisan Katolik. Karena itu, Torea layak disebut sebagai salah satu kampung bersejarah dalam perkembangan iman Katolik di Tanah Papua.

    Setelah menjalankan misinya di Fakfak, pada Juni 1894 Pater Le Cocq melanjutkan perjalanan menuju Seram, Kasewui, hingga Langgur di Kei. Namun umat Katolik yang baru dibaptis tetap mempertahankan ajaran yang telah mereka terima meski saat itu belum ada imam yang menetap untuk melayani mereka. Sebagian umat bahkan sempat kembali meninggalkan ajaran Katolik karena minimnya pelayanan rohani.

    Perjalanan misi Pater Le Cocq berakhir tragis pada Mei 1896 di wilayah Mimika. Saat hendak kembali ke kapal Al Bahanasa setelah menjalankan pelayanan di pesisir Mimika, sekoci yang ditumpanginya diterjang ombak besar dan terbalik di laut. Pater Le Cocq dilaporkan hilang dan jasadnya tidak pernah ditemukan. Kematian sang misionaris menjadi akhir dari tahap awal misi Katolik di Papua, tetapi benih iman yang ditanamnya terus tumbuh dan berkembang.

    Perkembangan umat Katolik di Torea terus berlanjut dari generasi ke generasi. Berdasarkan catatan sejarah Stasi Santo Petrus Torea yang ditulis oleh Jimmy Piter Irenius Simon Letsoin, masyarakat Katolik Torea mulai berpindah tempat tinggal sejak tahun 1938 dari Temare Huhur (Mondokendik) menuju Dulan Paha dekat Air Hibru hingga tahun 1946. Pada tahun 1947 mereka menetap di War Prihe yang kini menjadi Kampung Torea.

    Pada tahun 1974, di bawah pimpinan Laurensius Homba-Homba dan bimbingan Pater Philipus Morse, dipilih dua orang tua agama yakni Pius Homba-Homba dari Torea dan Victor Ginuni dari Dulanpokpok. Dari sinilah perkembangan umat Katolik semakin kuat melalui ibadah keluarga dan pembangunan tempat ibadah sederhana di depan SD YPPK Torea.

    Semangat umat terus berkembang hingga pada tahun 1976 dibentuk panitia pembangunan gereja di bawah koordinasi Petrus Hindom. Panitia tersebut terdiri dari Lourensius Homba-Homba sebagai ketua, Andrianus Homba-Homba sebagai sekretaris, dan Wilhelmus Anggiluli sebagai bendahara. Peletakan batu pertama pembangunan gereja dilakukan pada April 1978 di bawah bimbingan Pater Nesyen.

    Kemudian pada tahun 1984 dibentuk panitia kedua di bawah pimpinan Pater Pit Tep dengan Patrisius Homba-Homba sebagai ketua, Anton Kilmas sebagai sekretaris, dan Thomas Lefteuw sebagai bendahara. Berkat kerja keras umat, pada 6 April 1986, Mgr. Petrus van Diepen meresmikan dan memberkati Gereja Katolik Santo Petrus Torea.

    Hingga kini, Stasi Santo Petrus Torea terus menjadi pusat pertumbuhan iman umat Katolik di wilayah tersebut. Di kawasan ini juga berdiri Biara Susteran Tarekat Maria Mediatrix dan SD YPPK Torea yang menjadi bagian penting dalam pelayanan pendidikan dan kehidupan rohani masyarakat.

    Sejarah panjang Kampung Torea menunjukkan bahwa kampung kecil ini memiliki peranan besar dalam perjalanan awal Gereja Katolik di Tanah Papua. Dari wilayah inilah benih-benih iman mulai tumbuh, bertahan, dan berkembang hingga menjadi bagian penting dari sejarah kekatolikan di bumi Cenderawasih.