Fakfak, majalahkribo.com – Situasi di Kampung Arguni, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, kembali memanas setelah kemunculan kapal perang bernomor lambung 869 yang diduga milik TNI Angkatan Laut, Sabtu (14/2/2026).
Kapal tersebut terlihat melintas dan kemudian menurunkan jangkar sekitar pukul 15.40 WIT, tepat di depan Kampung Arguni. Kehadirannya memicu tanda tanya warga, terlebih momen tersebut terjadi tak lama setelah masyarakat adat memasang sasi laut sebagai bentuk protes terhadap aktivitas kapal survei seismik di wilayah petuanan mereka.
Sekretaris Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Arguni, Mbarmbar S. Dino Sarasa, mengatakan warga terkejut melihat kapal perang berlabuh di depan kampung.
Baca Juga: Tiba di Fakfak, Komandan Lantamal XIV Sorong Tinjau Lokasi Pembangunan Mako Lanal Fakfa
“Baru kali ini sejak dulu ada kapal perang berlabuh di depan kampung. Setelah sasi laut dan persoalan kapal seismik, tiba-tiba ada kapal perang. Ada apa?” ujarnya.
Beberapa hari sebelumnya, Raja dan masyarakat Arguni memasang sasi adat (kera-kera) di wilayah laut mereka. Sasi tersebut dipasang sebagai bentuk keberatan atas aktivitas kapal survei seismik yang melakukan penelitian bawah laut terkait eksplorasi migas.
Baca Juga: Kodaeral X TNI AL Raih Penghargaan Anugerah Reksa Bandha KPKNL
Raja Petuanan Arguni, Hanafi Pauspaus, menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan keputusan bersama masyarakat dan bukan bentuk penolakan investasi.
“Kami tidak anti investasi. Kami hanya minta pihak perusahaan datang duduk bersama masyarakat membicarakan hak dan kewajiban secara terbuka,” katanya.
Baca Juga: Sasi Laut dan Kapal Seismik, Masyarakat Adat Arguni Ancam Denda Adat Rp5 Triliun
Menurutnya, kapal seismik beroperasi tanpa sosialisasi langsung kepada pemilik hak ulayat maupun nelayan setempat yang menggantungkan hidup di laut Arguni.
Di tengah polemik tersebut, masyarakat mengaku sempat mendapatkan tudingan negatif, termasuk disebut sebagai bajak laut saat mempertahankan wilayah adatnya.
“Kami berjuang atas hak wilayah kami, bukan melakukan kejahatan,” tegas perwakilan masyarakat.
Masyarakat juga menekankan bahwa perjuangan mereka murni soal hak adat dan bukan gerakan politik separatis.
Baca Juga: Viral! Nelayan Arguni Fakfak Diusir Kapal Eksplorasi Gas
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak TNI Angkatan Laut terkait maksud keberadaan kapal perang 869 di perairan Arguni.
Redaksi masih berupaya melakukan konfirmasi kepada Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Fakfak guna memperoleh penjelasan resmi.
Baca Juga: Proyek Pupuk Fakfak Terancam Pindah, Lokasi Lama Dinilai Tidak Layak
Masyarakat berharap situasi tetap kondusif dan pemerintah dapat memfasilitasi dialog terbuka antara perusahaan dan pemilik hak ulayat, agar polemik kapal seismik dan pemasangan sasi adat dapat diselesaikan secara damai.
Editor: Yohanis Tebai