Share

Oleh : Nomen Douw

CERPEN – Kehidupan telah modern setelah Pemekaran Provinsi Papua (DOB). Masyarakat Papua tidak mungkin lagi hidup dari hasil pertanian, peternakan dan perikanan. Sejak tahun 2022, kehidupan modern membuat Masyarakat Papua bahagia dengan kebutuhan tukar tambah uang dan material. Masyarakat Papua menjual tanah kampung kepada pemodal lokal yang menjadi kaki tangan pusat di daerah melalui kerja agen-agen lokal.

Masyarakat Papua sangat mencintai tanah kampung sebelum adanya pemekaran, akan tetapi, sejak ada himbauan kepala daerah, semua Masyarakat Papua di masing-masing kampung mulai pasang plang dengan bertuliskan, “Tanah Ini Dijual untuk Membeli Umpan Besar untuk Memancing Ikan Hiu.”

Pesisir pantai Papua dan ruang-ruang kota ramai dengan Masyarakat Papua. Mereka semua datang dari berbagai daerah setelah berhasil menjual tanah kampung untuk memancing ikan hiu. Tetapi, tidak mudah sampai di pesisir pantai Papua untuk memancing ikan hiu. Semua Masyarakat Papua mengantre dengan dua syarat untuk bisa masuk:

Pertama, cukup mampu membaca berita dari Pemerintah Papua tanpa ada pemahaman tentang ideologi apa pun dari bacaan buku. Kedua, cukup hanya percaya apa pun berita dari Pemerintah Papua tanpa berkomentar apa pun.

Setelah ada pemberitahuan dari kepala daerah yang menyembah orang-orang Jakarta, Masyarakat Papua secara brutal memenuhi ruas ibu kota Papua. Aktivitas pemerintah, lembaga swasta, dan pusat pasar tutup, tidak ada aktivitas jual beli barang. Suasana berubah seakan sedang dilanda perang sosial setelah krisis uang.

Masyarakat Papua yang memenuhi seluruh kota berbondong-bondong ke satu titik untuk bisa menyelamatkan hidup dari ancaman tradisional. Setelah pemekaran, Masyarakat Papua percaya kehidupan yang dapat menghidupkan kehidupan modern adalah, “memancing ikan hiu besar dengan umpan kecil, tidak ada acara lain untuk Masyarakat Papua bisa bertahan hidup setelah pemekaran.”

Pantai yang indah terdengar redup di balik tembok yang dibangun uang Freeport Indonesia. Pagar tembok berdiri kokoh lima belas meter, membatasi Masyarakat Papua yang ingin masuk ke bibir pantai Papua untuk memancing ikan hiu.

Tembok terlihat seperti Tembok China dan tembok batas wilayah Palestina dan Israel di Tepi Barat. Gerbang besi terlihat seperti pintu kerajaan dalam film-film Hollywood. Sepanjang tembok ada logo Pancasila, Freeport, beberapa logo media nasional dan media lokal. Gerbang besi dijaga ketat Pasukan Elit dengan senjata lengkap dan agen-agen lokal yang dibayar janji jabatan dan uang.

“Kalau Mau Pancing Hiu, Jangan Pakai Umpan Ikan Kecil,” tulisan merah putih di atas pintu gerbang masuk pesisir pantai. Kalimat itu menjadi pesan yang sangat kuat untuk Masyarakat Papua di seluruh tanah kampung untuk datang ke pesisir pantai untuk memancing ikan hiu.

Di balik tembok, Masyarakat Papua yang telah masuk dengan umpan kecil di tangan tidak bersuara setelah melewati gerbang pintu besi. Diam, tenang, seakan fokus memancing ikan hiu. Himbauan memancing yang datang dari Pemerintah Papua adalah solusi hidup yang tepat untuk Masyarakat Papua, sehingga tanah kampung yang mereka cinta sejak nenek moyang dijual untuk memancing ikan hiu di pesisir pantai.

Ketika mendengar kebahagiaan memancing ikan hiu di balik tembok, di pesisir pantai Papua, Masyarakat Papua di depan gerbang besi saling rebut untuk masuk. Terkadang Masyarakat Papua berkelahi dengan tentara dan polisi, tetapi konflik selalu berpindah ke tangan agen-agen lokal yang Masyarakat Papua percaya sebagai figur pembela keadilan. Namun, diam-diam mereka mengubahnya menjadi konflik horizontal.

“Bapa jual tanah kampung dengan harga berapa sebelum tiba di tembok batu, di gerbang besi ini?” tanya seorang wartawan lokal pada salah satu Masyarakat Papua di depan pintu gerbang besi.

“Sesuai harga umpan untuk ikan hiu,” jawab Masyarakat Papua itu dengan wajah cemas pada wartawan lokal dengan nada suara percaya diri kalau apa yang sudah dilakukan adalah untuk berkehidupan baik.

“Bapa tidak takut kalau bapa punya anak cucu ke depan nanti tinggal di mana?” tanya wartawan lokal sembari berpikir diam-diam, “bapa kampung ini pintar, dia punya pikiran lebih maju dari Masyarakat kota.”

“Saya tidak takut. Semua Masyarakat Papua begitu jadi. Hidup di tanah kampung sudah tidak perlu lagi. Sekarang kita ikuti himbauan Pemerintah Papua saja. Jadi sudah, kita mancing ikan hiu saja biar bisa bertahan hidup, dan itu harapan hidup semua Masyarakat Papua sekarang,” jelas Masyarakat Papua itu dengan percaya diri.

“Baik sudah, sedikit lagi sa masuk jadi,” lanjut Masyarakat Papua itu mengakhiri diskusi singkat dengan wartawan lokal.

“Ok, bapa. Baik, selamat menikmati hidup yang layak,” tutup wartawan lokal. Mereka berdua berpisah. Kembali tenggelam dalam lautan Masyarakat Papua depan wajah tembok bergerbang besi yang menjulang tinggi.

Di balik tembok berukuran lima belas meter, setiap Masyarakat Papua yang masuk menjadi makanan ikan hiu. Keringat, air mata, dan darah berserakan di pesisir pantai Papua yang terlihat tenang dari balik tembok.

Ternyata, setiap Masyarakat Papua yang memancing ikan hiu harus menggunakan daging manusia agar bisa mendapatkan kehidupan modern. Untuk mendapatkan umpan yang besar, Masyarakat Papua yang masuk dengan kesederhanaan dengan harapan mendapat hidup yang layak tidak kunjung dapat.

Masyarakat Papua yang masuk dibunuh langsung setelah uang dari hasil menjual tanah kampung dan kebebasan bersuara disita di depan pintu gerbang besi. Semua hal yang dimiliki Masyarakat Papua dirampas dengan keras melalui tangan militer dan agen-agen lokal yang difasilitasi orang-orang pusat pemerintahan.

Langit cerah di pesisir pantai. Setiap Masyarakat Papua menjadi daging yang lezat untuk ikan-ikan hiu yang menunggu dengan lapar di bibir pantai Papua. Ternyata, Masyarakat Papua yang berkumpul tidak datang untuk memancing ikan hiu dengan umpan yang besar, tetapi menjadi menu makan yang segar.

Pemerintah Papua, perusahaan, politisi, dan media lokal duduk sangat santai menikmati hidup di bibir pantai Papua, dalam pesona keemasan. Mereka duduk menikmati makanan dan minuman seperti rumah makan di Pulau Bali dalam bisikan angin yang sejuk.

Mereka duduk menyaksikan setiap Masyarakat Papua yang masuk dari pintu gerbang besi dibunuh para operator yang sudah disiapkan. Mayat-mayatnya dipotong lalu dilempar ke dalam laut menjadi makanan ikan hiu.

Ikan-ikan hiu datang dengan cepat merampas daging-daging segar Masyarakat Papua. Darah yang terlihat di atas kulit air dan daging yang ditelan ikan hiu menjadi hiburan yang asyik bagi Pemerintah Papua, perusahaan, politisi, dan  media lokal.

Kebahagiaan, kenikmatan, dan kemapanan diberitakan oleh media lokal dengan narasi kepedulian pada Masyarakat Papua, “Kalau Mau Pancing Hiu, Jangan Pakai Umpan Ikan Kecil,” topik berita dari Pemerintah Papua yang selalu nampak di beritakan media lokal.

Masyarakat Papua yang berkumpul di seluruh kota dari tanah kampung-kampung, tidak tahu apa yang terjadi di balik tembok yang tinggi. Mereka hanya tahu lewat media lokal yang selama ini mereka percaya sebagai corong kebebasan kritis Masyarakat Papua namun diam-diam tidak seperti itu.

Masyarakat Papua percaya himbauan Pemerintah Papua. Tetapi, apa yang terjadi pada Masyarakat Papua yang masuk melewati pagar tembok, mereka tidak tahu karena suara media lokal dari balik tembok tidak memberitakan kejadian yang sebenarnya.

Kejahatan dalam Masyarakat Papua terus terjadi. Media lokal hanya memberitakan suara yang datang dari balik tembok tinggi tentang kenikmatan uang dalam Pemerintah Papua, pengusaha dan politisi.

Masyarakat Papua tidak tahu tentang ikan hiu yang sebenarnya di laut pantai dan aktivitas di pesisir. Masyarakat Papua hanya masuk melewati tembok tinggi melalui gerbang besi hingga bertemu ikan. Setelah menjadi daging, jiwa Masyarakat Papua seakan tahu tentang jawaban atas pertanyaan:

Apa itu pancing ikan hiu? dan apa itu umpan kecil? Hanya media lokal yang masih bisa memberikan jawaban yang sebenarnya. Jika tidak, Masyarakat Papua akan terus mengantre di depan gerbang besi bertembok tinggi untuk menjadi makanan yang enak untuk ikan-ikan hiu di pesisir pantai Papua.

Comments are closed.