Browsing: Cerpen

Pemerkosaan Tentara Jepang di Goa Binsari

CERPEN – Melewati Bukit Pintu Angin, Okto bertemu pohon-pohon hijau bertumbuh lebat. Okto baru sampai di atas bukit, sorot matanya tertuju pada pintu pagar besi yang sudah tertutup. Apakah Okto bisa masuk, belum tentu. Okto mengecek jam di layar telepon genggam, sudah pukul 18.12 sore, hampir malam. Okto membuka aplikasi Google untuk cek jam operasional…

Film Anaktana dan Spirit Layar Tumbuh Papua

MEMOAR – Senin, 15 Desember 2025, pukul 19.02, saya baru sampai di KediAMan Indonesia Art Movement untuk menyaksikan pemutaran kompilasi film pendek yang akan ditayangkan dengan nama program “Layar Tumbuh Papua”. Saya turun perlahan dengan langkah santai ke rumah putih yang hampir menempel pada Tugu Theys Eluay. Dari jalan utama saya turun dari ojek, jarak…

Hari Ketiga di Biak: Monumen Perang ke Mimpi Insos

MEMOAR PERJALANAN – Saya terbangun pukul 07:12, di luar kamar hotel hujan gerimis sudah jatuh di atas daun pepohonan dan tanah. Saya duduk di ujung tempat tidur dan berpikir, hari ini saya harus pergi ke mana setelah kemarin di hari kedua saya di Biak pergi ke Goa Jepang di kampung Binsai. Hujan sudah berhenti kami…

Hari Kedua di Biak: Tidak Ada Orang Mabuk?

MEMOAR PERJALANAN – Malam kedua datang dengan sesuatu yang saya masih melihat berbeda, masih sama dengan malam pertama yang saya sudah cerita kemarin, mungkin karena baru pertama kali ke kota Biak sehingga saya masih melihat kota Biak dengan mata yang berbeda dengan kota lain yang saya perna berkunjung. Saya baru satu hari setelah tiba kemarin…

Hari Pertama di Biak: Sunyi yang Menggugah

MEMOAR PERJALANAN – Kami sudah duduk dalam pesawat Lion Air menuju kota Biak yang belum pernah saya injak sekalipun. Saya hanya sering mendengar orang-orang bicara tentang Daun Bungkus, Amroben, Insos, Goa Jepang, dan keindahan pantainya. Okey, saya akan bertemu dan melihat semua itu dengan mata kepala sendiri. Apakah benar kata mereka? Mari ikuti dan lihat…

Bayang-Bayang Teroris dan Cahaya Maria

CERPEN – Terasa berbeda hidup di kota yang mulai dibangun manusia-manusia bule pada tahun 1616. Satu bulan hanya dalam rumah gelap, tanpa cahaya listrik, cahaya matahari, dan cahaya bulan. Sa terisolasi dalam pikiran—makan, minum, berak, dan kencing hanya dalam rumah tanpa pintu dan jendela. Gelap menutupi mata, telinga, dan rasa. Sesekali cahaya datang ketika layar…

Boaz Masih Hidup di Tribun Timur

ESAI NARATIF – “Jimi yang bawa pickup hitam itu, ikut dia dari belakang saja,” ajak Marinus pada Balfi yang duduk di belakang kemudi mobil putih kami. Semua orang menunggu di bawah terik matahari, kebanyakan berkostum Persipura: hitam dan putih—dua warna yang menyatukan eksistensi orang Papua, darah dan kulit. Stadion Lukas Enembe kembali ramai seperti pertandingan…

Perpustakaan Universitas Papua Sudah Dirampok

CERPEN – Sudah hampir satu tahun Paul berjanji pada dirinya kalau suatu saat akan merampok Perpustakaan Universitas Papua (PUP). Ide merampok itu muncul setelah Paul melihat Perpustakaan Universitas Papua selalu saja terlihat sunyi dari aktivitas mahasiswa dan dosen yang menyukai buku. Beberapa kali Paul lakukan pertemuan  dengan kepala Perpustakaan Universitas Papua, Cleaning Service, Tikus-Tikus dan…

1 2 3 7