Share

Fakfak, majalahkribo.com – Warga Petuanan Arguni melakukan sasi laut sebagai bentuk penegakan hak adat atas wilayah perairan mereka, Selasa (10/2/2026). Sasi adat tersebut dipasang terhadap kapal Anugerah Bersama 17, satu dari lima kapal yang melakukan kegiatan survei seismik di perairan Arguni.

Aksi dimulai sejak pagi hari ketika masyarakat adat menggunakan longboat menuju lokasi kapal. Mereka membawa simbol adat berupa janur kuning serta sirih dan pinang sebagai tanda pemberlakuan sasi di wilayah laut petuanan.

Namun situasi berubah tegang sekitar siang hari ketika aparat dari Polres Fakfak yang tiba di Kampung Arguni dan bergerak menuju kapal. Aparat kemudian meminta masyarakat yang sedang melaksanakan sasi adat di atas kapal untuk turun.

Permintaan tersebut memicu ketegangan. Warga yang tengah menjalankan prosesi adat merasa tindakan itu sebagai bentuk pengusiran terhadap masyarakat yang sedang mempertahankan wilayahnya.

Dalam video yang beredar pada hari yang sama, terlihat suasana emosional di atas kapal. Bapak Muhamat Wakik Turua, nelayan asal Kampung Forir, tampak menangis saat aparat meminta warga meninggalkan kapal. Ia terlihat terpukul menyaksikan prosesi sasi adat yang mereka lakukan harus terhenti.

Bagi masyarakat Arguni, sasi bukan sekadar ritual simbolik, melainkan mekanisme hukum adat untuk melindungi wilayah dan sumber daya laut yang menjadi sumber penghidupan utama warga. Laut petuanan menjadi ruang hidup yang diwariskan secara turun-temurun.

Warga menyatakan aksi dilakukan secara damai dan bertujuan meminta penghentian sementara aktivitas survei seismik hingga ada dialog terbuka antara masyarakat adat, pemerintah daerah, dan pihak perusahaan.

Peristiwa Selasa (10/2/2026) tersebut menyisakan ketegangan sekaligus kesedihan di tengah masyarakat adat Arguni. Hingga sore hari, situasi dilaporkan berangsur kondusif, namun peristiwa itu meninggalkan luka emosional bagi warga yang merasa hak dan tradisi mereka tengah dipertaruhkan.

Nonton tangisan warga saat diusir Polisi

Kontributor: Irianto

Editor: Tim Redaksi

Comments are closed.