Share

Maybrat, majalahkribo-com – Keberhasilan sering kali disalahpahami sebagai hasil dari keberuntungan semata. Namun, bagi Simon Wafom, seorang pria asal Bori Timur, Kabupaten Maybrat, kesuksesan yang ia raih saat ini adalah buah dari keteguhan hati yang ditempa oleh kerasnya kehidupan. Di balik seragam Aparatur Sipil Negara (ASN) yang kini ia kenakan, tersimpan ribuan tetes keringat, bekas luka di tangan akibat memecah batu, dan doa yang tidak pernah putus.

Simon Wafom bukanlah seseorang yang lahir dengan kemudahan. Putra dari pasangan Yusuf Wafom dan seorang ibu yang bekerja sebagai petani ini, sejak kecil telah diajarkan arti hidup dari tanah. Latar belakang keluarga petani inilah yang membentuk pondasi karakternya.

Perjalanan akademisnya dimulai dengan langkah sederhana. Simon menempuh pendidikan di TK Kurera, berlanjut ke SD Geraja 2 di Kota Sorong, SMP Don Bosco, hingga menuntaskan pendidikan menengah di SMIA. Rasa ingin tahunya yang tinggi membawanya hingga ke bangku perkuliahan di Universitas Victory Sorong, di mana ia akhirnya meraih gelar Sarjana Administrasi Negara pada tahun 2016.

Namun, ijazah sarjana tidak menjamin jalan yang mulus. Lulus dari universitas justru menjadi titik awal dari babak baru yang lebih menantang: medan perjuangan nyata di dunia kerja.

Tahun 2016 menjadi masa transisi yang sulit. Simon memutuskan untuk menetap dan mengabdi di Maybrat, tanah kelahirannya. Ketika formasi CPNS pertama kali dibuka di Maybrat pada tahun 2018, Simon adalah salah satu yang mencoba peruntungannya. Namun, kenyataan berkata lain. Ia belum berhasil menembus seleksi saat itu.

Banyak orang mungkin akan menyerah atau merasa rendah diri. Tetapi, Simon memilih jalan yang berbeda. Sembari menunggu kesempatan berikutnya, ia tidak membiarkan waktu terbuang percuma. Ia terjun langsung ke “sekolah kehidupan” yang sesungguhnya.

Simon menceritakan masa-masa di mana ia menggali pasir, memikul kayu, hingga toki batu (memecah batu) untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pekerjaan fisik yang berat itu ia jalani tanpa rasa malu, justru dengan kepala tegak.

“Saya dilahirkan dari mama petani, bapak petani. Waktu saya sekolah pun, saya pelaku utama yang turun kerja kebun, rintis, bakar, dan tanam. Sampai panen, kami pikul. Jarak dari kebun ke jalan raya itu 3 kilometer. Itu yang membentuk saya,” kenang Simon.

Selain bekerja fisik, ia juga membagi energinya untuk mengabdi di masyarakat. Simon aktif terlibat dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, mulai dari pengurus di kampung hingga pelayanan di gereja. Baginya, kontribusi nyata kepada sesama adalah tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan, terlepas dari apa status pekerjaannya.

Kesabaran Simon akhirnya membuahkan hasil. Pada formasi CPNS 2021 yang ujiannya diselenggarakan tahun 2024, Simon kembali menguji kemampuannya. Berbekal pengalaman hidup dan ketekunan belajar, ia berhasil mencatatkan skor yang sangat membanggakan, yakni 310. Dengan raihan tersebut, ia menduduki urutan kelima dalam seleksi di Maybrat.

Saat mendengar kabar kelulusannya, emosi yang dirasakan Simon campur aduk. Ada rasa syukur, bahagia, dan haru yang mendalam. Ia segera menghubungi orang tuanya, memberi tahu mereka bahwa perjuangan panjang mereka—yang juga ikut membiayai dan mendukungnya—akhirnya membuahkan hasil.

“Perasaan saya saat itu sangat bahagia. Saya menangis. Saya telepon Mama dan Bapak, saya bilang: ‘Terima kasih, kamu punya perjuangan tidak sia-sia. Sekarang anak sudah tembus Pegawai Negeri,'” ujarnya dengan nada penuh emosi.

Kini, sebagai seorang ASN, Simon memiliki visi yang jelas: menyejahterakan orang tua, adik, kakak, serta keluarga besarnya. Namun, di balik keberhasilan pribadinya, ia memiliki pesan penting bagi generasi muda, terutama bagi mereka yang saat ini masih berjuang mencari pekerjaan atau belum mendapatkan kesempatan yang mereka impikan.
Simon menekankan tiga kunci utama.

“Jangan kita berbangga diri kalau sudah wisuda. Tantangan di depan itu nyata. Untuk adik-adik dan saudara yang mendengar, jangan pernah putus asa. Perjuangan masih panjang. Yang penting, setiap ada cobaan, dekatkan diri pada Tuhan. Karena ketika kita ingat Dia, Dia akan membukakan jalan yang baik,” pesannya.

Kisah Simon Wafom adalah pengingat bagi kita semua bahwa keberhasilan bukanlah garis finis yang didapat secara instan, melainkan hasil dari maraton panjang yang dijalani dengan integritas, kerja keras, dan penyerahan diri yang total.

Pewarta: Charles Fatie

About Author

Comments are closed.