Share

Ilustrasi Foto

Fakfak, majalahkribo.com  — Sejumlah warga Kampung US di Distrik Teluk Patipi, Kabupaten Fakfak, sempat meninggalkan permukiman mereka dan tinggal di kawasan hutan setelah diduga terpengaruh ajaran sesat yang dibawa empat orang dari luar Papua. Peristiwa tersebut pertama kali terungkap pada Selasa siang, 22 Maret 2022, saat seorang warga dari kampung tetangga melaporkannya kepada majalahkribo.com.

“Ada orang dari luar Papua datang ke kampung dan menghipnotis warga untuk tinggal di hutan,” ujar informan yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Menurut informan, warga yang terpengaruh diajak beribadah di dalam hutan, bukan untuk menyembah Tuhan, melainkan mengagungkan “guru” mereka yang dianggap sebagai sosok ilahi. Aktivitas pemujaan disebut dilakukan pada malam hari.

“Mereka menyembah guru mereka kalau malam. Aktivitas mereka semua di tengah hutan,” lanjutnya.

Informan juga menyebut, kelompok tersebut beberapa kali kembali ke kampung untuk mengajak warga lain bergabung. Warga yang menolak disebut sempat diintimidasi hingga diancam dibunuh.

“Mereka kadang kembali ke kampung dan memaksa masyarakat ikut ajaran mereka. Kalau tidak ikut, mereka ancam akan dibunuh. Mereka datang bawa parang dan alat tajam lainnya,” ungkapnya.

Perkembangan terbaru terjadi pada Selasa, 29 Maret 2022, ketika Tim Gabungan Polres Fakfak dipimpin Kasat Reskrim Iptu Handam Samudra berhasil mengamankan pimpinan kelompok berinisial DA dan RI bersama 11 pengikutnya di kawasan Adora–US.

“Mereka dijemput dan diamankan pada pukul 09.25 WIT, kemudian tiba di Polres Fakfak sekitar pukul 12.00 WIT,” ujar Iptu Handam kepada sejumlah media.

Kasat Reskrim menyebut pihaknya telah memeriksa setidaknya 21 orang, termasuk kedua pemimpin kelompok tersebut.

Ketua MUI Kabupaten Fakfak, Drs. Muhammadon Dg Husein, meminta aparat bergerak cepat untuk menuntaskan persoalan agar tidak meresahkan masyarakat.

“Yang lebih penting adalah menyelamatkan masyarakat yang terlanjur terpengaruh. Perlu pendekatan yang melibatkan tokoh agama dan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Gereja Protestan Indonesia di Papua (GPI Papua) melalui Pdt. Ris Rotasouw juga mendatangi Polres Fakfak untuk memberikan pendampingan bagi jemaat yang ikut dalam kelompok tersebut.

“Klasis GPI Papua Fakfak telah bertemu pihak Polres untuk pelayanan pastoral kepada warga kami yang ikut kelompok DA,” kata Pdt. Ris.

Informasi terbaru yang diterima pada Rabu malam, 23 Maret 2022, menyebut sebagian besar warga yang awalnya mengikuti ajaran tersebut telah kembali ke kampung.

“Sebagian besar masyarakat sudah pindah kembali ke kampung,” ujar informan lain.

Namun, empat orang yang diduga menjadi aktor utama berinisial NH, FK, YI, dan VT dilaporkan melarikan diri ke dalam hutan dan belum ditemukan.

“Empat orang pimpinan mereka kabur,” ujar informan itu.

Pihak kepolisian dilaporkan telah melakukan patroli di wilayah Kampung US–Adora untuk memastikan keamanan warga, sekaligus mengimbau masyarakat yang tersisa di hutan agar kembali ke permukiman.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari Polres Fakfak terkait langkah lanjutan pencarian empat orang yang menjadi dalang dugaan ajaran sesat tersebut.

Jurnalis: Ronaldo Josef Letsoin

About Author

Comments are closed.