Nabire, majalahkribo.com – Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap kondisi generasi muda Papua yang dinilainya tengah menghadapi krisis serius.
Dalam khotbahnya saat penerimaan Sakramen Krisma di Paroki KSK, Bukit Meriam, Nabire, Minggu (22/3/2026), ia menyebut fenomena yang terjadi sebagai “tiga kematian” generasi muda, yakni kematian fisik, kematian psikologis (mental), dan kematian roh (spiritual).
Didampingi Pastor Paroki KSK Nabire, Yohanes Adrianto Dwi Mulyono, Uskup menyampaikan hal itu di hadapan ratusan umat serta 106 penerima sakramen krisma.
“Kasus kematian orang muda dari Sabang sampai Merauke terus muncul di media sosial, bahkan mencapai ratusan hingga ribuan orang yang meninggal sebelum waktunya,” ungkapnya.
Ia menilai kondisi tersebut telah menyebabkan hilangnya potensi besar generasi muda, termasuk di Tanah Papua.
Uskup menjelaskan, penyebab pertama berasal dari faktor internal, seperti kurangnya disiplin dalam menjaga keseimbangan hidup fisik, mental, dan spiritual.
Banyak anak muda menjalani pola hidup tidak sehat, seperti begadang hingga pagi hanya untuk bermain ponsel atau media sosial. Selain itu, kehidupan rohani yang tidak terawat serta pergaulan yang membawa pengaruh negatif turut memperburuk keadaan.
Perubahan dari budaya tradisional ke kehidupan modern juga disebut menjadi tantangan besar. Minimnya pendidikan dalam keluarga membuat sebagian anak muda kehilangan arah dan mudah terjerumus dalam perilaku berisiko, seperti konsumsi alkohol, seks bebas, hingga penyebaran HIV/AIDS.
Selain faktor internal, Uskup juga menyoroti faktor eksternal yang dinilainya lebih kompleks. Ia menyebut adanya skenario eksploitasi sumber daya alam di Papua yang berdampak pada generasi muda.
Menurutnya, kemudahan akses terhadap minuman keras, konflik sosial, serta berbagai tekanan lain turut memperparah kondisi tersebut.
“Jika kondisi ini terus dibiarkan, dikhawatirkan akan terjadi genosida terhadap orang asli Papua,” tegasnya, mengutip sejumlah data dan pandangan dari kalangan rohaniwan.
Di akhir khotbahnya, Uskup mengajak seluruh elemen masyarakat, orang tua, gereja, dan pembinauntuk bersama-sama menyelamatkan generasi muda Papua.
Ia menegaskan bahwa Sakramen Krisma bukan sekadar formalitas, melainkan panggilan untuk menjadi saksi iman dan membawa perubahan di tengah masyarakat.
“Kita adalah satu tubuh gereja. Harus saling menyelamatkan. Berani bersaksi, membawa terang Kristus, dan menyelamatkan generasi muda dari berbagai pengaruh negatif,” pungkasnya. (T.R)