Share

Maybrat, majalahkribo.com — Umat Stasi Santa Monika Bori, Paroki Santo Yoseph Ayawasi, merayakan Misa Vigili Paskah (Sabtu Suci) pada Sabtu (4/4/2026) dengan suasana sederhana penuh kekhusyukan dan juga hening serta sarat makna dan sukacita.

Perayaan ini menjadi bagian penting dalam tradisi Gereja Katolik untuk mengenang masa penantian antara wafat Yesus Kristus pada Jumat Agung dan kebangkitan-Nya pada Minggu Paskah.

Misa dipimpin oleh Pastor Emanuel Bofitkamon Air, OSA, yang mengajak seluruh umat untuk menghayati malam suci ini sebagai momentum pembaharuan iman dan kehidupan rohani.

Perayaan diawali dengan upacara cahaya di halaman gereja. Api baru dinyalakan sebagai simbol terang Kristus yang mengalahkan kegelapan dosa. Pada saat yang sama, lampu gereja dipadamkan, menciptakan suasana gelap yang melambangkan dunia tanpa terang keselamatan.

Umat kemudian memasuki gereja sambil membawa lilin yang menyala. Dalam keheningan tersebut, pastor bersama para misdinar menyusul masuk ke dalam gereja sambil melantunkan lagu “Cahaya Kristus” sebanyak tiga kali hingga tiba di altar. Nyala lilin umat menjadi tanda iman akan kehadiran Kristus sebagai terang dunia.

Setelah prosesi tersebut, pastor menaiki altar dengan membawa dupa, sementara umat tetap berdiri dalam suasana hening dengan lilin menyala. Tidak lama kemudian, lampu gereja dinyalakan dan liturgi sabda dimulai dengan rangkaian bacaan yang menggambarkan karya keselamatan Allah sejak awal penciptaan hingga pemenuhan dalam Kristus.

Dalam homilinya, Pastor Emanuel menekankan makna penciptaan sebagai dasar karya keselamatan Allah. Ia mengingatkan umat tentang martabat manusia sebagai ciptaan yang mulia dan dipanggil untuk hidup dalam kesucian.

“Dalam kisah penciptaan, manusia ditempatkan sebagai puncak seluruh ciptaan. Kita dipanggil untuk hidup suci dan bersatu dengan Allah. Karena itu, kita harus saling menghormati dan tidak merendahkan martabat sesama,” ungkapnya.

Ia juga mengangkat kisah Abraham sebagai teladan iman yang total kepada Tuhan. Ketaatan Abraham, yang rela mempersembahkan anaknya, menjadi gambaran nyata tentang kesetiaan yang mendalam.

“Iman Abraham menunjukkan ketaatan tanpa syarat. Ia percaya sepenuhnya kepada Tuhan, bahkan dalam situasi yang paling sulit. Dari situlah kita belajar untuk berserah dan tetap setia,” ujar Pastor Emanuel.

Selain itu, ia mengingatkan umat akan pengalaman bangsa Israel yang dibebaskan dari perbudakan di Mesir sebagai bukti nyata penyertaan Tuhan bagi umat yang setia.

“Allah selalu bertindak dalam kehidupan umat-Nya. Ketika bangsa Israel berseru dan taat, Tuhan membuka jalan keselamatan bagi mereka. Ini menjadi pelajaran bagi kita untuk tetap berharap dan setia,” katanya.

Dalam bagian lain homilinya, Pastor Emanuel menyoroti makna pembaptisan sebagai pintu masuk kehidupan baru dalam Kristus. Ia menjelaskan bahwa melalui pembaptisan, umat dipanggil untuk mengambil bagian dalam tugas Kristus sebagai nabi, imam, dan raja.

“Pembaptisan menyatukan kita dengan wafat dan kebangkitan Kristus. Kita dipanggil menjadi manusia baru, meninggalkan dosa, dan hidup dalam terang Tuhan,” tuturnya.

Ia juga mengajak umat untuk sungguh-sungguh memperbaharui janji baptis dengan meninggalkan kebiasaan lama yang tidak sesuai dengan iman Kristiani.

“Melalui pembaharuan janji baptis, kita bangkit menjadi pribadi yang baru. Tinggalkan yang tidak baik, dan hiduplah dalam semangat mengikuti Kristus,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Pastor Emanuel juga mendorong keluarga-keluarga untuk membuka diri terhadap panggilan hidup membiara atau imamat demi keberlangsungan pelayanan Gereja di masa depan.

“Kalau Tuhan memanggil, jangan ragu untuk memberikan yang terbaik, termasuk anak-anak kita, untuk melayani Tuhan dan umat-Nya,” ujarnya.

Usai homili, perayaan dilanjutkan dengan liturgi pembaptisan dan pembaharuan janji iman yang diikuti seluruh umat dengan penuh kesadaran dan harapan baru.

Dalam sambutannya setelah perayaan, Pastor Emanuel menyampaikan apresiasi kepada umat yang telah mengikuti seluruh rangkaian misa dengan tertib dan penuh penghormatan.

Ia juga berpesan agar umat Stasi Santa Monika Bori terus meneguhkan iman serta meneladani semangat para pendahulu Gereja yang telah merintis kehidupan iman di wilayah tersebut.

“Terima kasih atas kebersamaan dan ketertiban umat. Semoga iman kita semakin diteguhkan, dan semangat para pendahulu menjadi inspirasi untuk terus membangun kehidupan menggereja,” ucapnya.

Pewarta: Charles Fatie

About Author

Comments are closed.