Maybrat, majalahkribo.com – Semangat menjaga kelestarian alam menjadi kado istimewa dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-70 Paroki Santo Yoseph Ayawasi. Sebanyak 2.000 bibit pohon ditanam secara simbolis di pelataran Gereja Katolik Santo Yoseph Ayawasi oleh jajaran Pemerintah Daerah bersama berbagai pemangku kepentingan sebagai wujud sykur dan aksi nyata melawan krisis iklim, Selasa (17/2/2026).
Aksi ekologis ini merupakan buah kolaborasi strategis antara Panitia HUT Paroki Santo Yoseph Ayawasi dengan Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat Daya. Dalam kegiatan ini, disediakan tiga jenis vegetasi unggulan yang mencakup tanaman produktif dan peneduh, yakni bibit rambutan, mangga, serta pohon Armon, yang diproyeksikan untuk memperkuat sabuk hijau di wilayah tersebut.
Suasana berlangsung khidmat sekaligus meriah, dihadiri langsung oleh Bupati Maybrat Karel Murafer, Sekda Maybrat Ferdinandus Taa, Dandim 1809/Maybrat Letkol Inf Arif Setyo Hutomo, Kapolres Maybrat Kompol Ruben Obeth Kbarek, Anggota DPD-RI Agustinus R Kambuaya serta jajaran Pimpinan dan Anggota DPRK Maybrat. Turut hadir Ir. Sarteis Yulian Sagrim, S.Hut., MM, selaku Kabid DAS dan Perhutanan Sosial Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat Daya, bersama para Imam dan umat di wilayah paroki setempat.
Dalam arahannya, Bupati Maybrat, Karel Murafer, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif panitia yang menyinergikan perayaan iman dengan pelestarian lingkungan. Menurutnya, aksi ini bukan sekadar seremonial belaka, melainkan sebuah langkah preventif dan konkret dalam memitigasi kerusakan lingkungan serta menjamin ketersediaan sumber daya alam bagi generasi masa depan di Maybrat.
“Momentum menyongsong HUT Paroki Santo Yoseph Ayawasi pada Maret 2026 ini kita maknai dengan aksi nyata bagi alam. Kita harus menyadari sepenuhnya bahwa penghijauan ini sangat krusial; tanpa keberadaan hutan yang hijau, kita akan kehilangan cadangan air dan sungai-sungai kita terancam kering. Menjaga hutan adalah wujud nyata kita dalam menjaga denyut kehidupan itu sendiri,” tegas Karel Murafer.
Lebih jauh, Bupati menyoroti tantangan geografis di Maybrat yang memerlukan perhatian serius, khususnya pada area kritis di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS). Ia mengambil contoh kondisi Danau Ayamaru yang kini mulai mengalami penurunan tutupan vegetasi dan membutuhkan tindakan pemulihan segera.
“Saya mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk para putra daerah yang berkiprah di tingkat pusat maupun provinsi, untuk menumbuhkan rasa peduli yang sama. Mari kita bahu-membahu menghijaukan kembali tanah kelahiran kita melalui reboisasi, agar alam Maybrat kembali asri dan sejuk sebagaimana kejayaan masa lalu,” tambahnya penuh harap.
Karel juga memberikan motivasi kepada warga mengenai korelasi positif antara kelestarian lingkungan dan kesejahteraan ekonomi. Berdasarkan pengalamannya dalam mengelola lahan perkebunan secara mandiri, ia meyakini bahwa pohon produktif yang dirawat dengan baik dapat menjadi tumpuan ekonomi yang sangat menjanjikan bagi masyarakat lokal.
“Penghijauan ini membawa manfaat ganda: pelestarian alam sekaligus penguatan ekonomi. Jika kita tekun menanam duku, durian, atau rambutan, hasilnya bisa bernilai ratusan juta rupiah bagi keluarga. Oleh karena itu, mari kita menanam hari ini agar kita bisa memanen kehidupan yang lebih baik di masa depan,” pungkasnya sesaat sebelum melakukan penanaman simbolis di halaman Gereja Katedral Santo Yoseph Ayawasi.
Sementara itu, Kabid DAS dan Perhutanan Sosial Dinas Kehutanan PBD, Sartais Yulian Sagrim, mengatakan aksi ini merupakan respon cepat terhadap krisis iklim global. Mengutip peringatan dari Sekretaris Jenderal PBB, ia mengingatkan bahwa dunia saat ini telah melampaui fase pemanasan global dan sedang memasuki era “bumi yang mendidih” (global boiling).
“Kita memikul tanggung jawab iman untuk melestarikan ciptaan. Sebagaimana tertuang dalam kitab kejadian, manusia diberi mandat oleh Sang Pencipta untuk mengelola dan memelihara bumi. Menanam pohon adalah manifestasi ketaatan kita dalam menjalankan tugas tersebut demi menjamin keberlangsungan hidup anak cucu kita di masa depan,” ungkap Sartais.
Ia juga menjelaskan bahwa seluruh bibit yang didistribusikan melalui dukungan Yayasan Penabulu Foundation merupakan varietas unggul bersertifikat, seperti Mangga Arum Manis dan Rambutan Rafia hasil teknologi okulasi yang menjamin kualitas buah yang dihasilkan.
“Ini adalah bibit berkualitas tinggi yang kami hadirkan agar dalam 4 hingga 5 tahun mendatang, Maybrat tidak hanya menjadi hijau, tetapi juga bertransformasi menjadi sentra produksi buah unggulan di Papua Barat Daya. Kami telah menyebar sekitar 12.000 bibit di wilayah Maybrat dengan optimisme besar bahwa daerah ini akan menjadi penyuplai utama buah-buahan bagi provinsi ini,” imbuhnya.
Sartais turut memberikan apresiasi kepada Panitia HUT ke-70 Paroki Santo Yoseph Ayawasi yang telah berhasil mengintegrasikan nilai-nilai iman religius dengan gerakan ekologis yang berdampak luas.
“Kami berterima kasih kepada pihak Paroki yang telah bersedia menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga paru-paru dunia, sekaligus berupaya membangun kemandirian ekonomi umat melalui sektor perhutanan sosial,” tuturnya menutup sambutan.
Ketua Panitia HUT, Leonardus Kore, S.Hut, menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan kado istimewa bagi tujuh dekade perjalanan iman Paroki Ayawasi. Ia menjelaskan bahwa pohon pelindung jenis Armon difokuskan untuk menghijaukan jalur dari Ayawasi hingga ke area sakral Gua Maria Trenaboh, sementara bibit buah dibagikan secara merata kepada umat untuk dikelola secara mandiri.
“Langkah penghijauan ini adalah upaya kolektif kami untuk memitigasi dampak buruk perubahan iklim. Kami ingin memastikan lingkungan di sekitar paroki tetap sejuk dan asri, sehingga menjadi tempat yang nyaman bagi umat untuk bertumbuh,” jelas Leonardus.
Senada dengan itu, Pastor Paroki, Felix Janggur, OSA, memberikan penekanan dari aspek spiritualitas ekologi. Ia menegaskan bahwa merawat bumi adalah bagian tak terpisahkan dari tanggung jawab iman dalam menjaga “Rumah Kita Bersama” sebagaimana ajaran gereja.
“Melalui semangat HUT ke-70 ini, saya mengajak seluruh umat untuk menjadikan menanam sebagai gerakan berkelanjutan. Kita hijaukan kembali wilayah Paroki dengan tanaman produktif demi kebaikan dan kesejahteraan hidup kita bersama di masa yang akan datang,” pesannya.
Berdasarkan pantauan di lokasi, masyarakat menyambut kegiatan ini dengan antusiasme yang luar biasa. Suasana kegembiraan terlihat jelas saat warga secara tertib mengantre untuk membawa pulang bibit tanaman yang dibagikan oleh panitia. Bagi mereka, bibit ini bukan sekadar bantuan, melainkan simbol harapan yang akan mereka tanam dan rawat di pekarangan rumah masing-masing sebagai bagian dari komitmen bersama menjaga lingkungan.
Aksi penanaman 2.000 pohon ini menjadi cerminan harmonisasi yang kuat antara komitmen religius dan tanggung jawab sosial terhadap alam. Melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Pemerintah Kabupaten Maybrat, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, dan Gereja Katolik, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi pemantik bagi gerakan reboisasi yang lebih luas. Selain bertujuan memulihkan ekosistem dan menjaga ketersediaan air di DAS, program ini juga meletakkan fondasi ekonomi hijau yang berkelanjutan bagi masyarakat Ayawasi melalui pengembangan tanaman buah unggulan.
Pewarta: Charles Fatie