Sore perlahan turun di kawasan Reklamasi Pantai Fakfak, di sepanjang Jalan Dr. Salasa Namudat. Seperti dalam foto yang Anda abadikan, langit Fakfak berubah menjadi kanvas raksasa, semburat jingga, merah, dan ungu bertumpuk dramatis di atas laut yang tenang. Cahaya matahari yang hampir tenggelam memantul di permukaan air, menciptakan kilau keemasan yang menari mengikuti riak ombak kecil.
Penulis: Gilbert
Dari ketinggian, terlihat jelas bagaimana kota ini memeluk laut. Perbukitan Fakfak berdiri anggun dengan rumah-rumah yang mulai menyalakan lampu. Satu per satu cahaya menyala, membentuk taburan bintang di lereng bukit. Jalan reklamasi yang melengkung mengikuti garis pantai tampak hidup, lampu kendaraan dan penerangan jalan menciptakan garis cahaya yang memanjang indah di tepian laut.
Sebuah kapal tampak berlayar perlahan di tengah teluk. Siluetnya tegas di antara warna langit yang membara, seolah menjadi saksi bisu keindahan senja. Angin laut berembus lembut, membawa aroma asin yang khas, menyapu wajah siapa saja yang berdiri menikmati pemandangan.
Reklamasi Pantai Fakfak bukan hanya ruang terbuka biasa. Di sinilah warga berkumpul setiap sore, anak-anak bermain, remaja bercengkerama, para orang tua duduk santai memandang cakrawala. Ada yang berjalan santai menyusuri tepi pantai, ada pula yang duduk menikmati kopi dan jajanan dari warung-warung kecil di sekitar kawasan itu.
Ketika matahari benar-benar tenggelam di balik horizon barat, langit berubah menjadi ungu gelap, dan cahaya kota semakin terang memantul di permukaan laut. Suasana menjadi syahdu, menghadirkan rasa damai yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Menikmati senja di Reklamasi Pantai Fakfak adalah tentang menyatu dengan alam, merasakan detik-detik matahari berpamitan, menyaksikan kota perlahan beralih dari siang ke malam. Di sinilah cinta pada kota pala tumbuh, di antara laut, bukit, dan cahaya senja yang tak pernah gagal membuat hati terpikat.