Share

Maybrat, majalahkribo.com — Suasana penuh sukacita, haru, dan kekhidmatan menyelimuti Jemaat Gereja Kristen Injili (GKI) Kanaan Sory, Klasis Aifat, Kabupaten Maybrat, saat secara resmi memfungsikan gedung gereja baru, Kamis (5/2/2026). Peresmian dan pentahbisan gedung gereja tersebut disatukan dengan perayaan syukur Hari Ulang Tahun (HUT) ke-171 Pekabaran Injil di Tanah Papua.

Sejak pagi hari, ratusan jemaat bersama tamu undangan telah memadati area gapura penyambutan. Dengan balutan busana adat dan iringan musik tradisional, kelompok penari menampilkan tarian penyambutan khas Maybrat sebagai simbol sukacita, penghormatan, serta ungkapan syukur atas peresmian rumah ibadah yang telah lama dinantikan jemaat.

Tarian adat tersebut menyambut kedatangan Wakil Ketua III BP-AM Sinode GKI di Tanah Papua, Ny. Naomy Howay Sagrim, yang hadir mewakili Ketua BP-AM Sinode, Bupati Maybrat Karel Murafer, mantan Bupati Maybrat Bernard Sagrim, Kapolres Maybrat, unsur TNI-Polri, para pendeta, tokoh adat, serta undangan lainnya.

Usai penyambutan adat, Bupati Maybrat beserta rombongan kemudian diarak oleh kelompok penari menuju gedung gereja lama Jemaat GKI Kanaan Sory. Di tempat tersebut dilaksanakan ibadah singkat sebagai bagian dari prosesi sakral pemindahan alat-alat sakramen dan kelengkapan pelayanan dari gedung gereja lama ke gedung gereja baru.

Prosesi ini menandai berakhirnya masa persekutuan jemaat selama 14 tahun di gedung gereja lama dan menjadi simbol peralihan menuju babak baru pelayanan jemaat di gedung gereja yang baru.

Dari gedung gereja lama, rombongan kembali diarak menuju gedung gereja baru. Setibanya di depan gedung, prosesi adat kembali dilakukan. Pemilik hak ulayat secara simbolis menyerahkan kunci gedung gereja kepada Ketua Klasis Aifat, yang selanjutnya menyerahkannya kepada Wakil Ketua III BP-AM Sinode GKI di Tanah Papua. Penyerahan ini menegaskan bahwa gedung gereja tersebut secara resmi menjadi milik Sinode GKI di Tanah Papua.

Wakil Ketua III BP-AM Sinode GKI di Tanah Papua kemudian mempersilakan Bupati Maybrat Karel Murafer untuk memimpin pengguntingan selubung papan nama gedung gereja, yang disambut tepuk tangan jemaat. Prosesi dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti peresmian oleh Wakil Ketua III BP-AM Sinode dan Bupati Maybrat, masing-masing dilakukan di sisi kiri dan kanan prasasti sebagai tanda peresmian resmi gedung gereja.

Di depan pintu utama gedung gereja baru, para pendeta berdiri berjejer dan melakukan penumpangan tangan, memohon berkat Tuhan atas gedung gereja yang akan digunakan sebagai tempat peribadahan. Setelah itu, pintu gereja secara resmi dibuka oleh Wakil Ketua III BP-AM Sinode GKI di Tanah Papua dan jemaat dipersilakan masuk untuk mengikuti rangkaian ibadah syukur pentahbisan gedung gereja sekaligus ibadah syukur HUT ke-171 Pekabaran Injil di Tanah Papua.

Dalam sambutan pribadinya, Wakil Ketua III BP-AM Sinode GKI di Tanah Papua, Ny. Naomy Howay Sagrim menegaskan, tahun pelayanan GKI ditetapkan sebagai tahun kepedulian.

“Kita orang GKI hanya dituntut dua hal oleh Tuhan, yaitu peduli terhadap sesama dan peduli terhadap lingkungan. Jangan tebang pohon sembarang, jangan karena mau uang lalu kita rusak alam. Kalau kepedulian sudah hilang, maka persekutuan juga akan rusak,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun kepedulian mulai dari keluarga sebagai dasar kehidupan berjemaat.

“Kalau di rumah kita baku marah, baku ribut, kita tidak akan datang beribadah dengan damai dan sukacita. Gereja sudah bagus, canggih, tapi datang sembahyang harus dengan hati yang bersih, bukan hati yang penuh amarah,” tegasnya.

Selain itu, ia mendorong keterlibatan generasi muda dalam pelayanan gereja, khususnya dalam penjaringan majelis jemaat.

“Majelis di jemaat ini hanya tiga orang. Yang tua-tua ini masih semangat, lalu anak-anak muda ke mana? Jangan lari dari panggilan Tuhan. Tahun-tahun ke depan, saya harap bukan tiga lagi, tapi bisa lima sampai sepuluh majelis karena jemaat ini besar,” katanya.

Sementara itu, Bupati Maybrat Karel Murafer dalam sambutannya menyampaikan bahwa peresmian dan pentahbisan Gedung Gereja GKI Kanaan Sory merupakan momentum yang sangat istimewa karena bertepatan dengan peringatan 171 tahun masuknya Injil ke Tanah Papua.

“Peristiwa ini jarang terjadi, karena peresmian gereja bertepatan dengan peringatan Injil masuk ke Tanah Papua. Momentum ini mengusung tema pertobatan yang mendatangkan berkat,” ujar Karel Murafer.

Bupati berharap gedung gereja baru ini menjadi pusat pembinaan iman jemaat serta tempat mempererat persekutuan dalam beribadah, bersaksi, dan melayani Tuhan.

“Gereja ini harus menjadi tempat umat mencari keselamatan, menerima berkat, dan memperkuat iman. Dari gereja inilah lahir kehidupan masyarakat yang rukun dan damai,” tambahnya.

Ia juga menegaskan bahwa kondisi keamanan di wilayah Aifat Timur dan Aifat Selatan tetap kondusif selama sebelas bulan masa kepemimpinannya, berkat dukungan masyarakat dan sinergi bersama TNI dan Polri.

“Kami melakukan pendekatan melalui gereja Katolik, GKI, dan denominasi lainnya. Saya menjamin kondisi keamanan daerah berlangsung 1×24 jam,” tegas Bupati.

Gedung Gereja GKI Kanaan Sory dibangun di atas lahan berukuran 20 x 100 meter, dengan ukuran bangunan 12 x 28 meter persegi. Pembangunan gereja yang memakan waktu sekitar sembilan tahun ini diawali dengan peletakan batu pertama oleh Pdt. Dorce Assem.

Sumber dana pembangunan berasal dari Pemerintah Kabupaten Maybrat sebesar Rp150 juta, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya sebesar Rp300 juta, serta swadaya jemaat dan keluarga besar sebesar sekitar Rp1,6 miliar, dengan sisa saldo Rp500 ribu. Sementara itu, biaya pelaksanaan peresmian gereja dilaporkan mencapai lebih dari Rp200 juta.

Dengan diresmikannya gedung gereja baru ini, Jemaat GKI Kanaan Sory secara resmi melaksanakan ibadah perdana di gedung baru bertepatan dengan perayaan HUT ke-171 Pekabaran Injil di Tanah Papua, menandai tonggak sejarah baru dalam perjalanan iman dan pelayanan GKI di Kabupaten Maybrat.

Pewarta: Charles Fatie

About Author

Comments are closed.