Share

MEMOAR PERJALANAN – Terbangun kembali dari perjalanan mimpi setelah melewati malam yang panjang. Pagi saya memulai beraktivitas seperti biasa. Ada manusia yang bangun lebih cepat dan ada yang tidak, tergantung cara manusia melihat kehidupannya. Masyarakat tradisional di Papua, misalnya, sebagian harus bangun pagi untuk berkebun di wilayah yang jauh dari rumah, begitupun juga para nelayan di pesisir laut; sama seperti masyarakat modern di kota pulang pergi kantor.

Dua dunia kerja yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama, mewarisi kehidupan. Solidaritas Mekanis versus Organis menurut sosiolog Emile Durkheim, namun sosiolog seperti Max Weber mengkhawatirkan birokrasi modern dapat menjebak individu dalam sistem yang impersonal dan tanpa makna, menghilangkan kreativitas individu. Tetapi bagi saya, konsep hidup seperti apa pun, yang penting hidup dapat berguna bagi kelangsungan hidup banyak orang.

“Nomen, ko ikut sa ke Sarmi e..” ajak Arif memecah kesunyian ruang kerja yang dingin karena AC.

“Bisa kaka,” balas saya dan berpikir, “sa belum pernah ke Sarmi, jadi sekalian jalan-jalan lihat Sarmi.”

Malam terasa panjang di tempat tinggal saya (ruang kos), tidak jauh dari jalan raya Abepura–Sentani, bagian Kotaraja. Besok pagi kami akan pergi ke negeri 87 suku sesuai bahasa, Sarmi. Menurut banyak orang, Sarmi adalah negeri ombak, saya penasaran melihat gulungan ombak di Pantai Selatan Sarmi. Beberapa kali saya rencana pergi dengan angkutan umum selalu gagal dengan beberapa pertimbangan pribadi. Sarmi, nama daerah yang disingkat oleh antropolog Belanda, Van Kouwenhoven, dari tiga suku besar: Sobei, Armati, Rumbuai, Manirem, dan Isirawa.

“Sa jemput, tunggu di jalan besar depan,” telepon Arif pagi-pagi sementara saya baru buka mata di atas tempat tidur.

Hampir tertidur hingga pukul 10.00, beruntung Arif menelepon. Pukul 09.30, saya tunggu Arif di jalan besar Abepura–Sentani. Arif datang dengan mobil Innova Toyota berwarna hitam, dikemudikan sopir anak muda sedikit gemuk, gaya rambutnya seperti vokalis Ariel Noah. Seperti pagi yang biasa di jalan Abepura–Sentani, yang selalu saya temui ramai dari pagi hingga malam. Kami berangkat dari Abepura saat waktu hampir siang, ketika langit biru melotot tajam pada manusia yang sudah keluar rumah untuk beraktivitas.

Sepanjang jalan Abepura–Sentani seperti kota kebanyakan di Papua: berkendara, menjual, dan berbelanja di kios dan ruko. Mungkin yang unik adalah jalan dua jalur yang seperti ular di kaki Pegunungan Cycloop yang mengikuti bibir Danau Sentani. Langit Sentani cerah, panas terasa hingga keringat jika mobil tanpa AC dingin, atau berkendara roda dua.

Kami hampir lepas wilayah Sentani, tetapi harus menunggu teman Arif yang ingin ikut kami. Sembari menunggu, Arif ajak kami duduk minum kopi di kafe Kopi Dari Hati, bukan Kopi Dari Nafsu. Setelah minum kopi dan teman Arif sudah sampai, kami mulai berangkat dari Sentani ke Sarmi.

Pertama kali saya kenal Sarmi dari teman kuliah di Jakarta saat kami kuliah bersama. Mereka datang dari Sarmi, saya dari Nabire; kami bertemu dengan tujuan yang sama, menimba ilmu di Tanah Betawi. Kami berpisah setelah empat tahun bersama. Semoga saya bisa ketemu mereka di Sarmi.

Kami melewati Jalan Raya Doyo Baru, tidak melewati Doyo Lama karena jalannya banyak berbelok-belok seperti ular lingkar Danau Sentani. Sementara arah perumahan Kertosari, saya melihat Pegunungan Cycloop tidur seperti makhluk monster yang sedang menyembunyikan kekayaan yang diburu kelompok manusia yang percaya hidup lebih baik dengan modernisasi tradisional. Sudah banyak kali saya melewati jalan ini untuk pergi ke Pantai Amai dan Kali Biru untuk mandi-mandi bersama teman-teman.

Pukul 12.48 kami melaju meninggalkan Kertosari, Sentani Barat. Menurut teman, Kertosari adalah perumahan warga transmigrasi pada tahun 1970-an era Presiden Soeharto, sama seperti transmigrasi di beberapa kabupaten di Papua. Kami memanjat Bukit Waibron yang langsung berhadapan dengan Pegunungan Cycloop yang tingginya 2.160 m, ketinggian yang mendekati kampung saya di Dogiyai, Papua Tengah, 1.500 m.

Melewati jalan Bongkrang–Depapre seperti saya sedang pergi ke kampung Dogiyai dari Nabire. Perbedaannya, jalan Bongkrang–Depapre terlihat tidak banyak yang rusak, banyak pohon cemara di pinggiran jalan lurus dan padang rumput terlihat seperti dalam film-film Hollywood. Kami saling berpapasan dengan banyak kendaraan dari arah Genyem ke Sentani.

Manusia memang selalu ada tujuan setiap hari, seperti kita ketika bangkit dari tidur saat terang pagi datang. Kami bersambung ke jalan utama Sentani–Bongkrang–Warombaim setelah melepas jalan Depapre dari wilayah Kertosari. Perumahan warga terlihat kumuh berwarna tanah liat merah, tetapi tidak semua rumah. Tidak ada warga beraktivitas di pinggiran rumah, dan suasana kumuh serta kesunyian itu tidak mengukur kebahagiaan manusia secara sosial.

Mobil Innova hitam kami meleset melewati papan petunjuk bertuliskan tanda panah lurus Warombaim dan Demta, belok kiri Besum Genyem Kota. Rumah-rumah warga sepanjang jalan seakan tidak ada dana desa untuk dibangun rumah yang lebih bagus dengan usaha kios depan rumah. Terlihat sebagian masyarakat kampung sudah berangkat ke pusat kota, atau mungkin saja mereka sedang pergi ke hutan untuk mencari sesuatu yang bisa menjadi makanan.

Melewati kira-kira 5 kilometer, kami sampai di papan petunjuk: lurus Kali Biru Demta, belok kiri Genyem, Nimbokrang, Lereh. Saya belum pernah ke Demta, hanya sampai Kali Biru untuk bertamasya bersama teman-teman. Saat hari libur, orang dari kota banyak yang datang menikmati air dingin bersih setelah menempuh jarak 60,2 km dari Abepura.

Perjalanan kami akan melewati Genyem, Nimbokrang, Lereh hingga Sarmi. Saya kenal Genyem dari beberapa berita yang sering saya baca tentang masyarakat adat Genyem yang berulang kali menggelar unjuk rasa damai di Kantor Bupati Jayapura. Mereka menuntut agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayapura dapat mencabut Izin Usaha Perkebunan (IUP) dan Izin Lokasi PT PNM.

Mobil Innova kami berhenti di Rest Area Nimbokrang, di wilayah yang terlihat seperti batas kota. Kami akan makan dan minum. Setelah mata saya melihat ke mana-mana, perasaan seperti kami ada di kilo 100, jalan trans Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai dan Intan Jaya. Beberapa mobil dan truk sudah berhenti untuk makan siang lalu lanjut. Gedungnya seperti atap dua lapangan futsal, hanya dibagi beberapa stan-stan makanan dan minuman.

“Di sini macam di kilo 100 to,” ucap Arif pada saya setelah kami duduk menunggu pesanan lalapan ayam goreng dan air putih es.

“Io, itu yang tadi sa pikir macam kita berhenti di kilo 100 km ka,” respons saya setengah tertawa.

“Semua kendaraan berhenti di sini untuk makan baru dong lanjut lagi,” balas Arif sambil menatap handphone di tangannya.

Pukul 02.26, terlihat awan tebal mengumpal di atas langit, sebagian celah memperlihatkan langit biru seperti lukisan seorang seniman yang memuja keindahan daripada absurdisme modern. Kami memasuki hutan lebat setelah makan dan minum. Jalan cukup bagus untuk ukuran jalan di trans Papua, hanya ada beberapa badan jalan yang terlihat rusak.

Mobil kami ganti gigi seperti manusia ambil napas, bertanda kami akan naik tanjakan. Bukit yang tidak terlalu kecil diselimuti hutan yang terlihat jauh menembus ujung Pulau Papua. Suasana jalan yang kami tempuh menuju Sarmi ini membuat saya ingat jalan menuju Kwatisore dari pusat kota Nabire.

Nimbotong–Bonggo, kami melaju perlahan di atas bukit kecil, melaju arah Bonggo. Saya melihat beberapa titik perkampungan di pinggiran jalan. Tidak banyak masyarakat duduk di depan rumah dan jalan. Ada beberapa jalan tikus menuju hutan belantara. Diam-diam saya berpikir, “masih ada masyarakat hidup menggandalkan perut bumi sebagai kehidupan mereka. Zaman ini mungkin orang akan melihatnya aneh, tetapi itulah kehidupan masyarakat bertahan hidup dari maut kematian.”

Perjalanan ini tidak jauh beda dengan perjalanan lain di Papua. Kita akan selalu berada dalam hutan yang lebat, sering bertemu sungai dangkal dan dalam, kecil dan besar. Kami sudah melewati beberapa perbukitan kecil. Saya tidak banyak bicara, mata hanya bisa melihat kiri dan kanan, seakan waspada. Perkampungan hanya beberapa titik yang kami lewati dengan cepat. Banyak rumah dengan tipe yang sama, sepertinya rumah bantuan dari pemerintah.

Mata saya menangkap hanya tiga rumah tradisional yang masih bertahan di antara rumah modern. Mungkin itu rumah kepala suku besar, tapi tidak tahu. Kami baru saja melewati batas Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Sarmi. Ada papan plang bertuliskan “Sarmi 160”.

“Kaka, itu perbatasan ka?” tanya saya pada Arif setelah melihat plang hijau bertulisan putih.

“Io, batas Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Sarmi. Dari sini sampai di Sarmi tidak ada bukit, dataran rendah semua, jalan di pinggiran pantai sampai tiba di Sarmi,” jelas Arif yang sudah bosan pulang-pergi Abepura–Sarmi.

Kami melewati sekitar 10 kilometer tanpa ada perkampungan yang nampak di mata, hanya hutan. Sekitar 3 km jalan berbatu, kami saling lewat dengan dua trailer bermuatan kayu-kayu besar. Mobil kami tertutup debu trailer besar itu. Saya sulit memotret karena mobil kami tertutup debu seperti pesawat dalam awan. Sopir hampir menghentikan mobil karena debu menutup jarak pandang, tetapi sopir berambut seperti Ariel Noah itu cukup lincah.

Saya tidak tahu dua trailer besar yang lewat itu mengambil kayu-kayu besar itu dari mana. Tentu saja mereka mencuri walaupun perusahaan mereka memiliki legalitas hukum dari negara. Tidak semua masyarakat menerima manfaat dari kayu-kayu yang ditebang lalu dibawa pergi dari kampung mereka.

Saya pernah membaca kesaksian dari pengusaha kayu Papua, Daniel Garden, “Keputusan MK Nomor 35 Tahun 2012 menyatakan bahwa tidak ada hutan negara, yang ada adalah hutan adat, tapi tidak diberikan izin juga oleh Kehutanan. Jadi semua kayu pacakan dari masyarakat itu ilegal. Beli kayu dari industri lokal, haji-haji, dan lain-lain itu ilegal. Mestinya harus diperjuangkan, harus ada izin bagi masyarakat pemilik hak ulayat,” ujarnya kepada media kabardaerah.

Cuaca tidak begitu panas. Mobil kami sudah melewati jalan berbatu dan berdebu. Mobil kami kembali melaju di atas jalan aspal yang mulus. Beberapa titik saya melihat seperti di wilayah SP Nabire, juga seperti beberapa daerah trans di Papua; ada rumah batu dan kayu berjejer dalam ruas jalan, toko dagang dan pasar tradisional.

Rumah-rumah dengan model bangunan yang sama terlihat sepanjang jalan Bonggo–Betaf–Sarmi. “Beberapa menit lagi kita sampai, ko lihat rumah-rumah banyak yang kosong itu, rumput tinggi dalam rumah itu,” kata Arif sembari menunjuk rumah-rumah sepanjang jalan yang kosong.

Setelah saya melihat, ada beberapa rumah yang masih dihuni masyarakat lokal Papua dan ada rumah yang kosong. Wajar kosong karena rumah bantuan dari Pemerintah Pusat itu terlihat dibangun tanpa melihat aktivitas masyarakat. Terlihat dibangun dengan standar melihat jalan raya dengan pikiran, yang penting rumah berdiri di pinggiran jalan. Kondisi rumah sudah banyak yang tidak layak huni atau RTLH; tidak memenuhi persyaratan untuk menjadi tempat tinggal yang aman, nyaman, dan sehat.

Menurut Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), RTLH memiliki ciri-ciri yang jelas, seperti tidak memiliki konstruksi bangunan yang kuat dan aman, kurang fasilitas dasar, serta kondisi fisik yang tidak memenuhi standar kelayakan. Tetapi saya melihat sepanjang jalan, tidak ada aktivitas penduduknya, tetapi dipaksa untuk bangun rumah, bantuan yang jauh dari kehidupan masyarakat.

Tidak terasa, hampir malam, kami sudah mendekati kota Sarmi. Kami baru sampai di Jembatan Pelangi Pantai Timur di Kampung Arare. Besi-besi berdiri membentuk jembatan itu dicat dengan warna pelangi, terlihat seperti taman kanak-kanak di tengah hutan.

“Kalau tidak foto di jembatan ini berarti belum sampai di Sarmi, Nomen,” kata Arif.

“Aa, io kah!” respons saya pura-pura kaget sembari membuang pandangan ke seluruh jembatan yang sudah hampir gelap. Mata saya menangkap cahaya senja kecil di ujung muara laut dan sungai.

“Sudah gelap, jadi nanti pulang baru kita singgah foto,” balas Arif meredakan keinginan saya untuk berfoto. Tapi saya tidak terlalu ingin berfoto di taman kanak-kanak. Jembatannya biasa saja, sama dengan kebanyakan jembatan yang saya temui di wilayah Papua lain, bedanya hanya karena dicat dengan warna pelangi.

Kami melewati beberapa kampung dengan rumah-rumah yang memperlihatkan kota Sarmi sudah dekat. Ada beberapa kios tapi tidak terlalu ramai. Ada gedung sekolah, kantor pemerintah, kantor polisi, gedung gereja, dan masjid. Terlihat seperti kebanyakan pusat distrik luar dari titik nol kabupaten/kota di Papua.

Mobil kami melaju di jalan yang rapat dengan bibir pantai. Laut terlihat dekat. Tiba-tiba saya ingin melihat ombak Sarmi yang besar. Saya perhatikan air laut agak lama, tetapi ombaknya biasa saja. Tidak menunjukkan ombak yang lebih besar dari kota lain di Papua, seperti pantai di kota Nabire, Jayapura, Serui dan Biak.

“Mana, Sarmi Kota Ombak itu,” pikir saya dalam hati.

Pukul 18.00, saya hanya melihat lampu pada rumah, tidak ada lampu jalan dari pemerintah sampai di pusat kota Sarmi. Tidak ada hal yang menonjol ketika kami mulai mendekati kota Sarmi. Toko-toko dan kios-kios saling hadap di jalan utama, sama seperti kebanyakan kota di Papua.

Terlihat kendaraan cukup ramai. Ada ojek yang sedang membawa penumpang dan ada angkutan umum yang sedang menunggu penumpang. Setelah sampai di kota Sarmi, mobil kami berhenti di barisan ruko panjang yang ramai dengan orang-orang sibuk keluar-masuk berbelanja di supermarket. Sebelah kanan ada tulisan putih menyala “Twelve Hotel” pada tembok hitam-hitam. Ternyata, itu tempat yang kami akan menginap dua malam dua hari.

Kami sampai di kota Sarmi pukul 18.20, di wilayah yang saya dengar sejauh ini sebagai negeri ombak, tetapi saya belum melihat ombak besar itu. Sarmi belum tampak di mata saya karena kami masuk wilayah kota Sarmi saat malam. Banyak hal yang tidak saya tangkap karena mobil kami menempuh kecepatan di atas 60–90 km/jam.

Semua hal terlewati dengan cepat di mata saya, seakan mimpi saat bangun pagi. Inilah perjalanan cepat di akhir tahun 2025. Sampai jumpa di perjalanan lain di tahun 2026.

Comments are closed.