Share this Link

PERAYAAN HUT NOKEN SE-DUNIA KE-9 : 4 DESEMBER 2012 – 4 DESEMBER 21. 

TEMA: PAKAI MASKER NOKEN MENGUSIR COVID-19. HIDUP BEBAS TANPA VIRUS KORONA.

Perss Release, Majalahkribo.com – Salam satu noken. Noken itu Kita, Kita adalah Noken. Selamat merayakan hari ulang tahun noken warisan budaya takbenda yang ke-9 tahun. Noken Warisan Budaya Papua Pada hari ini (4 Desember 2021) masyarakat Papua tidak merayakan hari warisan budaya takbenda secara pantas. Penggagas Noken ke UNESCO mengamati, tidak meria dirayakan seperti pada saat penyelenggaraan PON (Pekan Olah Raga Nasional 1-15 Oktober 2021).

Setiap perajin noken dan asesoris lain mama Papua hadir memeriahkan PON XX Papua 2021. Lalu mengapa? Pada Hari Noken UNESCO ke-sembilan ini, pemerintah Indonesia (pusat dan daerah seluruh tanah Papua) satu pun tidak merayakan HARI NOKEN SE-DUNIA tidak semeria PON XX PAPUA 2021. Ketika Hari Noken UNESCO, jatuh pada Sabtu 4 Desember 2021.

Pusat pemerintahan kota/kabupaten dan provinsi se-tanah Papua tampak sunyi, tidak menghargai noken sebagai warisan budaya Papua. Pantas tidak merayakan tanpa keberpihakan terhadap perajin noken di tujuh wilayah adat Papua. Penggagas Noken Papua ke UNESCO mohon Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mohon segera menjelaskan kepada setiap perajin mama-mama noken yang berdiam diseluruh tanah Papua.

Mengapa setiap pemerintahan daerah membisu ketika Presiden Jokowi ke Papua membeli noken? Pemerintah pusat dan daerah tidak memiliki keberpihakan untuk memeriahkan hari noken warisan kebudayaan dunia ini, mohon menjelaskan kepada publik. Karena Sabtu ini memperingati HUT yang ke-sembilan tahun. Yayasan Noken Papua sebagai lembaga warisan budaya takbenda di tanah Papua pun tidak pernah dihargai semestinya.

Kita memperingati hari ulang tahun noken dalam kesederhanaan ini bukan akhir dari segalanya. Pakai noken kita mengusir korona, karena kita adalah noken. Kita merayakan hari noken Papua, karena noken UNESCO telah dalam daftar yang “Membutuhkan Perlindungan Mendesak”, pasal 17 Konvensi 2003. Noken ini saya, saya adalah noken. Saya manusia yang melawan virus korona dengan taat pakai masker noken, karena virus korona menyebar kemana-mana sejak 2019.

Pesan ilmu noken kepada badan kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) yang tengah mendalami dampak potensial varian virus corona omicron terhadap vaksin covid-19. Tema perayaan pun mengangkat sesuaikan dengan kondisi hari ini. Terutama manusia Papua harus taat pakai masker noken mengusir covid-19. Untuk hidup bebas tanpa virus korona. Adalah Noken UNESCO (United Nations Educational, Scientifis and Cultureal Organization) atau organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan perserikatan bangsa-bangsa. Sebagai noken multifungsi rajutan atau anyaman kerajinan tangan masyarakat Papua.

Tema hari noken memiliki makna yang terkandung didalamnya adalah noken melindungi masyarakat Papua. Noken sebagai rahim kedua dalam kehidupan sehari-hari. Noken adalah identitas orang asli Papua (OAP). Dengan identitas OAP bisa melindungi diri dan siap menghadapi perkembangan dunia yang cepat berubah ini. Noken kini sudah dikenal dunia sebagai warisan budaya takbenda dunia khas Papua. Presiden Indonesia Jokowi beli dua noken dari mama Papua di pinggir jalan. Satu noken kalungkan di leher dan satunya di pundak pada 1 Oktober 2021.

Apa pesan filosofis noken, kalau pak Jokowi gantungkan noken di tubuhnya termasuk juga gantungkan semua persoalan yang terjadi di tanah Papua sebagai tanggung jawabnya. Semoga tidak dillihat hanya sebatas cenderamata, tapi bagaimana pengakuan akan kearifan lokal OAP itu penting.

Mendalami nilai, makna, fungsi filosofis noken dalam pemerintahannya tanpa (1) mengizinkan badan usaha berinvestasi diatas tanah hak ulayat masyarakat adat telah terbukti meniadakan keragaman hayati, kebiasaan hidup rakyat terancam; (2) merestui terdegradasinya kearifan lokal, nasional, internasional noken ketika mulai membabat bahan pohon noken atas nama pemerintah melalui perusahan kelapa sawit, kayu, mineral tabang tanpa mendukung noken warisan budaya Papua; (3) perubahan hutan paru-paru bumi di tanah Papua terus berubah secara sadar, sengaja pelanggaran hak asasi manusia pun terus terjadi tanpa solusi damai; (4) hutan tropis Papua mesti selamatkan tanpa menjadikan projek pemusnahan kehidupan ekologis noken kehidupan di tanah Papua; (5) manusia berperan utama selamatkan kehidupan dirinya dan alam semesta-Nya tanpa obyekkan manusia Papua dengan tujuan sesatkannya, difasilitasi atau sebaliknya untuk menciptakan atau mengundang masalah baru, seperti pemekaran wilayah dari terkecil hingga provinsi akan dapat menambah beban masalah bagi tanah Papua; (6) Pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) di peta tujuh wilayah adat Papua hanyalah menjadi masalah baru karena sudah ditetapkan dalam konservasi noken warisan budaya takbenda oleh UNESCO pada tanggal 4 Desember 2012.

Teater global kini semua orang menjadi pemain dalam drama kehidupan global yang membuat dunia menciut, jarak mengerut, ruang dan waktu lenyap. Menghadapi teater global yang diperankannya pada masa kini, kita harus melindungi diri kita dengan memakai noken dan menaati protokol kesehatan. Noken dalam daftar yang membutuhkan perlindungan mendesak. Karena sedang dalam kepunahan sehingga terhindar dari virus yang mematikan itu. Noken sebagai kearifan lokal masyarakat Papua, hadir untuk melindungi warganya. Noken itu kita, Kita adalah Noken. Salam Noken Membutuhkan Perlindungan Mendesak

Papua, 4 Desember 2021

Titus Pekei, SH. M.Si

(Penggagas Noken ke UNESCO)

 

Comments are closed.