Share this Link

JAYAPURA— Dewan Pimpinan Wilayah Partai Rakyat Adil Makmur Provinsi Papua mendesak pihak Kepolisian Resort Merauke untuk segera membebaskan Mama Paulina Imbumar dan kelompok kultural-spiritual yang dipimpinnya.

Desakan ini disampaikan Ketua DPW PRIMA Papua Everistus Kayep kepada media ini, Rabu (01/12) pagi menanggapi penangkapan dan penahanan terhadap Mama Paulina Imbumar dan 16 anggota kelompoknya oleh Polisi pada Selasa (30/11) kemarin.

“PRIMA mendesak pihak Polres Merauke segera bebaskan Mama Paulina dan kelompoknya karena mereka tidak bersenjata, mereka hanya kelompok kultural-spiritual Papua yang tidak mengancam teritorial NKRI,” kata Kayep.

Kayep mengatakan, cara pandang konyol berbasis nasionalisme teritorial terhadap Papua adalah biang kerok konflik Papua dalam bingkai NKRI selama 58 tahun sejak 1963, sehingga sudah harus ditinggalkan.

“Prinsip nasionalisme teritorial menganggap orang Papua sebagai musuh yang akan merampas sejengkal tanah NKRI, sehingga pendekatan keamanan selalu dijadikan solusi konflik Papua,” katanya.

Lebih lanjut Kayep menjelaskan, dari sudut pandang militer, Mama Paulina dan kelompoknya tidak berbahaya walaupun membawa simbol busur-panah, karena mereka tidak terhubung dengan wilayah-wilayah konflik di daratan Papua.

“Dari sudut pandang militer, Kampung Mama Paulina di distrik Waan pulau Kimaam tidak terhubung dengan wilayah-wilayah konflik di daratan Papua, sehingga tidak memiliki logistik militer untuk melawan negara,” jelas Kayep.

Menurut Kayep, dari video yang beredar viral di Media Sosial, mama Paulina dan kolompoknya hanya menawarkan Kelapa sebagai simbol perdamaian dan Busur-Panah sebagai simbol perang.

“Jika pihak Polisi dan TNI di Merauke tidak paranoid, cukup memilih Kelapa sebagai simbol perdamaian dan kelompok mama Paulina pasti menerima itu, bukan dengan cara menangkap dan menahan mereka” kata Kayep.

Kayep menyarankan, pihak Polres Merauke seharusnya melakukan pendekatan sosio nasionalisme (pendekatan kemanusiaan) dan melihat kelapa dan busur-panah yang ditawarkan Mama Paulina dan kelompoknya sebagai simbol kultural-spiritual yang tidak berbahaya bagi NKRI.

Untuk diketahui, Mama Paulina dan 19 anggota kelompok kultural-spiritualnya pada hari Sabtu (27/11) sekitar pukul 16:30 WIT tiba di Polres Merauke.

Mereka bertujuan meminta pihak TNI-Polri membuka ruang demokrasi pada momentum 1 Desember 2021 dengan membawa Kelapa dan Busur-Panah masing-masing sebagai simbol perang dan damai dalam kultur maupun spiritual Papua.

Namun pada Selasa (30/11) kemarin, Mama Paulina dan 16 anggota kelompoknya ditangkap dan ditahan pihak Kepolisian Resort Merauke.

Berikut daftar nama-nama mereka yang ditahan :

1. Mama Paulina Imbumar
2.Kaspar Ndonggi
3.Edoardus Navana
4.Agustinus Wecem
5. Leonardus Kimandi
6.Teresia Ndaurambuka
7.Romanus Kapuna
8.Maria Mbarawa
9.Ananias Yanema
10.Emilianus Mbarawa
11.Philipus Buer
12.Simon Mbarawa
13.Stevanus Mbarawa
14.Matias Yama
15. Hendrikus Itubu
16.Kamilus Mbarawa.
17. Kristianus Yama

(Admin)

Comments are closed.