Lelaki itu selalu menyapa rakyat dengan senyum hangat yang menawan. Kepada siapa saja, pasien, keluarga, maupun staf, ia tak pernah ragu menyapa dengan ramah, meski langkahnya terburu-buru. Di lorong-lorong rumah sakit, Farid Fauzan Mahubessy kerap menepuk pundak perawat, menanyakan kondisi pasien, atau sekadar bertanya kabar anak-anak yang sedang dirawat. Sikap sederhana ini, menurut tenaga medis dan pengunjung, membuat rumah sakit terasa lebih manusiawi, jauh dari kesan kaku atau formal.
Bagi Farid, pelayanan bukan hanya soal prosedur atau fasilitas, tetapi tentang kehangatan yang dirasakan setiap orang yang datang mencari pertolongan.
Sejak dilantik sebagai Direktur RSUD Fakfak pada 26 Agustus 2025, Farid menghadapi tantangan besar. Rumah sakit rujukan utama di Kabupaten Fakfak itu dituntut bergerak cepat, di tengah keterbatasan, lonjakan pasien, dan ekspektasi masyarakat akan pelayanan yang lebih modern dan manusiawi.
Alih-alih hadir dengan retorika besar, Farid memilih kerja sunyi. Ia lebih sering terlihat berjalan menyusuri lorong rumah sakit, masuk ke ruang UGD pada pagi hari, berbincang langsung dengan dokter dan perawat, lalu mengambil keputusan di tempat. Dari pola kepemimpinan inilah perubahan mulai terasa.
Salah satu langkah awal Farid adalah implementasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS). Sistem ini mengakhiri ketergantungan pada administrasi manual yang selama bertahun-tahun memperlambat layanan. Data pasien kini terintegrasi, alur pelayanan lebih ringkas, dan transparansi meningkat.
Bagi Farid, digitalisasi bukan sekadar mengikuti tren. Ia melihatnya sebagai fondasi pelayanan publik yang akuntabel dan responsif. “Rumah sakit harus bergerak seiring perkembangan zaman, tetapi tetap berpihak pada masyarakat kecil,” ujarnya.
Perubahan paling nyata justru dirasakan tenaga medis. Dokter dan perawat menilai Farid sebagai pemimpin yang hadir secara fisik dan emosional. Saat lonjakan pasien anak terjadi di IGD, ia tidak hanya memberi instruksi dari balik meja, tetapi ikut memikul tempat tidur tambahan agar pelayanan tetap berjalan.
Dalam situasi darurat, keputusan diambil cepat. Keselamatan pasien selalu menjadi prioritas utama, tanpa mempersoalkan status jaminan atau kelengkapan administrasi di awal. Pendekatan ini membuat tenaga medis merasa didukung dan bekerja dengan rasa aman.
Di bawah kepemimpinannya, RSUD Fakfak berhasil menjalankan program kesehatan gratis Pemerintah Kabupaten Fakfak. Program ini membuka akses layanan kesehatan bagi masyarakat ber-KTP Fakfak, khususnya mereka yang belum memiliki BPJS Kesehatan.
Namun Farid tidak berhenti pada pemberian layanan semata. Ia mendorong edukasi publik agar masyarakat memahami hak dan kewajibannya dalam sistem jaminan kesehatan nasional. Bagi Farid, pelayanan yang baik harus dibarengi dengan kesadaran kolektif terhadap aturan.
Selain pelayanan medis, Farid memberi perhatian serius pada kebersihan dan fasilitas penunjang. Peningkatan standar unit laundry, penataan lingkungan rumah sakit, hingga budaya bersih bagi seluruh pengunjung menjadi bagian dari pembenahan menyeluruh.
Baginya, kebersihan bukan sekadar estetika, tetapi juga nilai kesehatan dan spiritual. “Kebersihan adalah bagian dari iman,” ujarnya, menegaskan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari hal-hal sederhana.
Kinerja RSUD Fakfak di bawah kepemimpinan Farid mendapat apresiasi langsung dari Bupati Fakfak. RSUD dinilai mengalami transformasi positif dalam waktu singkat dan menjadi wajah pelayanan publik pemerintah daerah.
Namun Farid menyadari, perubahan bukan garis akhir. Tantangan sistem kesehatan terus bergerak, dan tuntutan masyarakat kian tinggi. Karena itu, ia memilih tetap berada di jalur yang sama: bekerja tenang, hadir di lapangan, dan mengambil keputusan cepat saat dibutuhkan.
Di RSUD Fakfak, perubahan tidak selalu datang dengan seremoni. Ia hadir lewat antrean yang lebih tertib, layanan lebih cepat, lingkungan lebih bersih, dan rasa aman bagi pasien. Di sanalah jejak kepemimpinan Farid Fauzan Mahubessy perlahan tapi pasti membentuk wajah baru pelayanan kesehatan di Fakfak.