Share

Di Fakfak, kepemimpinan tidak selalu diukur dari seberapa lantang seorang pemimpin berbicara. Ia lebih sering dinilai dari seberapa dekat ia berjalan bersama rakyatnya. Di titik inilah nama Samaun Dahlan menemukan maknanya.

Menjabat sebagai Bupati Fakfak periode 2025–2030, Samaun Dahlan hadir bukan sebagai figur yang lahir dari kemewahan kekuasaan, melainkan dari perjalanan hidup yang ditempa kerasnya realitas. Jauh sebelum dikenal sebagai birokrat dan politisi, ia pernah menjalani hidup dari bawah, menjadi kondektur dan penjual ikan. Pengalaman itulah yang membentuk caranya memandang rakyat: bukan sebagai angka statistik, tetapi sebagai manusia dengan kebutuhan dan harapan nyata.

Perjalanan pengabdian Samaun Dahlan dimulai sebagai aparatur sipil negara di Kabupaten Biak Numfor. Di sanalah ia belajar tentang disiplin birokrasi, tanggung jawab pelayanan publik, dan arti bekerja senyap tanpa sorotan. Biak menjadi sekolah awal yang membentuk etos kerjanya, tekun, sabar, dan bertanggung jawab.

Pengalaman itu kemudian ia bawa ke Kabupaten Fakfak, tempat ia mengabdikan diri lebih lama dan membangun reputasi sebagai birokrat berpengalaman. Puncaknya, ia dipercaya menjabat Kepala Dinas PUPR2KP Kabupaten Fakfak, posisi strategis yang menempatkannya langsung di jantung persoalan pembangunan dan infrastruktur daerah.

Lahir di Tongowai, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, Samaun Dahlan mungkin bukan Fakfak secara geografis. Namun pengabdian panjangnya menjadikannya Fakfak secara sosial dan moral. Ia membangun karier, keluarga, dan jejaring sosial di tanah ini. Masyarakat melihatnya bukan sebagai orang luar, tetapi sebagai bagian dari denyut kehidupan Fakfak itu sendiri.

Sejak dilantik pada 20 Februari 2025, arah kepemimpinan Samaun Dahlan terlihat jelas: negara harus hadir dalam urusan paling dasar rakyat. Program pendidikan gratis, layanan berobat gratis, serta penyediaan makan bagi pendamping pasien di seluruh Puskesmas bukan sekadar kebijakan populis, melainkan refleksi dari empati yang lahir dari pengalaman hidupnya sendiri.

Dalam situasi krisis, seperti kebakaran pasar yang menimpa pedagang kecil, pemerintahannya bergerak cepat, memberikan bantuan, santunan, dan memfasilitasi tempat usaha sementara. Bagi masyarakat, ini adalah tanda bahwa pemimpinnya tidak menunggu rakyat datang mengadu, tetapi hadir lebih dulu.

Di tengah keberagaman Fakfak, Samaun Dahlan menjadikan filosofi “Satu Tungku Tiga Batu” sebagai fondasi kepemimpinannya. Nilai toleransi, persaudaraan, dan keseimbangan sosial ia rawat bukan hanya dalam pidato, tetapi dalam kebijakan dan sikap sehari-hari.

Penataan kota, penertiban kawasan bisnis, serta percepatan pembangunan infrastruktur dasar dijalankan dengan tujuan yang sama; menciptakan Fakfak yang tertib, manusiawi, dan berkeadilan.

Kepercayaan sebagai Ketua DPD Partai Golkar Papua Barat sejak November 2025 memperluas ruang pengabdiannya. Namun peran politik itu tidak menjauhkannya dari rakyat. Justru ia manfaatkan sebagai jalur strategis untuk memperjuangkan kepentingan Fakfak di tingkat provinsi dan nasional.

Bagi masyarakat Fakfak, Samaun Dahlan adalah bukti bahwa kesederhanaan bukan kelemahan, melainkan kekuatan moral. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kejujuran pada asal-usul, kesediaan mendengar, dan keberanian mengambil tanggung jawab.

Di tengah dinamika Fakfak hari ini, sosok Samaun Dahlan dipandang sebagai pemimpin yang membumi, bekerja senyap, dan setia pada nilai kemanusiaan. Dan dari sanalah tumbuh rasa bangga, bahwa Fakfak dipimpin oleh seseorang yang memahami rakyatnya, karena ia pernah berjalan di jalan yang sama.

About Author

Comments are closed.