Share

Fakfak, majalahkribo.com – Pemerintah Kabupaten Fakfak terus berupaya menyediakan akses air bersih bagi masyarakat melalui pembangunan sumur bor di sejumlah wilayah. Program ini merupakan hasil kerja sama strategis dengan Institut Teknologi Bandung (ITB), yang telah dimulai sejak Februari 2026.

Bupati Fakfak, Samaun Dahlan, menyampaikan bahwa tahun ini pengeboran sumur akan dilakukan di tiga titik, yakni Distrik Pariwari, Distrik Fakfak, dan Distrik Fakfak Tengah. Langkah ini diharapkan menjadi solusi konkret untuk mengatasi krisis air bersih yang selama ini menjadi keluhan masyarakat.

Bupati Samaun Dahlan mengungkapkan, rencana pengeboran sumur sempat menuai keraguan dari berbagai pihak.

“Banyak orang yang menyampaikan bahwa saya ini seperti gila ketika merencanakan pengeboran sumur air bersama ITB. Tapi saya percaya, kalau kita bekerja dengan tulus, hasilnya pasti akan dicapai,” ujarnya pada Rabu (11/03/26).

Pengalaman membuktikan tekadnya. Saat masih menjabat sebagai Kepala Dinas PUPR, Samaun Dahlan memimpin pembangunan Bandara Siboru, yang sempat dianggap mustahil karena kondisi geografis yang ekstrem.

“Dulu waktu saya bangun bandara, orang bilang saya harus diperiksa ke dokter karena dianggap tidak masuk akal membangun bandara di wilayah dengan ketinggian dan kondisi geografis seperti itu. Namun pada akhirnya bandara tersebut berhasil dibangun dan kini sudah digunakan,” jelasnya.

Bupati menekankan bahwa keberhasilan suatu pembangunan bergantung pada kerja sama tim yang solid dan kesungguhan dalam menjalankan program.

“Kalau kita punya tim yang baik dalam pembangunan, semua pasti bisa terkawal. Begitu juga dengan rencana pembangunan air ini, saya yakin pasti bisa berhasil,” tegasnya.

Ia juga menyoroti beban ekonomi masyarakat akibat keterbatasan akses air bersih.

“Kita punya mama-mama yang jualan sayur di pasar, dengan penghasilan yang cukup, tapi masih harus keluar uang untuk beli air, ini sangat menyedihkan,” ungkap Bupati.

Program sumur bor ini diharapkan mampu meringankan beban masyarakat, khususnya pedagang kecil dan pekerja harian, serta memastikan ketersediaan air bersih secara berkelanjutan.

“Kasihan mama-mama yang jualan di pasar, sehari mungkin dapat Rp150 ribu sampai Rp200 ribu. Tapi pulang ke rumah masih harus beli air. Ini beban yang harus kita selesaikan,” tambahnya.

Selain itu, pemerintah daerah juga mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau yang berpotensi memperparah krisis air bersih jika tidak diantisipasi sejak dini.

Bupati juga mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung program ini agar berjalan lancar dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan warga.

“Persoalan air bersih tidak boleh lagi menjadi masalah berulang dari satu pemerintahan ke pemerintahan berikutnya. Untuk itu, saya meminta agar program air bersih terus dikedepankan hingga 2027 dengan dukungan anggaran dan kebijakan yang konsisten,” pungkasnya.

Kerja sama dengan ITB diharapkan menghadirkan kajian teknis dan pemetaan sumber air tanah secara lebih akurat, sehingga pembangunan sumur bor dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.

Comments are closed.