Share

Fakfak, majalahkribo.com  — Bupati Fakfak, Samaun Dahlan, menegaskan bahwa persoalan air bersih menjadi prioritas utama pemerintah daerah, khususnya di Distrik Pariwari. Hal tersebut disampaikan saat memberikan arahan dalam kegiatan Musrenbang distrik yang dihadiri anggota DPRK, kepala kampung, lurah, serta masyarakat, Kamis (12/3/2026).

Dalam arahannya, Bupati menyebut kebutuhan air bersih merupakan masalah mendasar yang paling sering dikeluhkan masyarakat, terutama saat musim kemarau. Menurutnya, banyak warga terpaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air karena pasokan tidak lancar.

“Musrenbang kali ini saya fokus dua hal, yaitu air bersih dan listrik. Air bersih ini sangat penting karena masyarakat sering kesulitan kalau tidak hujan beberapa hari,” ujar Bupati.

Ia menjelaskan, pemerintah daerah telah menyiapkan langkah konkret dengan menggandeng perguruan tinggi untuk mencari sumber air baru, termasuk melalui pengeboran sumur dalam.

Bupati mengungkapkan bahwa pemerintah telah menandatangani kerja sama dengan Institut Teknologi Bandung untuk melakukan penelitian sumber air bawah tanah guna mengatasi kekurangan air di Fakfak.

“Kami sudah tanda tangan kerja sama dengan ITB. Mereka punya teknologi untuk mencari sumber air di bawah tanah. Tahun ini kita mulai dengan beberapa titik sumur bor,” jelasnya.

Menurut Bupati, program air bersih akan menjadi fokus utama hingga 2027 tanpa mengabaikan program pembangunan lainnya. Ia meminta aparat distrik, kampung, dan masyarakat ikut mendukung saat tim teknis turun ke lapangan.

Selain itu, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin masyarakat terus bergantung pada hujan sebagai satu-satunya sumber air.

“Kalau kita hanya berharap hujan, kapan majunya. Pemerintah harus siapkan sumber air yang pasti supaya masyarakat tidak kesulitan lagi,” tegasnya.

Diketahui sebelumnya, Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara, dan Bupati Fakfak Samaun Dahlan menandatangani nota kesepahaman pada 11 Februari 2026 di Rektorat ITB. Kesepakatan tersebut mencakup kerja sama di bidang pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, penelitian dan teknologi, serta dukungan terhadap percepatan pembangunan daerah.

Prof. Tatacipta menyebut sebagian besar wilayah Papua memiliki potensi sumber daya alam besar, namun pengelolaan sumber daya manusia masih menjadi tantangan yang harus dikerjakan bersama melalui kolaborasi.

Tahap awal program pencarian sumber air akan dilaksanakan di tiga distrik, yaitu Distrik Fakfak, Distrik Pariwari, dan Distrik Fakfak Tengah. Pemerintah berharap pendekatan berbasis kajian akademik dapat memastikan titik pengeboran tepat sasaran, debit air mencukupi, serta sistem yang dibangun dapat bertahan dalam jangka panjang.

Dalam sambutannya, Bupati juga menyoroti dampak ekonomi akibat keterbatasan air bersih. Ia menggambarkan kondisi mama-mama pedagang pasar yang berpenghasilan harian terbatas namun masih harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air.

Menurutnya, penyediaan air bersih bukan hanya soal pembangunan infrastruktur, tetapi juga bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Fakfak menargetkan penanganan air bersih dilakukan secara bertahap hingga 2027, dengan dukungan kebijakan dan penganggaran yang konsisten. Selain pembangunan sumur bor, penguatan sistem distribusi dan pemeliharaan infrastruktur juga akan menjadi bagian dari perencanaan.

Melalui sinergi antara pemerintah daerah dan institusi akademik, diharapkan kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi secara merata di seluruh distrik.

Dengan komitmen tersebut, isu air bersih tidak lagi sekadar menjadi pembahasan rutin dalam Musrenbang, tetapi diarahkan menjadi program strategis dengan solusi yang konkret dan terukur demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat Fakfak.

Comments are closed.