Di sebuah lapangan futsal yang riuh oleh sorak sorai, nama Fajar Suryana bukan lagi sekadar panggilan. Ia telah menjadi bagian dari cerita panjang futsal di Kabupaten Fakfak, tentang mimpi, tentang perjuangan, dan tentang harapan yang tak pernah padam.
Menjelang Kongres III Asosiasi Futsal Kabupaten (AFKAB) Fakfak pada 11 Maret 2026, sosok Fajar mencuat dalam bursa calon ketua. Namun bagi banyak pencinta futsal, ia bukan nama baru yang tiba-tiba muncul saat momentum politik olahraga datang. Ia telah lama ada di tribun, di pinggir lapangan, bahkan di balik layar ketika sebuah tim membutuhkan uluran tangan.
Fajar dikenal sebagai pemuda yang royal dan mencintai futsal sepenuh hati. Ia tidak jarang merogoh kocek pribadi untuk mendukung tim-tim lokal. Sejumlah klub yang ia sponsori mampu menorehkan prestasi, membawa pulang trofi dari berbagai turnamen di Fakfak. Baginya, kemenangan tim adalah kebahagiaan bersama.
Langkahnya tak berhenti di tingkat lokal. Dengan biaya pribadi, ia pernah membawa tim futsal Fakfak berlaga di Kota Sorong, Papua Barat Daya. Perjalanan itu bukan sekadar mengikuti pertandingan, tetapi membawa nama daerah agar tetap diperhitungkan di kancah regional.
Sebagai pengusaha muda pemilik usaha meubel modern, Fajar terbiasa mengelola manajemen dan membangun jejaring. Namun di dunia futsal, yang ia bangun bukan hanya sistem, melainkan semangat. Ia kerap berbicara tentang regenerasi, tentang pentingnya memberi ruang bagi anak muda Fakfak untuk tampil, berkarier, dan memimpin.
“Ini waktunya anak muda diberi kesempatan. Futsal harus menjadi jati diri Fakfak di kancah nasional,” ujarnya dalam sebuah wawancara.
Ia menyadari, jalan menuju kebangkitan tidak mudah. Masih ada kendala dalam tata kelola, kompetisi, hingga kualitas perangkat pertandingan. Karena itu, ia menggagas pembenahan menyeluruh: kompetisi yang lebih terstruktur, pembinaan berjenjang, serta dorongan agar wasit dan perangkat pertandingan memiliki lisensi resmi demi profesionalisme.
Bagi sebagian orang, Fajar adalah representasi generasi baru, generasi yang tak hanya berbicara perubahan, tetapi telah memulai langkah sejak lama. Di tengah kenangan masa ketika Fakfak pernah dikenal sebagai salah satu kekuatan futsal di Indonesia Timur, harapan itu kembali mengemuka.
Kongres nanti memang akan menentukan arah organisasi. Namun di luar ruang sidang, di lapangan tempat keringat dan mimpi bertemu, publik futsal Fakfak sedang menimbang satu hal sederhana: siapa yang paling sungguh-sungguh mencintai permainan ini.
Dan di sana, nama Fajar Suryana kembali disebut bukan hanya sebagai calon, tetapi sebagai harapan.