TIMIKA – Pastor Paroki Katedral Tiga Raja Timika, RD. Amandus Rahadat, PR, mengemukakan sejumlah alasan mendasar mengapa sebagian orang Papua, termasuk Organisasi Papua Merdeka (OPM), terus melakukan perlawanan dan menuntut kemerdekaan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Refleksi tersebut disampaikan dalam khotbah Hari Raya Penampakan Tuhan (Epifani/Tiga Raja) pada Minggu, 4 Januari 2026, di Gereja Katedral Tiga Raja Timika, bertepatan dengan peringatan 42 tahun imamat RD. Amandus Rahadat dan 11 tahun imamat RD. Rinto Dumatubun.
Dalam khotbahnya, Pastor Amandus menegaskan bahwa refleksi ini bukan ajakan politik, melainkan refleksi iman atas tanda-tanda zaman, sebagaimana dilakukan oleh tiga orang majus dari Timur yang melihat bintang dan berani mencari maknanya.
Spiritualitas Tiga Raja: Spiritualitas Mencari
Menurut Pastor Amandus, spiritualitas Tiga Raja adalah spiritualitas mencari—mencari jawaban atas tanda-tanda kehidupan yang menimbulkan pertanyaan dan kegelisahan.
“Tiga raja melihat tanda yang aneh di langit, lalu mereka mencari maknanya. Begitu pula kita hari ini dipanggil untuk membaca tanda-tanda zaman, khususnya realitas sosial di Papua,” ujarnya.
Sebagai imam non-Orang Asli Papua (OAP) yang telah 42 tahun berkarya di Tanah Papua dan 22 tahun melayani di Paroki Katedral Tiga Raja Timika, Pastor Amandus mengaku sejak awal imamatnya selalu diganggu satu pertanyaan besar:
mengapa sebagian orang Papua ingin memisahkan diri dari Indonesia?
Empat Sumber Refleksi
Dalam menjawab pertanyaan tersebut, Pastor Amandus menyusun refleksinya berdasarkan empat sumber utama, yakni:
-
Hasil penelitian lembaga ilmiah,
-
Memoria passionis Komisi Justice and Peace Keuskupan Jayapura,
-
Pemikiran pakar sosial-politik,
-
Pengalaman pribadi berdialog langsung dengan orang-orang Papua.
Dari refleksi tersebut, ia merumuskan empat alasan utama yang menurut pandangan sebagian orang Papua menjadi penyebab OPM terus melakukan perlawanan.
Empat Alasan Utama
Pertama, persoalan sejarah dan penentuan nasib sendiri.
Sebagian orang Papua merasa tidak pernah secara bebas memilih bergabung dengan Indonesia. Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) dipandang sebagai ketidakadilan sejarah, sehingga muncul tuntutan untuk menentukan nasib sendiri.
Kedua, pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang belum tuntas.
Banyak kasus kekerasan, pembunuhan, dan penghilangan orang Papua yang tidak diselesaikan secara transparan. Akibatnya, aparat keamanan kerap dipersepsikan bukan sebagai pelindung, melainkan ancaman.
Ketiga, pengabaian identitas dan martabat orang Papua.
Rasisme dan diskriminasi masih dirasakan, baik di dalam maupun di luar Papua. Hal ini melukai martabat manusia Papua dan memperdalam rasa ketidakadilan.
Keempat, ketimpangan sosial dan ekonomi.
Pastor Amandus menyoroti kondisi masyarakat pedalaman Papua yang hidup dalam keterbatasan, sementara pembangunan belum dirasakan secara merata. Ketimpangan ini dipandang sebagai bentuk penjajahan baru oleh sebagian orang Papua.
Perjuangan Martabat Manusia
Pastor Amandus menegaskan bahwa bagi banyak orang Papua, perjuangan ini bukan semata persoalan politik atau simbol, melainkan perjuangan mempertahankan harkat dan martabat sebagai manusia.
“Mereka ingin berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain dan tidak terus-menerus dipandang sebagai daerah tertinggal,” ujarnya.
Ia menyimpulkan bahwa selama luka sejarah belum diakui, keadilan belum ditegakkan, dan suara orang Papua masih dibungkam, maka perlawanan akan terus ada.
Pesan Penutup
Menutup khotbahnya pada Pesta Tiga Raja dan peringatan imamat, Pastor Amandus berpesan agar para imam muda dan umat terus menghidupi spiritualitas mencari, yakni keberanian membaca tanda-tanda zaman dan mencari solusi atas persoalan kehidupan.
“Teruslah mencari jawaban atas problem-problem kehidupan. Itulah spiritualitas tiga orang majus dari Timur,” tutupnya.
Perayaan kemudian dilanjutkan dengan hening sejenak untuk merenungkan Sabda Tuhan.