Share

Depok, majalahkribo.com – Konsolidasi Nasional (Konsolnas) Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2026 menjadi momentum strategis bagi dunia pendidikan di Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Di tengah tantangan geografis dan keterbatasan sarana, daerah ini terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan layanan pendidikan yang adil dan bermutu bagi setiap anak.

Kegiatan Konsolnas Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2026 secara resmi dibuka pada Senin, 9 Februari 2026, dan berlangsung selama tiga hari hingga Rabu, 11 Februari 2026, bertempat di Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di Depok.

Forum nasional ini dihadiri pimpinan Komisi X DPR RI, Komite III DPD RI, enam menteri dan kepala lembaga, 76 kepala dinas pendidikan provinsi, serta 514 kepala dinas pendidikan kabupaten/kota dari seluruh Indonesia. Selain itu, turut hadir organisasi profesi, mitra pembangunan, atase pendidikan, serta pusat-pusat SEAMEO.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Fakfak, Saleh Hindom, menyatakan bahwa Konsolnas 2026 menjadi ruang penting untuk menyampaikan aspirasi daerah, khususnya wilayah dengan karakteristik 3T (terdepan, terluar, tertinggal).

“Harapannya, kebijakan yang dirumuskan benar-benar mempertimbangkan kondisi riil di lapangan, sehingga dapat membawa perubahan nyata bagi pendidikan di Fakfak,” ujarnya.

Pratikno, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, dalam sambutannya menegaskan bahwa pendidikan merupakan prioritas nasional sebagaimana diarahkan oleh Prabowo Subianto.

“Pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan manusia Indonesia yang tangguh menghadapi disrupsi digital dan perubahan iklim,” kata Pratikno saat membuka kegiatan, Senin (9/2).

Konsolnas 2026 mengusung tema “Memperkuat Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua” dan membahas sembilan isu strategis melalui sidang komisi, antara lain Wajib Belajar 13 Tahun dan pemerataan kesempatan pendidikan, pembangunan dan revitalisasi satuan pendidikan, digitalisasi pembelajaran, evaluasi Tes Kemampuan Akademik (TKA), pemutakhiran Data Pokok Pendidikan (DAPODIK), penguatan pendidikan karakter dan manajemen talenta, tata kelola guru dan tenaga kependidikan, kedaulatan Bahasa Indonesia dan revitalisasi bahasa daerah, serta pembelajaran mendalam, koding, kecerdasan artifisial, dan bimbingan konseling.

Bagi Fakfak, isu penguatan infrastruktur dan peningkatan kapasitas guru menjadi perhatian utama. Masih terdapat satuan pendidikan yang membutuhkan perbaikan ruang kelas, fasilitas sanitasi, serta dukungan sarana belajar. Selain itu, akses pelatihan dan pengembangan profesional bagi guru di wilayah terpencil juga dinilai perlu diperluas.

Digitalisasi pendidikan turut menjadi tantangan tersendiri. Keterbatasan jaringan internet dan perangkat teknologi berpotensi menimbulkan kesenjangan baru apabila tidak diimbangi dengan kesiapan infrastruktur yang memadai. Karena itu, transformasi digital diharapkan dirancang secara bertahap dan adaptif sesuai kondisi daerah.

Di tengah berbagai keterbatasan, inovasi terus dilakukan. Para guru di Fakfak mengembangkan pembelajaran kontekstual berbasis lingkungan serta penguatan karakter melalui pendekatan budaya lokal.

Konsolnas 2026 diharapkan tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga menghasilkan rekomendasi konkret yang berdampak langsung hingga ke daerah pelosok. Dari Fakfak, pesan itu disampaikan dengan tegas, di tengah tantangan apa pun, pendidikan harus tetap menjadi jembatan harapan bagi generasi masa depan.

Editor: Ronaldo Josef Letsoin

Comments are closed.