Maybrat, Majalahkribo.com – Sebanyak 50 peserta mengikuti kegiatan School Missionary Animation (SOMA) yang diselenggarakan oleh Paroki Santo Yoseph Ayawasi, Keuskupan Manokwari–Sorong. Kegiatan pembinaan ini berlangsung selama tiga hari, sejak Jumat, 16 Januari hingga Minggu, 18 Januari 2026, bertempat di pusat Paroki Santo Yoseph Ayawasi.
Peserta SOMA berasal dari tujuh stasi dan tujuh lingkungan di bawah Paroki Santo Yoseph Ayawasi. Selain itu, kegiatan ini juga diikuti oleh perwakilan peserta dari Paroki Santo Andreas Ayata dan Paroki Santo Ambrosius Suswa. Para peserta terdiri dari pendamping SEKAMI, pendamping remaja, katekis, kaum awam misioner, orang tua, kaum muda, serta biarawan-biarawati yang terlibat langsung dalam karya pendampingan iman di paroki, stasi, dan lingkungan.
Kegiatan SOMA dibuka secara resmi oleh Pastor RP. Krispianus Panda Lewa, SVD, selaku Ketua Komisi Karya Kepausan Indonesia (KKI) Keuskupan Manokwari–Sorong, setelah perayaan Ekaristi pembukaan, Pada Jumat (16/1/2026).
Dalam sambutannya, Pastor Krispianus menegaskan bahwa kehadiran tim keuskupan bukan untuk mengajar secara satu arah, melainkan untuk berjalan bersama umat dalam proses pendampingan panggilan dan pertumbuhan iman.
“Bagi kami di keuskupan, kami tidak datang untuk mengajar. Kami datang untuk berjalan bersama. Materi dan sharing yang kami bagikan merupakan proses kita berjalan bersama dalam pendampingan panggilan dan penguatan semangat misioner,” ujar Pastor Krispianus.
Ia juga menambahkan, selama kegiatan SOMA, para peserta akan dibekali dengan pemahaman dasar tentang Karya Kepausan Indonesia, Sekami, serta peran animator misioner dalam kehidupan Gereja.
Dalam Gereja Katolik, Karya Kepausan Indonesia merupakan lembaga yang membantu Paus dalam menyebarkan semangat misi universal dengan fokus pada pengembangan iman, panggilan, serta kepedulian misioner umat Katolik Indonesia. KKI bekerja sama dengan Komisi Karya Misioner di bawah Konferensi Waligereja Indonesia serta mengelola Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (SEKAMI).
Selama kegiatan berlangsung, para peserta mendapat pendampingan dari tim pemateri Keuskupan Manokwari–Sorong yang terdiri dari Pastor RP. Krispianus Panda Lewa, SVD, Ibu Kresensia Fanataf selaku Wakil Ketua KKI, Ibu Theresia Abaulu, dan Sdri. Trivena Laurensia Samderubun sebagai anggota. Para pemateri membagikan pengalaman pastoral, refleksi iman, serta metode pendampingan yang kontekstual sesuai dengan situasi umat di wilayah Keuskupan Manokwari–Sorong.
Ketua Panitia SOMA, Lenny Air, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini dilaksanakan berdasarkan program kerja Dewan Paroki Santo Yoseph Ayawasi tahun 2025 dan merupakan jawaban atas kebutuhan nyata umat akan pendampingan iman yang berkelanjutan.
“Kita semua adalah misionaris. Melalui rahmat Sakramen Baptis, kita dipanggil untuk mengambil bagian dalam karya pewartaan kabar gembira. Kita tidak hanya melaksanakan tugas perutusan, tetapi juga menjadi animator dan animatris misioner yang mengajak serta mendampingi saudara-saudari kita untuk menjadi murid Kristus,” ungkap Lenny Air.
Ia menjelaskan, tujuan kegiatan SOMA adalah membekali para animator misi, pendamping SEKAMI dan remaja, katekis, kaum awam, orang tua, kaum muda, serta biarawan-biarawati agar memiliki wawasan misioner yang lebih luas dan semangat perutusan yang semakin bertumbuh demi mendukung karya Gereja lokal.
Pastor Paroki Santo Yoseph Ayawasi, Pastor Felix Janggur, OSA, dalam arahannya menyampaikan, kegiatan SOMA merupakan buah dari pergumulan panjang para orang tua, pendamping, dan umat dalam mendampingi anak-anak SEKAMI dan remaja di paroki.
“Kegiatan ini merupakan hasil dari sebuah pergumulan yang panjang. Ada kerinduan yang besar dari para orang tua dan para pendamping bagaimana mendampingi anak-anak SEKAMI dan remaja agar mereka mampu mengalami sapaan dan merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup mereka,” tutur Pastor Felix.
Menurutnya, tugas sebagai misionaris dan pendamping iman bukanlah tugas yang mudah dan tidak lepas dari berbagai tantangan.
“Dalam melaksanakan tugas ini tentu ada kesulitan dan tantangan. Namun ini adalah panggilan. Suka atau tidak suka, kita semua dipanggil untuk menghantar anak-anak kita, anak-anak SEKAMI dan remaja, agar semakin dekat dengan Tuhan,” tambahnya.
Selama tiga hari proses pendampingan, para peserta diajak untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. Pastor Felix berharap agar bekal pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama SOMA dapat diterapkan secara nyata di paroki, stasi, dan lingkungan masing-masing setelah tim keuskupan kembali.
Melalui kegiatan School Missionary Animation ini, Paroki Santo Yoseph Ayawasi berharap semakin banyak animator misioner yang siap terlibat aktif dalam pendampingan Anak dan Remaja Misioner, sehingga Gereja semakin hidup, bertumbuh, dan setia pada panggilan perutusannya di tengah masyarakat.
Pewarta: Charles Fatie