Share

Awalnya, saya tidak ingin menuliskan ini di media sosial.

Masih ada rasa sayang dan iba pada kalian berdua.

Namun, semua ini sudah sampai di ambang batas kesabaran saya.

Jika kalian menyalahkan saya atas semua yang terjadi, karena saya yang meminta mudik Lebaran Maret 2025, ya, saya akui itu kesalahan saya.

Tapi uang yang kita kumpulkan untuk mudik tidak pernah saya gunakan tanpa izinmu, Danny. Semua atas persetujuanmu.

Tanggal 22 Maret 2025, kita berangkat bersama dua anak kita.

Perjalanan itu tidak mudah. Tiket hanya sampai Ambon, dan kita harus memutar otak agar anak-anak tetap aman.

Akhirnya, kita meminjam uang dari adik ipar untuk membeli tiket pesawat Ambon ke Jakarta.

Perjalanan terasa seperti ujian tanpa henti.

Dari Fakfak ke Ambon, ombak besar membuat kami berempat tersiksa.

Sesampainya di Jakarta pada 25 Maret, kami justru ditipu travel. Dari pukul 10 malam hingga pukul 6 pagi, kami diputar-putar tanpa arah, padahal tujuan kami Surabaya.

Kami bertahan di Jakarta selama empat hari dengan sisa tabungan.

Akhirnya, 30 Maret 2025, kami sampai di Pangkalan Bun.

Saya pikir, setelah semua itu, kita akan bahagia.

Kami merayakan Lebaran bersama.

Namun tanggal 9 April, ibumu membelikan tiket untukmu pulang ke Fakfak, tanpa saya dan anak-anak.

Awalnya memang niat kita untuk menyekolahkan anak pertama di Kalimantan.

Kita masih berkomunikasi. Video call dua sampai tiga kali sehari.

Saya selalu mengabari perkembangan anak-anak.

Namun memasuki bulan Mei, kamu mulai menghilang.

Kemudian saya menemukan sesuatu yang menghancurkan saya. Chat yang sudah kamu hapus, tetapi sempat saya lihat dengan mata kepala sendiri.

Kamu mulai mendekati seorang gadis berusia 19 tahun bernama Nadia.

Saya mengenalnya.

Pendiam. Pernah bekerja di konter milik keluargamu.

Pernah bertemu saya dan anak-anak.

Ternyata, diam bukan berarti baik.

Orang-orang mulai bicara.

Bahkan ibumu pernah berkata, coba telepon terus suamimu.

Namun saya dengan bodohnya membelamu, mengatakan kamu bukan seperti itu.

Ternyata saya salah.

Hubungan kalian berlanjut tanpa sepengetahuan saya.

Bahkan keluargamu tahu.

Mobil dipinjamkan untuk kalian berdua.

Kalian jalan bersama seperti pasangan.

Sementara saya di sini, masih percaya.

Di saat yang sama, kamu sering mengeluh sakit.

Saya khawatir dan berusaha pulang.

Tiket sempat saya beli, tetapi kamu minta dibatalkan. Uang dua juta hilang.

Saya mencoba lagi di bulan Juni dan Juli.

Kamu kembali melarang.

Kamu bilang akan pulang bersama, tetapi ternyata tidak.

Hingga akhirnya, Oktober 2025, mertuaku menjemput saya dan anak-anak ke Fakfak.

Alasannya untuk menghentikan hubungan kalian.

Namun sia-sia.

Sesampainya di Fakfak, saya melihat semuanya.

Chat mesra kalian.

Saya hancur dan histeris.

Dan kamu menghapus semuanya.

Menghilangkan bukti.

Bahkan mulai bersikap kasar, sesuatu yang tidak pernah kamu lakukan selama pernikahan kita.

Saya mencoba mengumpulkan bukti.

Namun saya sendiri di sana, tanpa keluarga.

Bahkan orang-orang di sekitar memilih diam.

Saya mulai kehilangan kendali.

Saya menyebut nama Nadia di mana-mana.

Saya marah dan terluka.

Kamu mengancam menceraikan saya.

Saya setuju.

Namun proses pengadilan meminta kami menunggu enam bulan tanpa nafkah dan tanpa hubungan.

Sejak Desember, kamu benar-benar tidak menafkahi saya dan anak-anakmu.

Saya bertahan hidup dengan mengupas bawang.

Ibumu diam-diam membantu, memberi uang untuk kebutuhan anak-anak.

Suatu hari, saya melihat kamu menawarkan skincare untuk wanita itu.

Sementara anakmu bahkan kesulitan pampers.

Sejak itu, kamu jarang pulang.

Hanya mandi, ganti baju, lalu pergi lagi.

Saya tahu tujuanmu, memenuhi syarat agar bisa menceraikan saya dan menikahi dia.

Saya mencoba bekerja.

Menjadi promotor.

Berjuang sendiri.

Namun hidup semakin sulit.

Saya tetap bertahan demi anak-anak.

Sampai akhirnya, saya memutuskan pulang, membawa anak-anak.

Tanggal 12 April 2026, saya naik kapal.

Namun perjalanan itu menjadi luka terakhir.

Selama lima hari di kapal, kamu lebih banyak bersama handphone. Kamu melakukan video call dengan dia, bahkan di depan saya.

Tanggal 17 April, kami tiba di Surabaya.

Kami menginap sambil menunggu kapal berikutnya.

Dan pada 21 April, kamu melakukan hal yang tidak pernah saya bayangkan.

Kamu membawa anak-anak pergi.

Katamu hanya ingin mengajak mereka jalan sebentar.

Saya percaya.

Saya tertidur karena lelah.

Saat bangun, mereka tidak ada.

Saya mencari ke seluruh kapal.

Namun kapal sudah berlayar.

Saat akhirnya saya mendapat akses internet, saya membaca pesanmu.

Kami terpaksa memakai cara ini untuk membawa anak.

Dunia saya runtuh.

Saya tidak meminta harta.

Saya tidak meminta nafkah.

Saya bahkan tidak melarangmu menikah dengan wanita itu.

Namun satu yang saya minta, kembalikan anak-anak saya.

Mereka masih butuh saya.

Mereka masih memanggil saya ibu.

Untukmu, Nadia,

kamu boleh mengambil suamiku.

Kamu boleh membuat dia memblokir saya dari hidupnya.

Namun tolong, bujuk dia.

Kembalikan anak-anak saya.

 

Keterangan: Ditulis oleh Okitanawa E. Robet, dipublikasikan di Facebook, dan diterbitkan ulang oleh MajalahKribo.com.

 

Comments are closed.