Share

Maybrat, majalahkribo.com – Nuansa iman dan budaya berpadu dalam sebuah kegiatan religius yang sarat makna pada perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70 Paroki Santo Yoseph Ayawasi. Untuk pertama kalinya, panitia HUT menyelenggarakan Lomba Berdoa Bapa Kami dalam Bahasa Daerah Aifat Kabupaten Maybrat yang berlangsung di Gereja Katolik Paroki Santo Yoseph Ayawasi, Kamis (5/3/2026).

Kegiatan ini memang dikemas dalam bentuk perlombaan, namun seluruh rangkaian berlangsung dalam suasana yang khidmat dan penuh permenungan.

Setiap peserta melantunkan Doa Bapa Kami dengan penghayatan mendalam, menjadikan altar gereja sebagai ruang doa yang sarat nilai iman sekaligus penghormatan terhadap budaya lokal.

Perlombaan dinilai oleh dua juri lokal yang dianggap memiliki kapasitas dalam memahami bahasa dan budaya setempat, yakni Mama Elisabeth Korain dan Bapak Thomas Turot. Kehadiran keduanya memberikan bobot penilaian yang tidak hanya menekankan ketepatan bahasa, tetapi juga penghayatan doa.

Sebanyak 14 peserta ambil bagian dalam perlombaan tersebut. Mereka berasal dari berbagai stasi maupun lingkungan di Paroki Santo Yoseph Ayawasi yang mendaftarkan diri untuk berpartisipasi. Para peserta berasal dari Lingkungan Maria Lourdes (1 orang), Lingkungan Santo Yohanes Rasul (1 orang), Ibu-ibu Santa Marta (1 orang), Lingkungan Santo Yohanes Pemandi (1 orang), Stasi Santo Yohanes Rasul Konja (2 orang), Stasi Santo Paulus Kumurkek (3 orang), Stasi Santo Agustinus Mosun (3 orang), Stasi Santo Markus Maan (1 orang), Lingkungan Santo Yoseph (1 orang), serta Lingkungan Maria Ratu Damai (1 orang).

Menariknya, beberapa peserta yang hadir mengenakan busana tradisional daerah sebagai bentuk penghormatan terhadap identitas budaya Aifat. Kehadiran busana adat tersebut semakin menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya bernuansa rohani, tetapi juga menjadi ruang pelestarian budaya lokal di tengah kehidupan menggereja.

Sebelum tampil di depan altar gereja yang kudus, setiap peserta terlebih dahulu mencabut nomor undian sebagai urutan penampilan. Proses ini dilakukan secara sederhana namun tetap tertib sebelum para peserta maju melantunkan doa dalam bahasa ibu mereka.

Kegiatan tersebut turut dihadiri dan disaksikan oleh Ketua Dewan Paroki Santo Yoseph Ayawasi, Apolos Taa, bersama diakon, frater, serta sejumlah umat yang datang memberikan dukungan. Perlombaan doa Bapa Kami dalam bahasa Aifat ini menjadi kegiatan pertama yang digelar dalam rangkaian perayaan HUT ke-70 Paroki Santo Yoseph Ayawasi tahun ini.

Inisiatif tersebut dipandang sebagai langkah awal untuk menghidupkan kembali kekayaan bahasa daerah dalam kehidupan iman umat.
Meski jumlah umat yang hadir tidak terlalu banyak, suasana gereja tetap dipenuhi keheningan dan kekhidmatan.

Umat yang hadir menyimak setiap penampilan dengan penuh perhatian, lalu memberikan aplaus sebagai bentuk penghargaan setelah untaian doa Bapa Kami dilantunkan oleh para peserta.

Ketua Panitia HUT ke-70 Paroki Santo Yoseph Ayawasi, Leonardus Kore, dalam sambutannya sebelum perlombaan dimulai menyebut, kegiatan tersebut memiliki makna penting bagi gereja dan generasi muda.

Ia mengatakan, perlombaan ini sebagai salah satu kegiatan unik dalam perayaan jubelium paroki karena berupaya mengangkat kembali budaya lokal yang selama ini mulai jarang digunakan dalam kehidupan gereja.

“Mari kita mendukung salah satu kegiatan yang menurut saya sangat unik dan bermakna yang kita laksanakan pada HUT ke-70 Paroki Santo Yoseph Ayawasi ini, yaitu mengangkat budaya kita bagi generasi dan juga bagi gereja kita,” ujar Leonardus di hadapan para peserta dan umat yang hadir.

Menurutnya, perlombaan tersebut tidak sekadar mencari siapa yang menjadi juara, tetapi lebih dari itu merupakan upaya bersama untuk memulai perubahan dalam kehidupan gereja melalui bahasa daerah.

“Perlombaan ini bukan hanya untuk mencari sang juara. Hari ini kita memulai sesuatu yang bisa menjadi perubahan bagi gereja kita ke depan melalui doa Bapa Kami dalam bahasa daerah kita sendiri,” katanya.

Leonardus mengakui generasi saat ini sering mengalami kesulitan karena minimnya referensi dari para orang tua yang telah lebih dahulu meninggal dunia. Oleh sebab itu, generasi sekarang berupaya membangkitkan kembali warisan tersebut.

“Kita mengakui bahwa hari ini kita sedikit bingung karena tidak banyak referensi dari orang-orang tua kita yang sudah mendahului kita. Tetapi melalui kegiatan ini kita mencoba membangkitkan kembali warisan itu sebagai sebuah monumen budaya bagi gereja kita,” ungkapnya.

Ia berharap melalui perlombaan ini, berbagai versi doa yang disampaikan para peserta dapat menjadi bahan untuk dirumuskan secara bersama pada masa mendatang.

“Target akhir dari kegiatan ini bukan soal menang atau kalah, tetapi bagaimana kita merumuskan kata dan kalimat yang baik sehingga ke depan bisa kita bahas lagi dalam seminar atau lokakarya dan hasilnya digunakan oleh generasi kita selanjutnya,” jelasnya.

Leonardus juga membayangkan bahwa setelah Doa Bapa Kami berhasil dirumuskan dalam bahasa Aifat, langkah serupa dapat dilakukan pada doa-doa lainnya.

“Kalau hari ini kita mulai dari doa Bapa Kami, ke depan kita bisa lanjutkan dengan doa Salam Maria, doa Kemuliaan, doa Tobat, doa Aku Percaya dan doa-doa lainnya dalam bahasa daerah kita,” tambahnya.

Ia menilai penggunaan bahasa daerah dalam doa juga dapat memperkaya perayaan misa bernuansa budaya di gereja.

“Nanti dalam misa-misa etnis budaya di gereja kita, kata-kata doa dalam bahasa daerah inilah yang bisa kita angkat dalam tata liturgi ibadah,” katanya.

Leonardus juga mengajak seluruh umat untuk memanfaatkan potensi yang dimiliki bersama demi menjaga warisan budaya leluhur.

“Kalian yang hadir hari ini sebagai peserta juga adalah pelaku sejarah yang membangkitkan kembali budaya kita di dalam gereja dari roh-roh orang tua kita yang sudah lama pergi,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu peserta lomba, Safrino Didimus Bame, menyampaikan apresiasi atas inisiatif panitia yang menghadirkan lomba doa Bapa Kami dalam bahasa daerah sebagai bagian dari perayaan HUT paroki.

“Menurut saya patut kita syukuri karena panitia HUT ke-70 Paroki Santo Yoseph Ayawasi telah memilih lomba doa Bapa Kami dalam bahasa daerah etnis Aifat Maybrat. Ini merupakan inisiatif yang sangat luar biasa,” kata Safrino usai mengikuti perlombaan.

Ia menilai penggunaan bahasa daerah dalam doa memiliki makna rohani yang dalam karena bahasa merupakan anugerah Tuhan bagi manusia.

“Bahasa ini milik Tuhan. Kita sebagai umat ciptaan-Nya dapat menggunakan bahasa umum maupun bahasa budaya kita untuk memuji dan memuliakan nama Tuhan,” ujarnya.

Safrino juga menegaskan pentingnya menjaga bahasa ibu sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat.
“Dari sisi budaya lokal, bahasa ibu memang harus dilestarikan. Karena itu saya sangat bangga dan antusias bisa ikut sebagai peserta dalam perlombaan ini,” ungkapnya.

Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti hanya pada momen HUT paroki, tetapi juga dapat dilaksanakan di berbagai kesempatan lain, termasuk di tingkat stasi.

“Harapan kami kegiatan seperti ini tidak hanya dilakukan pada HUT paroki, tetapi juga pada momen-momen lain, bahkan di stasi-stasi seperti yang kita lakukan sekarang ini,” katanya.

Salah satu juri lomba, Elisabeth Korain, turut menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan tersebut sebagai upaya menjaga budaya lokal dalam kehidupan gereja.

“Saya sangat mendukung kegiatan ini karena berbicara tentang gereja dan budaya berarti berbicara tentang harga diri suatu daerah yang harus dijaga dan dilestarikan,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan seperti ini terus dilakukan agar generasi muda tetap mengenal dan mencintai budaya mereka sendiri dalam kehidupan menggereja.

“Hal seperti ini perlu terus dilakukan supaya ada peninggalan bagi gereja dan generasi anak-anak muda kita, sehingga budaya kita tetap hidup di dalam gereja,” tutupnya.

About Author

Comments are closed.