Share

Maybrat, majalahkribo.com – Suasana khidmat dan penuh sukacita menyelimuti Gereja Katolik Stasi Santa Monika Bori, Paroki Santo Yoseph Ayawasi, pada Perayaan Ekaristi Hari Minggu Biasa ke-VI. Momen istimewa ini dirangkai dengan Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus Dewan Stasi Masa Bakti 2026-2029, Pengurus Lingkungan, serta Panitia Perehaban Gedung Gereja.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Pastor Rekan RD. Fransiskus Katino. Di hadapan altar Tuhan dan seluruh umat, prosesi pelantikan berlangsung usai penyampaian homili. Pastor Frans membacakan Surat Keputusan (SK) Pelantikan, dilanjutkan dengan pemercikan air suci sebagai tanda berkat perutusan bagi para pengurus yang baru. Tepuk tangan meriah dari umat yang hadir menjadi simbol dukungan penuh harapan saat sesi foto bersama menutup rangkaian prosesi tersebut.

Dalam homilinya, Pastor Frans Katino mengawali dengan ucapan selamat kepada pengurus baru dan apresiasi mendalam bagi pengurus periode 2024-2026. Ia mengingatkan bahwa menjadi pengurus gereja bukanlah sekadar jabatan organisasi, melainkan sebuah panggilan iman.

Pastor Frans menegaskan posisi strategis Dewan Stasi dan Pengurus Lingkungan sebagai perpanjangan tangan Gereja dan Tuhan di tengah umat. Sinergi dengan paroki adalah hal yang mutlak.

“Tugas utamanya adalah mendukung karya pastoral paroki. Bukan kita kerja sendiri-sendiri dengan segala bentuk upaya sendiri, seakan-akan kita tidak di bawah paroki,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya menghidupkan basis gereja yang paling dasar, yakni Lingkungan. Menurutnya, denyut nadi stasi dan paroki sangat bergantung pada hidup atau matinya aktivitas di lingkungan.

“Lingkungan adalah komunitas basis gereja yang harus hidup. Lingkungan hidup, maka pasti stasi hidup. Jika lingkungan mati, tidak ada ibadah, maka stasi pun tidak akan pernah hidup sama sekali,” ujarnya.

Lebih lanjut, Imam projo ini juga mengajak seluruh pengurus yang baru dilantik untuk memiliki mentalitas baja dan tidak mudah menyerah saat menghadapi dinamika pelayanan. Ia mengkritisi sikap yang mudah ‘cuci tangan’ atau mundur ketika menghadapi konflik internal. Bagi Pastor Frans, spiritualitas pelayanan sejati harus berkaca pada Yesus Kristus, Sang Gembala Baik.

“Yesus pun mengatakan kalau kamu ingin menjadi besar, hendaklah kamu menjadi hamba, menjadi pelayan. Justru letak dari kebesaran dan harga diri kita terangkat karena kita melayani,” tuturnya.

Ia mengingatkan agar para pengurus menjauhkan diri dari sikap “gila hormat” atau feodalisme rohani. Pelayan gereja dipanggil untuk memberi diri, bukan menuntut perlakuan istimewa layaknya bos.

“Orang yang menuntut dilayani dan dihormati justru kualitasnya rendah. Tetapi kalau kalian mau melayani dengan tulus sebagai seorang hamba tanpa meminta penghormatan, orang akan menghargai dan mendengarkan kita,” tambah Pastor Frans.

Mengakhiri pesannya, Pastor Frans menyentuh aspek pengorbanan dalam pelayanan gerejani. Berbeda dengan pejabat publik yang digaji oleh rakyat, pelayan gereja bekerja tanpa upah materi, namun memiliki janji iman yang jauh lebih kekal.

“Kalian bukan orang-orang yang diupah atau digaji. Paroki tidak membayar kalian satu peser pun. Ini adalah tugas pelayanan yang menuntut pengorbanan,” ucapnya.

Kendati demikian, ia meyakinkan para pengurus bahwa setiap tetes keringat dan ketulusan dalam melayani umat tidak akan sia-sia di mata Tuhan.

“Percayalah, meski kalian menjadi pelayan yang tidak diupah secara duniawi, Tuhan tetap menaruh upah-Nya yang besar. Ketika stasi ini semakin hidup dan iman umat bertumbuh, upah besar menanti di surga,” pungkasnya.

Perayaan Ekaristi bersama dan pelantikan berakhir dengan suasana penuh damai. Kebahagiaan tersebut kemudian berlanjut dalam acara jamuan kasih bersama antara umat dan Pastor Fransiskus Katino sebagai wujud persaudaraan sejati dan ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan bagi umat di Stasi Bori.

Pewarta: Charles Fatie

About Author

Comments are closed.