Oleh : Nomen Douw
PROSA LIRIS – Sabtu hampir sore, lapisan awan di atas langit Kampung Harapan seakan menahan panas matahari. Rasanya bahagia bertemu ribuan manusia di depan Stadium Lukas (LE) setelah hidup lama dalam Facebook, Instagram, YouTube, dan TikTok.
Ini seperti saya baru keluar penjara setelah terkurung sekian tahun karena kasus makar, mungkin perasaan yang saya alami ini bagian dari zoon politikon menurut Aristoteles, artinya manusia adalah makhluk yang hidup bermasyarakat.
Perasaan lain datang setelah saya duduk manis di Tribun Timur Stadium LE, mata saya menangkap tubuh wanita yang indah, tubuh yang pernah senyum dalam jiwa yang serius, wajah yang tak mungkin terhalang oleh cahaya waktu hingga kini, dia duduk seakan di samping saya.
Ini rasa yang melekat dalam ingatan begitu lama, kapan pun wanita itu akan merasuki pikiran saya dengan cepat, seperti hari ini; dua rasa dalam satu momen; Persipura versus PSS Sleman di pekan kedua Liga 2 Indonesia.
Sungguh mati, hampir sebagian ruangan Stadium LE yang besar itu dipenuhi manusia berpakaian merah, hitam, dan putih, saya berpikir kita semua benar-benar menjadi anak burung yang sedang dalam sarang walet.
Bunyi peluit datang, tanda pertandingan telah dimulai, jarak pandang saya memperlihatkan realita yang berbeda di antara keseriusan menonton yang ingin Persipura harus kembali ke Liga 1.
Bau tai burung walet tercium tajam dari berbagai sisi, matahari menyala seperti lampu sorot stadion jatuh di atas tanah hitam Papua. Rasanya tidak panas karena awan yang melingkar di atas kepala Gunung Cycloop menjadi payung putih.
Masuk 15 menit setelah pertandingan dimulai, Ramai Rumakiek hampir cetak gol ke gawang PSS Sleman, saya ikut semua suporter berdiri untuk merayakan gol, tapi tidak jadi, kami duduk kembali dengan menyesal, garuk kepala, dan pukul kursi. Setelah duduk, saya melihat wanita itu menatap saya ke atas dari kursi deretan kedua dari saya duduk.
“Jen!, Jen!, Jen!,” panggil saya ingin menikmati wajahnya, tapi dia sudah tarik wajah dari pandangan saya, tidak tahu dia dengar suara saya atau tidak.
“Ko pasti ingat kisah selama 14 tahun itu, banyak cerita unik yang hanya ko dan sa kunci diam-diam, tapi itu semua datang ketika ko tatap sa tadi, dan sekarang kita tidak fokus nonton permainan ini, Persipura dan PSS Sleman. Stadium LE menjadi galeri foto untuk kisah yang pernah berlalu dalam gelapnya waktu, semua kisah tersimpan cukup lama dalam klise,” pikir saya diam-diam sembari wajah serius nonton.
Sinar wajah wanita itu membuat perasaan menjadi dua; menikmati permainan sepak bola dan pergolakan dalam batin yang baru saja terjadi setelah sinar matanya membuka klise yang tersimpan rapi dalam diam. Jen adalah kurator dalam kisah ini, kisah yang hanya dia dan saya tahu jalan ceritanya.
“Jen!, Jen!, Jen!,” panggil saya lebih keras lagi, saya ingin lagi melihat wajah yang pernah saya cinta dengan tenaga dalam, ingin lagi memeluknya hingga semua lampu mati dan kita duduk di pantai Base G.
Saya masih suka bibir tipis yang lembut dan bola mata bulat yang indah. Saat diam-diam dia menatap lama, saya tidak tahu apa yang dia rindukan dari saya; apakah dia rindu wajah hitam ini? atau dia rindu tubuh gemuk yang tidak mungkin putih ini? ataukah dia tidak suka semua hal tentang saya dan tidak ingin saya ada di Stadium LE. Mungkin, beberapa kali saya panggil tapi dia tidak membalikkan wajah hanya untuk membuang sekilas senyum.
Ada gol di gawang Persipura, Stadium LE mendadak diam, seakan udara benar-benar berhenti melumpuhkan ribuan suporter, suara berubah menjadi duka yang dalam. Jen menatap marah, matanya putih mengeluarkan darah merah dan hitam, saya jadi bingung, kenapa Jen menangis saat stadion diam dalam tangis emosi, dan air matanya berwarna merah hitam?
“Ini bukan sepakbola, ini permainan di luar lapangan,” kata Jen sambil menangis melihat saya. Permainan telah memasuki menit pertengahan babak kedua. Jen berhenti menangis dan berhenti tatap saya setelah Matheus Silva merobek gawang PSS Sleman di menit pertengahan babak kedua.
Tiba-tiba Jen menghilang di antara suporter yang bersorak bangkit memenuhi Stadium LE, suara dan kabut merah hitam menutupi stadion, saya merasakan Stadium terbang ke udara, rasanya terlihat Stadium LE seperti pesawat alien dalam film Hollywood. Dalam beberapa menit, saya melihat Jen melingkar tubuh Matheus Silva di lapangan hijau seperti ular yang ingin merobek masuk dalam tubuh Matheus Silva.
Boaz Salossa dan Elisa Basna masuk, Matheus Silva keluar lapangan. Saya kaget melihat Jen sudah ada di depan saya dalam posisi menutup wajah dengan tangan, seakan dia malu dan menangis, saya bingung lapis penuh pertanyaan, apa yang Jen pikirkan? Rasanya saya telah melakukan dosa pada Jen, seharusnya saya tidak memanggil dia tadi. Mungkin dia ingat semua cerita tentang kita di empat tahun yang lalu.
“Sa minta maaf Jen,” pikir saya diam-diam dari jauh. Wasit meniup peluit panjang, tanda berakhirnya pertandingan Persipura versus PSS Sleman berakhir dengan skor satu sama. Stadium LE terlihat kaku, orang-orang berdiri dan pergi dengan langkah kaki yang berat, suara-suara semakin jauh dan tipis dari cahaya terang.
Langit hampir tak terlihat dengan lampu sorot stadium yang sudah menyala menyorot lapangan hijau. Orang-orang turun dan keluar dari sarang burung walet. Saya mencari Jen untuk salam perpisahan, tapi sepanjang jalan keluar Jen tidak nampak, dia menghilang di antara baju Persipura Mania; merah, hitam, dan putih.
“Semoga tong punya rindu ini bisa membuahkan sesuatu yang besar di momentum yang tipis, titip saja rindu di tembok-tembok Stadium LE. Semoga saja kita ketemu lagi dalam pelukan yang indah untuk kejayaan hidup yang lain, jujur sa juga rindu ko,” tulis Jen pada tembok toilet Stadium LE dengan emoji menangis.
“Jen sayang, sa titip rindu hanya untuk ko di Stadium LE,” tulis saya sebagai balasan di tembok toilet Stadium LE dengan emoji love.